Sabda Nabi S.A.W "Sampaikan dari Ku walau pun satu ayat"

Buku Pelawat

Topik Panas

Rabu, November 26, 2014

Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW


Maulidur Rasul

maulidur rasul 1

Kegiatan Maulid Nabi belum dilaksanakan pada zaman Nabi, tetapi pekerjaan itu dianjurkan oleh Allah dan Rasul-Nya secara umum. Walaupun tidak ada nash yang nyata tetapi secara tersirat Allah dan Rasul-Nya menyuruh kaum muslimin untuk merayakan suatu hari yang menjadi peringatan-peringatan seperti Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj, Nuzulul Qur’an, tahun baru Islam, hari Asyura’ dan lain-lain.[1]

Di antara 40 dalil yang menjadi dasar Maulid Nabi antara lain:

“Dari Ibnu Abbas ra. Beliau berkata: bahwasanya Rasulullah ketika di Madinah beliau dapat orang Yahudi puasa pada hari Asyura, maka Nabi bertanya kepada mereka: hari apakah yang kamu puasakan ini? Jawab mereka: ini hari besar di mana Allah telah membebaskan Musa dan kaumnya, maka Musa berpuasa pada hari semacam ini karena bersyukur kepada Allah dan kamipun mempuasakan pula untuk menghormati Musa disbanding kamu. Maka Nabi berpuasa pada hari Asyura itu dan beliau menyuruh umat Islam untuk berpuasa pada hari itu.” (HR. Bukhari Muslim)[2]

Al-Hafid Ibnu Hajar Asqalani yaitu pengarang Shahih Bukhari yang bernama Fatkhul Bari’ mengatakan bahwa dari hadis tersebut dapat dipetik hukum:

1. Umat Islam dibolehkan bahkan dianjurkan agar memperingati hari-hari bersejarah, hari-hari yang dianggap besar seperti Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj dan lain-lain.

2. Nabi pun memperingati hari karamnya Fir’aun dan bebasnya Musa dengan melakukan puasa Asyura sebagai rasa syukur atas hapusnya yang bathil dan tegaknya yang hak.[3]

Selanjutnya dalil yang berkaitan dengan Maulid Nabi sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah SWT. Surat al-A’raf ayat 157:

“(yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, Nabi yang Ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-A’raf: 157).

Dalam ayat ini dinyatakan dengan tegas bahwa orang yang memuliakan Nabi Muhammad SAW, adalah orang yang beruntung. Merayakan Maulid Nabi termasuk dalam rangka memuliakannya. Ayat di atas sangat umum dan luas. Artinya, apa saja yang dikerjakan kalau diniatkan untuk memuliakan Nabi maka akan mendapat pahala. Yang dikecualikan ialah kalau memuliakan Nabi dengan suatu yang setelah nyata haramnya dilarang oleh Nabi seperti merayakan Maulid Nabi dengan judi, mabuk-mabukan dan lain sebagainya.[4]

Perayaan Maulid Nabi diperkirakan pertama kali diperkenalkan oleh Abu Said al-Qakburi, seorang gubernur Irbil, di Irak, pada masa pemerintahan Sultan Salahuddin al-Ayyubi (1138-1193M). Adapula yang berpendapat bahwa idenya sendiri justru berasal dari Sultan Salahuddin sendiri. Tujuannya adalah untuk membangkitkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, serta meningkatkan semangat juang kaum muslimin saat itu, yang sedang terlibat dalam Perang Salib melawan pasukan Kristen Eropa dalam upaya memperebutkan kota Yerusalem.

Fakta yang sesungguhnya dari kehidupan Rasulullah SAW menegaskan bahwa tidak ada riwayat yang menyebutkan beliau pada tiap ulang tahun kelahirannya melakukan ritual tertentu. Bahkan para shahabat beliau pun tidak pernah kita baca dalam sejarah pernah mengadakan ihtifal (seremoni) secara khusus setiap tahun untuk mewujudkan kegembiraan karena memperingati kelahiran Nabi SAW. Bahkan upacara secara khusus untuk merayakan ritual maulid Nabi SAW. juga tidak pernah kita dari generasi tabi'in hingga generasi salaf selanjutnya.

Perayaan seperti ini secara fakta memang tidak pernah diajarkan, tidak pernah dicontohkan dan juga tidak pernah dianjurkan oleh Rasulullah SAW, para shahabat bahkan para ulama salaf di masa selanjutnya. Perayaan mauled Nabi SAW secara khusus baru dilakukan di kemudian hari, dan ada banyak versi tentang siapa yang memulai tradisi ini. Sebagian mengatakan bahwa Shalahuddin Al-Ayyubi yang mula-mula melakukannya, sebagai reaksi atas perayaan natal umat Nasrani. Karena saat itu di Palestina, umat Islam dan Nasrani hidup berdampingan. Sehingga terjadi interaksi yang majemuk dan melahirkan berbagai pengaruh satu sama lain.

Versi lain menyatakan bahwa perayaan maulid ini dimulai pada masa dinasti Daulah Fatimiyyah di Mesir pada akhir abad keempat hijriyah. Hal itu seperti yang ditulis pada kitab Al-A'yad wa atsaruha alal Muslimin oleh Sulaiman bin Salim As-Suhaimi hal 285-287. Disebutkan bahwa para khalifah Bani Fatimiyyah mengadakan perayaan-perayaan setiap tahunnya, di antaranya adalah perayaan tahun baru, asyura, maulid Nabi SAW. bahwa termasuk maulid Ali bin Abi Thalib, maulid Hasan dan Husein serta maulid Fatimah dll. Versi lainnya lagi menyebutkan bahwa perayaan maulid dimulai tahun 604 H oleh Malik Mudaffar Abu Sa'id Kukburi.

Hukum Merayakan Maulid Nabi SAW

Bagi mereka yang sekarang ini banyak merayakan maulid Nabi SAW, seringkali mengemukakan dalil. Di antaranya:

Mereka berargumentasi dengan apa yang ditulis oleh Imam al-Suyuti di dalam kitab beliau, Hawi li al-Fatawa Syaikhul Islam tentang Maulid serta Ibn Hajar al-Asqalani ketika ditanya mengenai perbuatan menyambut kelahiran Nabi SAW. Beliau telah memberi jawaban secara bertulis:

Adapun perbuatan menyambut maulid merupakan bid'ah yang tidak pernah diriwayatkan oleh para salafush-shaleh pada 300 tahun pertama selepas hijrah. Namun perayaan itu penuh dengan kebaikan dan perkara-perkara yang terpuji, meski tidak jarang dicacat oleh perbuatan-perbuatan yang tidak sepatutnya. Jika sambutan maulid itu terpelihara dari perkara-perkara yang melanggar syari'ah, maka tergolong dalam perbuatan bid'ah hasanah. Akan tetapi, jika sambutan tersebut terselip perkara-perkara yang melanggar syari'ah, maka tidak tergolong di dalam bid'ah hasanah.

Selain pendapat di atas, mereka juga berargumentasi dengan dalil hadits yang menceritakan bahwa siksaan Abu Lahab di neraka setiap hari Senin diringankan. Hal itu karena Abu Lahab ikut bergembira ketika mendengar kelahiran keponakannya, Nabi Muhammad SAW. Meski dia sediri tidak pernah mau mengakuinya sebagai Nabi. Bahkan ekspresi kegembiraannya diimplementasikan dengan cara membebaskan budaknya, Tsuwaibah, yang saat itu memberi kabar kelahiran Nabi SAW. Perkara ini dinyatakan dalam Shahih Bukhari dalam kitab Nikah. Bahkan Ibnu Katsir juga membicarakannya dalam kitabnya Siratun Nabi jilid 1 halaman 124.

Syamsuddin Muhammad bin Nasiruddin ad-Dimasyqi menulis dalam kitabnya Mawrid as-sadi fi Mawlid al-Hadi: "Jika seorang kafir yang memang dijanjikan tempatnya di neraka dan kekal di dalamnya" (surat Al-Lahab ayat 111) diringankan siksa kuburnya tiap Senin, apalagi dengan hamba Allah yang seluruh hidupnya bergembira dan bersyukur dengan kehadiran Ahmad dan meninggal dengan menyebut "Ahad".

Hujjah lainnya yang juga diajukan oleh para pendukung Maulid Nabi SAW adalah apa yang mereka katakan sebagai pujian dari Imam Ibnu Hajar al-'Asqalani. Menurut mereka, Ibnu Hajar telah menulis di dalam kitabnya, 'Al-Durar al-Kamina Fi 'ayn al-Mi'at al-Thamina' bahwa Ibnu Kathsir telah menulis sebuah kitab yang bertajuk maulid Nabi di penghujung hidupnya,

Malam kelahiran Nabi SAW merupakan malam yang mulia, utama, dan malam yang diberkahi, malam yang suci, malam yang menggembirakan bagi kaum mukmin, malam yang bercahaya-cahaya, terang benderang dan bersinar-sinar dan malam yang tidak ternilai.

Para pendukung maulid Nabi SAW juga melandaskan pendapat mereka di atas hadits bahwa motivasi Rasulullah SAW berpuasa hari Senin karena itu adalah hari kelahirannya. Selain karena hari itu merupakan hari dinaikkannya laporan amal manusia. Abu Qatadah al-Anshari meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW ketika ditanya mengapa beliau berpuasa pada hari Senin, menjawab, "Itulah hari aku dilahirkan dan itulah juga hari aku diangkat menjadi Rasul." Hadits ini bisa kita dapat di dalam Sahih Muslim, kitab as-siyam (puasa).

Pendapat yang Menentang Maulid Nabi SAW

Pendapat yang menentang maulid Nabi SAW berpendapat bahwa argumentasi ini dianggap belum bisa dijadikan landasan dasar pensyariatan seremoni Maulid Nabi SAW. Misalnya cerita tentang diringankannya siksa Abu Lahab itu, mereka mengatakan bahwa Abu Lahab yang diringankan siksanya itu pun hanya sekali saja bergembiranya, yaitu saat kelahiran. Dia tidak setiap tahun merayakan kelahiran Nabi dengan berbagai ragam seremoni. Kalau pun kegembiraan Abu Lahab itu melahirkan keringanan siksanya di neraka tiap hari Senin, bukan berarti orang yang tiap tahun merayakan lahirnya Nabi SAW akan mendapatkan keringanan siksa.

Demikian juga dengan pujian dari Ibnu Katsir, sama sekali tidak bisa dijadiakan landasan perintah untuk melakukan seremonial khusus di hari itu. Sebab Ibnu Katsir hanya memuji malam hari di mana Nabi SAW lahir, namun tidak sampai memerintahkan penyelenggaraan seremonial.

Demikian juga dengan alasan bahwa Rasulullah SAW berpuasa di hari Senin, karena hari itu merupakan hari kelahirannya. Hujjah ini tidak bisa dipakai, karena yang saat dilakukan bukan berpuasa, tapi melakukan berbagai macam aktifitas setahun sekali.[5]

Kalau pun mau ber-ittiba' pada hadits itu, seharusnya umat Islam memperbanyak puasa sunnah hari Senin, bukan menyelenggarakan seremoni maulid setahun sekali. Bahkan mereka yang menentang perayaan maulid Nabi ini mengaitkannya dengan kebiasaan dari agama sebelum Islam. Di mana umat Yahudi, Nasrani dan agama syirik lainnya punya kebiasaan ini. Buat kalangan mereka, kebiasaan agama lain itu haram hukumnya untuk diikuti. Sebaliknya harus dijauhi. Apalagi Rasulullah SAW tidak pernah menganjurkannya atau mencontohkannya. Dahulu para penguasa Mesir dan orang-orang Yunani mengadakan perayaan untuk tuhan-tuhan mereka. Lalu perayaan-perayaan ini di warisi oleh orang-orang Kristen, di antara perayaan-perayaan yang penting bagi mereka adalah perayaan hari kelahiran Isa al-Masih, mereka menjadikannya hari raya dan hari libur serta bersenang-senang. Mereka menyalakan lilin-lilin, membuat makanan-makanan khusus serta mengadakan hal-hal yang diharamkan.

Dan akhirnya, para penentang maulid mengatakan bahwa semua bentuk perayaan maulid Nabi yang ada sekarang ini adalah bid'ah yang sesat. Sehingga haram hukumnya bagi umat Islam untuk menyelenggarakannya atau ikut mensukseskannya.[6]

Jawaban dari Pendukung Maulid

Tentu saja para pendukung mauled Nabi SAW, tidak rela begitu saja dituduh sebagai pelaku bid'ah. Sebab dalam pandangan mereka, yang namanya bid'ah itu hanya terbatas pada ibadah mahdhah (formal) saja, bukan dalam masalah sosial kemasyarakatan atau masalah muamalah.

Adapun seremonial maulid itu oleh para pendukungnya diletakkan di luar ritual ibadah formal. Sehingga tidak bisa diukur dengan ukuran bid'ah. Kedudukannya sama dengan seorang yang menulis buku tentang kisah Nabi SAW. Padahal di masa Rasulullah SAW, tidak ada perintah atau anjuran untuk membukukan sejarah kehidupan beliau. Bahkan hingga masa salah berikutnya, belum pernah ada buku yang khusus ditulis tentang kehidupan beliau.

Lalu kalau sekarang ini umat Islam memiliki koleksi buku sirah nabawiyah, apakah hal itu mau dikatakan sebaga bid'ah? Tentu tidak, karena buku itu hanyalah sarana, bukan bagian dari ritual ibadah. Dan keberadaan buku-buku itu justru akan membuat umat Islam semakin mengenal sosok beliau. Bahkan seharusnya umat Islam lebih banyak lagi menulis dan mengkaji buku-buku itu.

Dalam logika berpikir pendukung maulid, kira-kira seremonial maulid itu didudukkan pada posisi seperti buku. Bedanya, sejarah Nabi SAW tidak ditulis, melainkan dibacakan, dipelajari, bahkan disampaikan dalam bentuk seni syair tingkat tinggi. Sehingga bukan melulu untuk konsumsi otak, tetapi juga menjadi konsumsi hati dan batin, karena kisah Nabi disampaikan dalam bentuk syair yang indah. Dan semua itu bukan termasuk wilayah ibadah formal (mahdhah) melainkan bidang mu’amalah. Di mana hukum yang berlaku bahwa segala sesuatu asalnya boleh, kecuali bila ada dalil yang secara langsung melarangnya secara eksplisit.

Kesimpulan sebagai bagian dari umat Islam, barangkali kita ada di salah satu pihak dari dua pendapat yang berbeda. Kalau pun kita mendukung salah satunya, tentu saja bukan pada tempatnya untuk menjadikan perbedaan pandangan ini sebagai bahan baku saling menjelekkan, saling tuding, saling caci dan saling menghujat.

Perbedaan pandangan tentang hukum merayakan Maulid Nabi SAW, suka atau tidak suka, memang telah kita warisi dari zaman dulu. Para pendahulu kita sudah berbeda pendapat sejak masa yang panjang. Sehingga bukan masanya lagi buat kita untuk meninggalkan banyak kewajiban hanya lantaran masih saja meributkan peninggalan perbedaan pendapat di masa lalu.

Sementara di masa sekarang ini, sebagai umat Islam, bukanlah waktu yang tepat bila kita saling bertarung dengan sesama saudara kita sendiri, hanya lantaran masalah ini. Sebaliknya, kita justru harus saling membela, menguatkan, membantu dan mengisi kekurangan masing-masing. Perbedaan pandangan sudah pasti ada dan tidak akan pernah ada habisnya. Kalau kita terjebak untuk terus bertikai.

Menurut catatan sejarah, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pertama kali diperkenalkan seorang penguasa Dinasti Fatimiyah. Jauh sebelum Al-Barzanji lahir dan menciptakan puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Langkah ini secara tidak langsung dimaksudkan sebagai sebuah penegasan kepada khalayak, bahwa dinasti ini betul-betul keturunan Nabi Muhammad SAW. Setidaknya ada dimensi politis dalam kegiatan tersebut.

Selanjutnya peringatan Maulid menjadi sebuah rutinitas umat Islam di berbagai belahan dunia. Hal itu terjadi setelah Abu Sa’id al-Qakburi, Gubernur Irbil, Irak, mempopulerkannya pada masa pemerintahan Sultan Shalahuddin al-Ayyubi (1138-1193M). Waktu itu tujuannya untuk memperkokoh semangat keagamaan umat Islam umumnya, khususnya mental para tentara menghadapi serangan tentara salib dari Eropa, yang ingin merebut tanah suci Jerusalem dari tangan kaum muslimin.

Memuliakan keagungan pribadi junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW sudah menjadi ketentuan syari’at. Menyambut kegembiraan kelahirannya merupakan salah satu pertanda rasa terima kasih dan syukur kepada Allah SWT sekaligus merupakan bukti tentang keikhlasan menerima hidayah Illahi yang dibawa Nabi Muhammad SAW.[7]

Masyarakat muslim di Indonesia umumnya menyambut Maulid Nabi dengan mengadakan perayaan-perayaan keagamaan seperti pembacaan shalawat Nabi, pembacaan syair Barzanji dan pengajian. Menurut penanggalan Jawa bulan Rabiul Awal disebut bulan Mulud, dan acara Muludan juga dirayakan dengan perayaan dan permainan gamelan Sekaten.

Sebagian masyarakat muslim Sunni dan Syiah di dunia merayakan Maulid Nabi. Muslim Sunni merayakannya pada tanggal 12 Rabiul Awal sedangkan muslim Syiah merayakannya pada tanggal 17 Rabiul Awal, yang juga bertepatan dengan ulang tahun Imam Syiah yang keenam, yaitu Imam Ja'far ash-Shadiq.

Kaum ulama yang berpaham Salafiyah dan Wahabi, umumnya tidak merayakannya karena menganggap perayaan Maulid Nabi merupakan sebuah Bid'ah, yaitu kegiatan yang bukan merupakan ajaran Nabi Muhammad SAW. Mereka berpendapat bahwa kaum muslim yang merayakannya keliru dalam menafsirkannya sehingga keluar dari esensi kegiatannya.

Maulid sebagai bagian dari tradisi keagamaan dapat dilihat dari dua segi, yakni segi historis dan segi sosial kebudayaan. Dari sudut historis, pada cacatan al-Sandubi dalam karyanya Tarikh al- ikhtilaf fi al-Maulid al-Nabawi, al-Mu’izz li-Dinillah (341-365/953-975), penguasa dari Fatimiyah yang pertama menetap di Mesir, adalah orang yang pertama yang menyelenggarakan perayaan kelahiran Nabi yang tercatat dalam sejarah Islam. Kemudian kurun-kurun berikutnya tradisi yang semula dirayakan hanya oleh sekelompok Syi’i ini juga dilaksanakan oleh kaum Sunni, di mana khalifah Nur al-Din, penguasa Syiria (511-569/1118-1174) adalah penguasa pertama yang tercatat merayakan Maulid Nabi. Pelaksanaan secara besar-besaran dilaksanakan untuk pertama kalinya oleh Raja Mudhaffar Abu Said al-Qakburi bin Zaid al-Din Ali bin Baktakin (549-643/1154-1232) penguasa Irbil 80 km tenggara Mosul Iran yakni pada awal abad ke 7H/ke 13 M.[8]

Adapun karya-karya mengenai maulid tercatat memiliki keterkaitan tarekat adalah al-Barzanji, yakni yang diadopsi dari tarekat tertua, Qadiriyyah, sedangkan kitab maulid al-Diba’i tidak memiliki kaitan dengan thariqah.[9] Namun hampir terdapat kepastian, bahwa munculnya kitab-kitab Maulid pada abad ke 15M/ke 9-10H sebagai ekspresi penggugah semangat kecintaan dan kerinduan pada Rasul terilhami dari budaya sufisme. Tentu saja antara tasawuf dan tarekat dengan kitab-kitab Maulid Nabi serta, serta tradisi pembacaannya memiliki garis hubungan spiritual yang menjadi titik tolak bertemunya doktrin tasawuf dengan isi atau kandungan kitab Maulid tersebut.

Antara sufisme dan maulid itu, dihubungkan dengan doktrin cinta (mahabbah dan al-hubb). Maka disini, posisi kitab Maulid dengan segala tradisinya menghubungkan antara pembaca dengan yang dicintai yakni Nabi Muhammad. Kecintaan kepada Nabi Muhammad ini dalam tradisi Maulid menjadi inti, sebagai sarana wushuliyyah menuju kecintaan kepada Allah. Sebab di dalamnya terdapat doktrin tentang Nur Muhammad sebagai pusat danmaksud penciptaan alam dan manusia.[10]

Belum didapatkan keterangan yang memuaskan mengenai bagaimana perayaan maulid berikut pembacaan kitab-kitab maulid masuk ke Indonesia. Namun terdapat indikasi bahwa orang-orang Arab Yaman yang banyak datang di wilayah ini adalah yang memperkenalkannya, disamping pendakwah-pendakwah dari Kurdistan. Ini dapat dilihat dalam kenyataan bahwa sampai saat ini banyak keturunan mereka maupun syaikh-syaikh mereka yang mempertahankan tradisi pembacaan Maulid. Di samping dua penulis kenamaan Maulid berasal dari Yaman (al-Diba’i) dan dari Kurdistan (al-Barzanji), yang jelas kedua penulis tersebut mendasarkan dirinya sebagai keturunan rasulullah, sebagaimana terlihat dalam kasidah-kasidahnya.[11]

Dapat dipahami bahwa tradisi keagaman pembacaan Maulid merupakan salah satu sarana penyebaran Islam di Indonesia, Islam tidak mungkin dapat tersebar dan diterima masyarakat luas di Indonesia, jika saja proses penyebarannya tidak melibatkan tradisi keagamaan tradisi keagamaan. Yang jelas terdapat fakta yang juat bahwa tradisi pembacaan mauled merupakan salah satu ciri kaum muslim tradisional di indonesia.[12] Dan umumnya dilakukan oleh kalangan sufi. Maka dari segi ini dapat diperoleh kesimpulan sementara bahwa masuknya Perayaan Maulid berikut pembacaan kitab-kitab maulid bersamaan dengan proses masuknya Islam ke Indonesia yang dibawa oleh pendakwah yang umumnya merupakan kaum sufi.[13]

Hal itu dilakukan karena dasar pandangan ahl al-sunnah wa al-jama’ah, corak Islam yang mendominasi warna Islam Indonesia, lebih fleksibel dan toleran dibanding dengan kelompok lain. Mempertahankan tradisi menjadi sangat penting maknanya dalam kehidupan keagamaan mereka, berdasarkan pada kaidah ushuliyah, al-muhafadzah li al qadim al- shalih, wa al-ahdza min jadid al ashlah. Inilah kemudian dalam wacana keilmuan disebut sebagai Islam Tradisional.

Justru karena kemampuan dalam menyesuaikan ajaran Islam dengan tradisi yang telah mengakar dalam masyarakat inilah, maka kelompok tradisional Islam berhasil menggalang simpati dari berbagai pihak yang menjadi kekuatan pedukung. Rozikin Daman memandang bahwa hal inilah yang mendorong timbulnya kelompok tradisionalisme dan sekaligus menjadi salah satu faktor pendorong bagi tumbuhnya gerakan tradisionalisme Islam.[14]

Salah satu sarana efektif penggalangan simpati tersebut adalah pelestarian tradisi keagamaan yang populer di masyarakat, termasuk yang paling penting didalamya adalah peringatan maulid serta pembacaan kitab-kitab maulid, yang umumnya lebih dikenal sebagi diba’an atau berjanjen.

[1] Sirajudin Abbas, 40 Masalah Agama 2, (Jakarta: Pustaka Tarbiyah, 2004), hlm.182.

[2] Imam Bukhari, Shahih Bukhari, (Libanon: Darul Fikr, t.th.), hlm. 241.

[3] Sirajudin Abbas, Op. Cit., hlm. 183.

[4] Sirajuddin Abbas, Op. Cit., hlm. 183-184.

[5] Hammad Abu Muawiyah As-Salafi, Studi Kritis Perayaan Maulid Nabi, (PKG goa-Sulawesi Selatan: Al Maktabah al-Atsariyah Ma’had Tanwir as-Sunnah, 2007) hlm. 201

[6] Ibid., hlm 203

[7] Al-Hamid al-Husaini, Sekitar Maulid Nabi Muhammad SAW dan Dasar Hukum Syari’atnya, (Semarang: Toha Putra, 1987), hlm. 82.

[8] Nico Kaptein, Perayaan hari sejarah lahir nabi Muhammad SAW, Asal usul sampai abad ke 10/16, terj Lillian D. Tedjasudhana, INIS, Jakarta 1994, hal 10/ ke – 16 terjemah Lilian D. Tedjasudhana, INIS, Jakarta 1994, hlm 10-18, 20-23, 27-29, dan hal 41 bandingkan dengan Macahasin, Dibaan/Barjanjen dan identitas keagamaan umat, dalam jurnal Theologia, Fak Ushuluddin IAIN Walisongo, vol 12, no 1 Pebruari, 2001, hlm 24

[9] Ahmad Anas, Menguak Pengalaman Sufistik Pengalaman Keagamaan Jamaah Maulid al-Diba’ Girikusumo, (Semarang: Pustaka Pelajar, 2003) hlm.64

[10] Mengenai doktrin ini lihat Ahmd Muhammad Yunus Langka, Daqaiq al-Akbar, tt., hlm 2-3 lihat juga Abd Rahman al-Diba’i, Maulid al-Diba’i, dalam al-Mawlid Wa Ad’iyyah, tt, Surabaya, hlm. 169. Sedangkan mengenai hadits-hadits yang berkaitan dengan doktrin tersebut lihat Muhammad Nafisal Banjari, Durr al- Nafs, Singapura, 1928 hlm.21-22

[11] Bandingkan dengan Machasin, op. cit., Mengenai klaim penulis sebagai keturunan Rasulullah. Dalam kitab maulid al-Barzanji maupun al-Diba’i.

[12] Ibid., hlm 23

[13] Corak dengan kaum tradisional itu tidak lepas pula dari strategi dakwah yang diterapkan oleh para penyebar Islam mula-mula di Indonesia saat itu yang sebagian besar petani yang tinggal di daerah pedesaan dan tingkat pendidikannya yang sangat rendah, maka pola penyebaran Islampun disesuaikan dengan kemampuan pemahaman masyarakat. Sehingga materi dakwah pada waktu itu lebih diarahkan keyakinan serta ajaran ibadah yang bersifat pemujaan secara ritual. Selain itu ditopang oleh perilaku ibadah dan upacara ritual keagamaan yang dianggap akan makin memperkokoh keimanan dan keislaman mereka sangat dianjurkan, seperti tahlilan, yasinan, ziarah kubur, talqin, shadaqahan (kenduri/ kondangan, selamatan) haul upacara yang terkait dengan kematian dan sebagainya.

[14] Rozikin Daman, Membidik NU Dilema Percaturan Politik Nu Pasca Khittah, Yogyakarta: Gama Media, 2001).hlm 35

*Sumber: http://hakamabbas.blogspot.com/…/perayaan-maulid-nabi-muham…

Isnin, November 24, 2014

Apa yang mesti kita lakukan sebagai ahlussunnah dalam menghadapi kelompok sempadan Wahabi Salafi?

Mari lihat penjelasan singkatnya yang disampaikan oleh Guru Mulia Al-Habib Umar bin Hafidz Yaman.

Pertanyaan:

Bagaimana kita menyikapi kelompok Salafi atau Wahabi? Apakah tidak perlu berdebat dengan mereka sementara mereka salah dalam masalah furu’ dan usul? Seperti seringkali mereka mengatakan, ini bid’ah, sesat, ahli neraka. Bagaimana boleh kita membiarkan mereka sementara banyak orang mulai tertarik dengan mererek? Bagaimana semestinya kita menyikapi mereka?

Jawaban Guru Mulia Al-Habib Umar bin Hafidz:

Adapun penjelasannya adalah bahwa mereka semua sama seperti yang lainnya dari aliran-aliran yang sudah kita terangkan tadi yang merupakan aliran-aliran sesat dan keluar dari jalan yang benar.

Tugas kita terhadap mereka adalah memberikan penjelasan yang baik, memperjelas dan mengukuhkan nas dan dalil bagi umat serta menerangkan kepada masyarakat di pesantren-pesantren kita, sekolah-sekolah, masjid-masjid, begitu juga pada saat pelajaran dan ceramah yang bersifat umum tanpa perlu menyebut nama-nama mereka atau pengikut mereka mahupun organisasi dan massa mereka. Kerana mereka tidak utama bagi kita untuk membuang tenaga kita hingga harus disebut-sebut di mimbar-mimbar atau pun di masjid-masjid kita. Kesibukan kita merespon hal itu, merupakan hal yang diinginkan oleh para musuh Allah yang mereka mulai semenjak mereka ciptakan isu tersebut untuk mengganggu konsentrasi kita. Kerana mereka datang tidak sendirian, di belakang mereka itu ada lembaga-lembaga pendidikan yang didukung dana dan berbagai program yang terencana yang bersumber dari musuh besar umat Islam.

Mereka muncul kerana umat Islam di Asia Tenggara majoriti adalah dari kalangan Syafi’iyyah dan Asy’ariyyah. Jika mereka konsisten menjalankan ajarannya maka akan tegak kukuh ajaran Islam tanpa ada masalah. Tentunya hal ini adalah tidak mereka sukai, lalu mereka menyusupkan kaki tangan mereka dari kalangan umat Islam yang mensyirikan umat Islam, membid’ahkan dan menganggap mereka sesat, mengangkat dan merendahkan mereka.

Kita bertugas menunaikan kewajiban kita dengan memberikan penjelasan dan memaparkan dalil-dalil bagi diri kita, keluarga kita, kalangan pesantren dan masjid kita serta siapa pun yang mahu mendengarkan tanpa perlu menyebut nama-nama mereka dan massanya dan tidak perlu membuka peluang perdebatan yang tidak produktif. Kalaupun kita harus berdebat, maka kita akan mendebat mereka dengan cara yang terbaik, tidak perlu sampai panik hingga terjadi keributan sampai bergaduh menggunakan fizikal kita.

Cukup dengan memberikan penjelasan yang santun. Tentunya hal ini (kesantunan) tidak kita temukan pada mereka. Mereka tidak akan pernah berdialog dan berdebat denganmu dengan santun, kerana mereka terbiasa terdidik untuk tidak bersopan santun. Oleh karena itu, jika ada orang yang tidak pandai berdebat dengan baik maka jangan engkau layani. Sampai ada yang mengerti debat dengan cara yang baik, baru kita layani dengan yang lebih baik lagi. Kalau tidak, maka kita hindari saja.

Namun, jika ada diantara mereka yang berbicara di satu forum dan kita ada di sana maka kita wajib meresponnya dengan memberikan penjelasan kepada para pendengar. Selagi di majelis memang ada yang mendengarkannya dan mengambil manfaat maka kita harus menjelaskan kepadanya permasalahan yang sebenarnya. Kita tentunya menjelaskannya dengan adab yang santun dan mereka dengan ketidaksantunan mereka. Biarkan mereka berbicara dengan tidak santun tapi kita harus tetap berbicara dengan santun.

Nabi Isa bin Maryam saat menjawab tohmahan orang Jahil yang mencacinya, Beliau, Nabi Isa mendo’akan kebaikan untuknya. Lalu Si Jahil mencaci lagi, kemudian Beliau membalasnya dengan do’a kebaikan.

Lalu dicaci lagi untuk ketiga kalinya, tetap saja Beliau mendo’akannya.

Kemudian berkata salah seorang Hawariyyun, pengikutnya: “Wahai Ruhullah, Wahai Nabi Isa, orang ini tidak memujimu atau memberi kebaikan untukmu. dia mencacimu lalu engkau mendo’akannya?

Jawab Isa as .. “Setiap orang memberi apa yang dia miliki“, jawab beliau. “Setiap orang memberi apa yang dia miliki. Dia hanya memiliki itu (cacian) dan saya memiliki ini (do’a)“.

Ahlussunnah memiliki adab sopan santun sementara mereka adalah orang-orang yang tidak mengenal adab sopan santun. Pada akhirnya nanti Allah akan munculkan pula orang-orang yang akan menandingi mereka. Level para ulama tinggi dan tidak layak berhadapan dengan mereka. Sementara mereka yang tidak santun nantinya akan dilawan pula dengan orang-orang yang sama tidak santunnya yang akan menghadapi dan memberikan pelajaran kepada mereka.

Berkata al-Imam Ja’far Shodiq: ‘Tersesat, orang yang tidak mempunyai seorang guru yang membimbingnya dan terhina orang yang tidak memiliki orang lancang yang membelanya. Kalau ada orang bodoh datang mendebat, biarkan dihadapi pula oleh orang yang lancang dari kelompok yang benar. Orang-orang bodoh dan kelompok sesat tidak seharusnya dihadapi oleh ulama dan cendekiawan dari kelompok yang benar. Orang bodoh dari aliran sesat biar dihadapi oleh pendukung ajaran yang benar yang sama lancangnya.

Mereka menyadari Allah akan melindungi kita dari keburukan dan marabahaya yang mereka rencanakan. Kita harus tetap konsisten memberikan penjelasan dan memantapkan dalil dan membina dengan baik putra putri kita tanpa perlu membuka peluang untuk debat hingga akhirnya kita terjebak dengan kesibukan yang diciptakan oleh musuh-musuh kita. Kita tunaikan kewajiban kita dalam urusan ini dan menjelaskan jalan yang benar.

Jika ada satu isu diangkat di depan kita, maka kita respon dengan cara yang terbaik. Jangan sampai kita lupa akan tugas kita yaitu membina hubungan masyarakat yang harmoni dengan Allah. Jangan sampai kesibukan isu itu membuat solat kita tidak khusyu’, mengabaikan perbuatan berbakti kepada keuda orang tua atau pun kurang silaturahim. Tidak! Ini tidak boleh terjadi, jangan biarkan hal ini menyita perhatian masyarakat hingga melupakan tugas ulama yang Allah bebankan kepada mereka.

Apa yang mesti kita lakukan sebagai ahlussunnah dalam menghadapi kelompok sempalan Wahabi Salafi? Mari lihat penjelasan singkatnya yang disampaikan oleh Guru Mulia Al-Habib Umar bin Hafidz Yaman.

Pertanyaan:

Bagaimana kita menyikapi kelompok Salafi atau Wahabi? Apakah tidak perlu berdebat dengan mereka sementara mereka salah dalam masalah furu’ dan usul? Seperti seringkali mereka mengatakan, ini bid’ah, sesat, ahli neraka. Bagaimana boleh kita membiarkan mereka sementara banyak orang mulai tertarik dengan mererek? Bagaimana semestinya kita menyikapi mereka?

Jawaban Guru Mulia Al-Habib Umar bin Hafidz:

Adapun penjelasannya adalah bahwa mereka semua sama seperti yang lainnya dari aliran-aliran yang sudah kita terangkan tadi yang merupakan aliran-aliran sesat dan keluar dari jalan yang benar.

Tugas kita terhadap mereka adalah memberikan penjelasan yang baik, memperjelas dan mengukuhkan nas dan dalil bagi umat serta menerangkan kepada masyarakat di pesantren-pesantren kita, sekolah-sekolah, masjid-masjid, begitu juga pada saat pelajaran dan ceramah yang bersifat umum tanpa perlu menyebut nama-nama mereka atau pengikut mereka mahupun organisasi dan massa mereka. Kerana mereka tidak utama bagi kita untuk membuang tenaga kita hingga harus disebut-sebut di mimbar-mimbar atau pun di masjid-masjid kita. Kesibukan kita merespon hal itu, merupakan hal yang diinginkan oleh para musuh Allah yang mereka mulai semenjak mereka ciptakan isu tersebut untuk mengganggu konsentrasi kita. Kerana mereka datang tidak sendirian, di belakang mereka itu ada lembaga-lembaga pendidikan yang didukung dana dan berbagai program yang terencana yang bersumber dari musuh besar umat Islam.

Mereka muncul kerana umat Islam di Asia Tenggara majoriti adalah dari kalangan Syafi’iyyah dan Asy’ariyyah. Jika mereka konsisten menjalankan ajarannya maka akan tegak kukuh ajaran Islam tanpa ada masalah. Tentunya hal ini adalah tidak mereka sukai, lalu mereka menyusupkan kaki tangan mereka dari kalangan umat Islam yang mensyirikan umat Islam, membid’ahkan dan menganggap mereka sesat, mengangkat dan merendahkan mereka.

Kita bertugas menunaikan kewajiban kita dengan memberikan penjelasan dan memaparkan dalil-dalil bagi diri kita, keluarga kita, kalangan pesantren dan masjid kita serta siapa pun yang mahu mendengarkan tanpa perlu menyebut nama-nama mereka dan massanya dan tidak perlu membuka peluang perdebatan yang tidak produktif. Kalaupun kita harus berdebat, maka kita akan mendebat mereka dengan cara yang terbaik, tidak perlu sampai panik hingga terjadi keributan sampai bergaduh menggunakan fizikal kita.

Cukup dengan memberikan penjelasan yang santun. Tentunya hal ini (kesantunan) tidak kita temukan pada mereka. Mereka tidak akan pernah berdialog dan berdebat denganmu dengan santun, kerana mereka terbiasa terdidik untuk tidak bersopan santun. Oleh karena itu, jika ada orang yang tidak pandai berdebat dengan baik  maka jangan engkau layani. Sampai ada yang mengerti debat dengan cara yang baik, baru kita layani dengan yang lebih baik lagi. Kalau tidak, maka kita hindari saja.

Namun, jika ada diantara mereka yang berbicara di satu forum dan kita ada di sana maka kita wajib meresponnya dengan memberikan penjelasan kepada para pendengar. Selagi di majelis memang ada yang mendengarkannya dan mengambil manfaat maka kita harus menjelaskan kepadanya permasalahan yang sebenarnya. Kita tentunya menjelaskannya dengan adab yang santun dan mereka dengan ketidaksantunan mereka. Biarkan mereka berbicara dengan tidak santun tapi kita harus tetap berbicara dengan santun.

Nabi Isa bin Maryam saat menjawab tohmahan orang Jahil yang mencacinya, Beliau, Nabi Isa mendo’akan kebaikan untuknya. Lalu Si Jahil mencaci lagi, kemudian Beliau membalasnya dengan do’a kebaikan. 

Lalu dicaci lagi untuk ketiga kalinya, tetap saja Beliau mendo’akannya. 

Kemudian berkata salah seorang Hawariyyun, pengikutnya: “Wahai Ruhullah, Wahai Nabi Isa, orang ini tidak memujimu atau memberi kebaikan untukmu. dia mencacimu lalu engkau mendo’akannya?

Jawab Isa as .. “Setiap orang memberi apa yang dia miliki“, jawab beliau. “Setiap orang memberi apa yang dia miliki. Dia hanya memiliki itu (cacian) dan saya memiliki ini (do’a)“.

Ahlussunnah memiliki adab sopan santun sementara mereka adalah orang-orang yang tidak mengenal adab sopan santun. Pada akhirnya nanti Allah akan munculkan pula orang-orang yang akan menandingi mereka. Level para ulama tinggi dan tidak layak berhadapan dengan mereka. Sementara mereka yang tidak santun nantinya akan dilawan pula dengan orang-orang yang sama tidak santunnya yang akan menghadapi dan memberikan pelajaran kepada mereka.

Berkata al-Imam Ja’far Shodiq: ‘Tersesat, orang yang tidak mempunyai seorang guru yang membimbingnya dan terhina orang yang tidak memiliki orang lancang yang membelanya. Kalau ada orang bodoh datang mendebat, biarkan dihadapi pula oleh orang yang lancang dari kelompok yang benar. Orang-orang bodoh dan kelompok sesat tidak seharusnya dihadapi oleh ulama dan cendekiawan dari kelompok yang benar. Orang bodoh dari aliran sesat biar dihadapi oleh pendukung ajaran yang benar yang sama lancangnya.

Mereka menyadari Allah akan melindungi kita dari keburukan dan marabahaya yang mereka rencanakan. Kita harus tetap konsisten memberikan penjelasan dan memantapkan dalil dan membina dengan baik putra putri kita tanpa perlu membuka peluang untuk debat hingga akhirnya kita terjebak dengan kesibukan yang diciptakan oleh musuh-musuh kita. Kita tunaikan kewajiban kita dalam urusan ini dan menjelaskan jalan yang benar.

Jika ada satu isu diangkat di depan kita, maka kita respon dengan cara yang terbaik. Jangan sampai kita lupa akan tugas kita yaitu membina hubungan masyarakat yang harmoni dengan Allah. Jangan sampai kesibukan isu itu membuat solat kita tidak khusyu’, mengabaikan perbuatan berbakti kepada keuda orang tua atau pun kurang silaturahim. Tidak! Ini tidak boleh terjadi, jangan biarkan hal ini menyita perhatian masyarakat hingga melupakan tugas ulama yang Allah bebankan kepada mereka.

Sumber: Pencinta Majlis Rasulullah

Ahad, November 23, 2014

Kenapa bermazhab dengan Imam yang Empat? Kenapa tidak taqlid terus kepada Al Quran dan Hadis?

Kita tak boleh saling menyalahkan sesama ummat muslimin yang bermazhab, Generasi zaman sekarang, ternyata bila melihat generasi kita terdahulu, khususnya Ulama' ² yang mendapatkan anugerah dari Allah.
Allah muliakan mereka dgn ilmu, dgn akhlak dan ibadah, dgn banyak keubudiyah nya kepada Allah, tapi ternyata justeru, ada yang dikalangan kita yang memandang sinis kpd mereka, bahkan mereka Imam ² yang Empat, yang mempunyai pengikut di mana ², MasyaAllah Tabarakallah.

Pertanyaan mereka, Kenapa taqlid dgn Imam 4 mazhab? Kenapa tak taqlid dengan Al Quran dan Hadith, Ya itu betul, tapi kata ² kamu memperangkap seolah ²nya Imam as syafie itu tak tahu Al Quran dan Hadith, seolah ² yang tahu kamu. Kenapa kita tak taqlid dengan yang Maksum, kenapa kita tak ikut Quran dan Hadith, kenapa tak pegang teguh dengan sunnah, kenapa ikut imam as syafie, kenapa ikut imam an nawawi, kenapa ikut imam ibnu Hajar, innnalillahiwainnalillahirajiun.

Mereka menyeru kepada kita untuk ikut al quran dan hadith, jadi pertanyaan pertama, macam kalian lebih tahu tentang al quran dan hadith
daripada mereka Para Imam mazhab?

Kalau mereka katakan Ya kami lebih tahu.Maka sebulat suara kita katakan Bohong dan Penipu.. Al quran itu bukan setakat dalam ingatan mereka, tapi al quran itu bergerak dalam kehidupan mereka. Pakaian mereka Qurani, kata ² mereka Qurani, hidup mereka qurani, makan mereka, minum mereka, tidur mereka semua qurani, berbeza dengan kehidupan kita sekarang.

Mereka lebih berkemampuan memahami & menguasai quran dan hadith berbanding kita.Telinga, makan , mata mereka terjaga, kehidupan mereka terjaga semuanya terkawal dengan baik.

Generasi zaman dahulu untuk kenal, untuk faham mana yang benar dan yang hak lebih senang dari zaman kita sekarang.

KENAPA TAQLID DENGAN IMAM YANG 4 ? KENAPA TIDAK TERUS TAQLID KEPADA AL QURAN DAN HADIS?

Kita tak boleh saling menyalahkan sesama ummat muslimin yang bermazhab, Generasi zaman sekarang, ternyata bila melihat generasi kita terdahulu, khususnya Ulama' ² yang mendapatkan anugerah dari Allah.
Allah muliakan mereka dgn ilmu, dgn akhlak dan ibadah, dgn banyak keubudiyah nya kepada Allah, tapi ternyata justeru, ada yang dikalangan kita yang memandang sinis kpd mereka, bahkan mereka Imam ² yang Empat, yang mempunyai pengikut di mana ², MasyaAllah Tabarakallah. 

Pertanyaan mereka, Kenapa taqlid dgn Imam 4 mazhab? Kenapa tak taqlid dengan Al Quran dan Hadith, Ya itu betul, tapi kata ² kamu memperangkap seolah ²nya Imam as syafie itu tak tahu Al Quran dan Hadith, seolah ² yang tahu kamu. Kenapa kita tak taqlid dengan yang Maksum, kenapa kita tak ikut Quran dan Hadith, kenapa tak pegang teguh dengan sunnah, kenapa ikut imam as syafie, kenapa ikut imam an nawawi, kenapa ikut imam ibnu Hajar, innnalillahiwainnalillahirajiun.

Mereka menyeru kepada kita untuk ikut al quran dan hadith, jadi pertanyaan pertama, macam kalian lebih tahu tentang al quran dan hadith 
daripada mereka Para Imam mazhab?

Kalau mereka katakan Ya kami lebih tahu.

Maka sebulat suara kita katakan Bohong dan Penipu.. Al quran itu bukan setakat dalam ingatan mereka, tapi al quran itu bergerak dalam kehidupan mereka. Pakaian mereka Qurani, kata ² mereka Qurani, hidup mereka qurani, makan mereka, minum mereka, tidur mereka semua qurani, berbeza dengan kehidupan kita sekarang.

Mereka lebih berkemampuan memahami & menguasai quran dan hadith berbanding kita.Telinga, makan , mata mereka terjaga, kehidupan mereka terjaga semuanya terkawal dengan baik. 

Generasi zaman dahulu untuk kenal, untuk faham mana yang benar dan yang hak lebih senang dari zaman kita sekarang.

Mengapa kita wajib tolak WAHABBI

KITA TOLAK WAHABBI KERANA MEREKA TIDAK MERAIKAN KHILAF ULAMA DAN MEMAKSA ORANG UNTUK MENGIKUT PENDAPAT MEREKA SAHAJA.

"Kita bukannya nak menghalang atau membantah golongan wahhabi dalam isu furu'. Sebab apa-apa pendapat mereka tu, memang ada ulama dalam pelbagai mazhab memberi pendapat sedemikian rupa. Contohnya isu qunut subuh, memang dalam mazhab lain tidak menyatakan bacaan qunut itu adalah sunat pun. Contoh lainnya, tahlil, memang ada ulama menyatakan perbuatan ini tidak dianjurkan para salafussoleh. .
Tapi kedua-dua contoh tadi masih ada ramai ulama yang mengatakan boleh. Masalahnya dengan wahhabi ini, mereka tidak meraikan khilaf ini, mereka memaksa orang lain untuk ikut pendapat yang mereka pegang. Apabila kita ikut pendapat yang berbeza dari pendapat wahhabi pegang, wahhabi tuduh kita bidaah, sesat, dan kafir. Sikap extreme inilah yang kita nak halang dan bantah. Kita bukan bantah pendapat dia. Itu dia nak pegang pendapat apa, dia punya pasal lah.
.

Kamu tak mau baca qunut masa subuh, suka hati kamulah. Kamu tak mau bertahlil, suka hati kamulah. Kedua-duanya bukan wajib pun. Tapi jangan lah kamu nak mengkafirkan, membidaahkan, menyatakan sesat kepada kami yang melakukan perbuatan yang diharuskan dalam masalah khilaf..!! Kalau kami yang membaca qunut subuh ini bidaah dan sesat, apa kalian berani mengatakan sedemikian kepada Imam Syafie? Imam Nawawi? Imam Ibnu Hajar?
.

Kalau kamu tidak melakukan pembidaahan dan pengkafiran kepada kami, kami pun tak mau kacau kamu. Kami langsung membiarkan kamu dengan pegangan kamu dan cara amalan kamu. Tapi kalian mengkafirkan kami, menyesatkan kami, membidaahkan kami, kamu ambil ilmu Imam Nawawi separuh dan buang separuh, sedangkan kamu ambil ilmu Syeikh Albani seluruhnya, sedangkan beza antara Imam Nawawi dan Syeikh Albani seluas langit dan bumi, maka kami tak akan membiarkan daulah Wahhabiyyah tertegak di atas muka bumi Malaysia ini.

Kami Tidak Mahu Fahaman Wahabbi Di Malaysia

Cara musuh islam "switch control" Wahabbi

KITA TOLAK WAHAABI KERANA MEREKA TIDAK MERAIKAN KHILAF ULAMA DAN MEMAKSA ORANG UNTUK MENGIKUT PENDAPAT MEREKA SAHAJA.

"Kita bukannya nak menghalang atau membantah golongan wahhabi dalam isu furu'. Sebab apa-apa pendapat mereka tu, memang ada ulama dalam pelbagai mazhab memberi pendapat sedemikian rupa. Contohnya isu qunut subuh, memang dalam mazhab lain tidak menyatakan bacaan qunut itu adalah sunat pun. Contoh lainnya, tahlil, memang ada ulama menyatakan perbuatan ini tidak dianjurkan para salafussoleh. .
Tapi kedua-dua contoh tadi masih ada ramai ulama yang mengatakan boleh. Masalahnya dengan wahhabi ini, mereka tidak meraikan khilaf ini, mereka memaksa orang lain untuk ikut pendapat yang mereka pegang. Apabila kita ikut pendapat yang berbeza dari pendapat wahhabi pegang, wahhabi tuduh kita bidaah, sesat, dan kafir. Sikap extreme inilah yang kita nak halang dan bantah. Kita bukan bantah pendapat dia. Itu dia nak pegang pendapat apa, dia punya pasal lah.
.

Kamu tak mau baca qunut masa subuh, suka hati kamulah. Kamu tak mau bertahlil, suka hati kamulah. Kedua-duanya bukan wajib pun. Tapi jangan lah kamu nak mengkafirkan, membidaahkan, menyatakan sesat kepada kami yang melakukan perbuatan yang diharuskan dalam masalah khilaf..!! Kalau kami yang membaca qunut subuh ini bidaah dan sesat, apa kalian berani mengatakan sedemikian kepada Imam Syafie? Imam Nawawi? Imam Ibnu Hajar? 
.

Kalau kamu tidak melakukan pembidaahan dan pengkafiran kepada kami, kami pun tak mau kacau kamu. Kami langsung membiarkan kamu dengan pegangan kamu dan cara amalan kamu. Tapi kalian mengkafirkan kami, menyesatkan kami, membidaahkan kami, kamu ambil ilmu Imam Nawawi separuh dan buang separuh, sedangkan kamu ambil ilmu Syeikh Albani seluruhnya, sedangkan beza antara Imam Nawawi dan Syeikh Albani seluas langit dan bumi, maka kami tak akan membiarkan daulah Wahhabiyyah tertegak di atas muka bumi Malaysia ini.

Kami Tidak Mahu Fahaman Wahhabi Di Malaysia

Cara musuh islam "switch control" Wahabbi

Jumaat, November 21, 2014

Jawapan kepada isu "Madad ya RasulAllah"

Definisi TAWASSUL ialah memohon daripada ALLAH SECARA LANGSUNG serta meminta syafaat daripada-Nya dengan apa atau siapa yang disukai-Nya. Justeru ALLAH sahaja tempat memohon dan meminta. TIADA yang lain diminta. Berdasarkan takrif ini yang jelaslah ia DIBOLEHKAN !

Terdapat beberapa bentuk tawasul yang disepakati oleh para ulama dan dibolehkan, seperti:

-Tawassul seseorang dengan amalan baiknya.

-Tawassul dengan nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya, Zat-Nya dan seumpamanya.

-Tawassul dengan cara memohon doa orang-orang soleh yang masih hidup.

Adapun yang menjadi perselisihan segelintir ulama ialah tawassul dengan orang yang telah meninggal dunia; adakah diperbolehkan atau tidak. Ada segolongan yang menghukum ia syirik manakala MAJORITI berpandangan bahawa ia diharuskan dengan dalil-dalil yang akan kita terangkan di sini.

Para fuqaha' telah IJMAK bahawa bertawasul dengan para nabi dan para aulia adalah dibolehkan (mubah), dan dianjurkan sama ada mereka masih hidup atau sudah meninggal dunia. [ Lihat Syawahid al-Haqq oleh Syeikh Yusuf al-Nabhani, 158].

Dalam hal yang sama, mantan Mufti Mesir, al-Allamah Sheikh Ali Jum'ah turut mengungkapkan, ''Mazhab feqah yang besar sepakat atas bolehnya bertawasul dengan Nabi S.A.W, malah menegaskan anjuran terhadap perkara ini dan tidak membezakan apakah tawasul itu semasa Baginda S.A.W masih hidup ataupun setelah Baginda S.A.W wafat. Tidak ada yang menyanggahinya melainkan Ibn Taymiyyah, iaitu beliau membezakan dengan Nabi S.A.W semasa hidup Rasulullah dan selepas kewafatannya. Tidak diambil pendapat shadhnya (ganjil) itu. Kami menyeru kepada umat agar berpegang kepada apa yang telah disepakati oleh para Aimmah yang terkemuka.'' [Al-Bayan limaYasyghal al-Azhan, hal 177]

Justeru, penentangan terhadap tawasul kepada orang yang telah mati hanyalah pandangan terpencil daripada segelintir ulama, khusunya mungkin yang mengikuti aliran pemikiran Ibn Taymiyyah dan bukanlah pandangan majoriti ulama.

Soalan : Adakah ada dalil yang membolehkan bertawasul dengan orang yang telah mati ?

Jawapan : Terlalu banyak nas yang boleh dijadikan dalil bahawa tawasul dengan orang yang mati juga dibolehkan (mubah) seperti mana tawasul dengan orang yang hidup. Harus ditekankan sekali lagi bahawa tawasul TIDAK bermakna memohon pertolongan kepada orang mati, tetapi menjadikan mereka sebagai wasilah kepada ALLAH dalam berdoa, dan perkara ini seperti yang kita jelaskan sebelum ini berdasarkan anjuran al-Quran. [rujuk Surah al-Maidah: 35, Surah al-Isra':57, Surah An-Nisa':64]

Oleh itu, tuduhan ''meminta dengan kubur'' atau seumpamanya adalah tuduhan yang dilemparkan oleh mereka yang JAHIL terhadap konsep tawasul yang sebenar. Manakala dalil daripada hadis pula antaranya seperti berikut:

Pertama, hadis Uthman ibn Hunaif, beliau mendengar Baginda Shallallahu 'alaihi wa sallam didatangi seorang lelaki buta mengadu penglihatannya yang hilang. Dia berkata, ''Wahai Rasulullah, aku tidak mempunyai pembantu (untuk membantu berjalan) dan aku juga ditimpa kesempitan.'' Rasulullah bersabda, ''Pergilah ke bilik air dan ambillah wuduk kemudian solatlah dua rakaat, kemudian berdoalah, ''Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dan bertawajuh kepada-Mu dan (hak) Nabi-Mu, Muhammad Nabi pembawa rahmat. Wahai Muhammad, sesungguhnya aku bertawajjuh denganmu kepada Tuhanmu agar dibukakan mataku. Ya Allah, berilah dia syafaat untukku dan berilah aku syafaat'.'' Uthman berkata, ''Demi Allah, maka tiada berpisah kami dan tidak juga lama selepas peristiwa itu berlaku dengan kami sehingga masuk seorang lelaki seolah-olah tidak pernah buta.'' (Tirmizi,al-Hakim dalam Al-Mustadrak dan lain-lain)

Adapun status hadis ini, Imam Tirmizi mengatakan ia sahih walaupun hadis ahad melalui Abu Ja'far. Ada yang mengatakan ia Abu Ja'far Khatmi, seperti ujar Ibn Taymiyyah. Ibn Hajar mengatakan dalam Taqrib at-Tahdhib dia (Khatmi) dan boleh dipercayai (saduq). Al-Hakim turut meriwayatkan berdasarkan syarat Imam Bukhari dan Muslim dan Dhahabi mengesahkan, manakala Shawkani turut menjadikannya dalil. Imam Bukhari merakamkannya dalam Tarikh al-Kabir, Ibn Majah dalam Sunan dan beliau mengatakan ia sahih. Memadai kita mengatakan bahawa tidak kurang daripada 15 orang ulama besar hadis yang bertaraf ''huffaz'' (menghafal lebih 100,000 hadis beserta sanad) seperti Imam Dhahabi, Ibn Hajar, Hakim, Baihaqi, Tabarani, Ibn 'Abd al-Barr, Shawkani dan Ibn Taymiyyah sendiri yang mengesahkan bahawa hadis ini Sahih.

Kedua, hadis yang diriwayatkan oleh Imam at-Tabarani dan Imam al-Baihaqi bahawa seorang lelaki telah datang untuk mengadu kepada Sayyidina Uthman bin Affan r.a. pada zaman pemerintahannya. Namun Sayyidina Uthman r.a. tidak mengendahkannya lantaran kesibukan. Lelaki itu berlalu dan terserempak dengan Uthman bin Hunayf. Uthman bin Hunayf r.a. yang teringat peristiwa tawasul orang buta dengan Nabi, telah mengajanjurkan lelaki itu tadi agar berbuat perkara yang sama. Beliau berkata, ''Pergilah kamu ke tempat berwuduk, berwuduklah dan datanglah ke masjid dan bersolatlah dua rakaat. Kemudian berdoa, 'Ya Allah! Sesungguhnya aku bermohon kepada-Mu, aku menghadap kepada-Mu, melalui Nabi-Mu yang penuh kasih sayang. Wahai Muhammad, sesungguhnya aku menghadap (hajatku) dengan perantaraanmu kepada Tuhanku agar diperkenankan bagiku hajatku.' Dan engkau sebutkan hajatmu.''

Lelaki itu pun beredar dari situ dan melakukan suruhan tersebut. Kemudian dia pergi ke rumah Sayyidina Uthman. Seorang penjaga pintu membuka pintu dan membawanya masuk menghadap Sayyidina Uthman. Sayyidna Uthman r.a. berkata, ''Sebutlah hajatmu itu.'' Lalu lelaki itu pun memberitahu hajat dan Sayyidina Uthman menunaikan hajatnya. Sayyidina Uthman bertanya lagi, ''Kalau kamu mempunyai hajat lagi, beritahulah.''

Selepas itu lelaki itu keluar dan menemui Uthman bin Hunayf r.a. Dia berkata kepada Uthman bin Hunayf, ''Moga-moga Allah membalas jasamu dengan kebaikan. Tidaklah dia (khalifah) memandang kepada hajatku sehingga engkau mengajarkan kepadaku.'' Uthman bin Hunayf menjawab, ''Demi Allah! Bukan aku mengajarmu tetapi sebenarnya aku menyaksikan bahawa Rasulullah ketika didatangi seorang lelaki mengadu tentang penglihatannya yang hilang ... (hingga akhir hadis).''

Kedua-dua hadis di atas mengisahkan tentang tawasul kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pada dua situasai berbeza iaitu semasa Baginda masih hidup (lelaki buta bertemu Nabi) dan selepas Baginda wafat (lelaki yang bertemu Uthman bin Hunayf). Justeru, tidak timbullah persoalan sama ada Rasulullah masih hidup atau sudah wafat kerana yang ditawasulkan bukan kepada jasad Baginda. Sebaliknya bertawasul kepada maqam dan kemuliaan yang dimiliki oleh Rasulullah di sisi ALLAH. Hal yang demikian tidak membezakan sama ada Baginda atau seseorang yang soleh itu masih hidup atau sudah meninggal dunia.

Selain dalil ini, banyak lagi dalil yang boleh diketengahkan, termasuklah amalan tawasul yang dilakukan oleh para Sahabat, salafussoleh, para imam mazhab serta yang lainnya kepada Rasulullah ketika Rasulullah telah wafat, ataupun bertawasul kepada orang-orang soleh yang telah meninggal dunia.

Cuma dalam keadaan seseorang itu tidak diberi taufik dan hidayah oleh ALLAH, berilah dalil sebanyak mana sekalipun, tidak akan meyakinkan dia untuk menerima kebenaran ini. Maka cukuplah kita katakan, sesiapa yang ingin bertawasul dengan cara ini ia dibolehkan (mubah). Sesiapa yang ragu, maka tinggalkanlah tanpa melemparkan tuduhan syirik dan seumpamanya kepada mereka yang melakukannya. [Lihat Adillah Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah, 79-83]

Wallahu'alam.

Sumber.

Umat akan berpecah kepada 73 golongan

"Disebutkan di dalam hadis perpecahan ummat Nabi Muhammad ﷺ yang terbahagi kepada 73 golongan/kelompok.Semuanya itu akan masuk neraka kecuali satu.Sahabat bertanya "Siapakah golongan yang selamat itu Ya Rasulullah."Nabi kita menjawab."Golongan yang selamat nanti di hari kiamat itu adalah berpegang teguh dengan cara kehidupanku dan juga para sahabat-sahabatku.Sebagaimana aku dan jug para sahabat-sahabatku.

Jadi perlu didahulu peluang umur dan kesempatan yang Allah bagikan kepada kita ianya sekali dalam seumur hidup.Yang pada waktu kalau kita sudah salah memilih jalan maka kita tidak ada peluang kedua,ketiga dan keempat.

Sebabnya bagaimanapun putaran daripada waktu dan peredaran daripada roda(dunia) ini tidak pernah mundur kebelakang.Dari hari ke hari kita semakin tua semakin dewasa.Kalau dahulu masih anak-anak sekarang sudah dewasa.

Kalau dahulu janggut masih hitam sekarang sudah mulai putih,uban sudah bertaburan di sana sini.Pandangan sudah mulai kabur,gigi sudah banyak yang gugur,cara berjalan juga kadang-kadang maju mundur.

Itu membuktikan yang kita sudah dekat dengan kubur.Jadi kalau begitu sangat mustahak dengan kita mengambil masa,mengambil waktu,mengambil peluang untuk kita mengkaji dan juga untuk kita mempelajari akan jangan sampai kita salah pilih jalan.

Jangan sampai kalau waktu kita menyesal yang pada saat itu penyesalan sudah tidak ada maknannya.Sudah tidak ada ertinya.

Kalau rugi masih ada cara tertentu.Mungkin kita punya peluang yang banyak,bagaimana untuk bisnes yang selanjutnya dengan modal yang berikutnya,dengan usaha yang akan datang.Dengan itu kita akan dapat keuntungan yang lebih banyak.

Tapi kalau kesalahan kita bukan dalam masalah keuntungan,bukan dalam masalah bisnes,bukan dalam masalah hidup.Ketika kesalahan kita dalam memahami dalam menganuti ideologi-ideologi hidup atau akidah atau prinsip hidup.

Ini kalau waktu kita tersalah yang pada saat manusia itu akan sedarkan nanti dengan kematian.Peluang untuk kembali ke dunia itu tidak akan ada.

Maka untuk kita memastikan sebagaimana akhlakku,akidahku,pemikiranku,pengorbananku,perjuanganku,ubudiahku,pengabdianku,cara kehidupan daripada Baginda dapat kita kesan dan dapat kita pelajari.

Tidak ada satu pun yang lepas daripada tatapan Para Sahabat dan tidak ada satu pun yang lepas daripada pengamatan dan catatan daripada salafus soleh secara Nabi kita diangkat sebagai Nabi dan Rasul sampai Nabi kita wafat.

Apa yang kita nak tanyakan pasal hal ehwal Baginda Nabi,akhlak beliau,pergaulan beliau,pakaian beliau,cara makan beliau dan bermacam-macam lagi.Itu semuanya tercatit dan tercatat secara terperinci tidak ada satu pun yang terluput dan yang lemah daripada tatapan Para Sahabat.Mungkin hanya sebahagian kecil.

Dalam segala aspek kehidupan dan dalam segala akhlak kenabian dan kerasulan ternyata sau per sau dibawah tatapan dan pengamatan Para Sahabat.

Jadi makanya dengan kita secara pasti Islam yang sampai kepada kita,ideologi yany sampai kepada kita,akidah yang sampai kepada kita,fahaman yang sampai kepada kita.Itu bukan pengamatan daripada 3,4,5,6 orang manusia tetapi ini pengamatan yang tidak terhitung ramainya.

Maka jangan sesiapa yang komen tentang sahabat Nabi,sesiapa yang salah menyalahkan tentang sahabat,seseorang yang berpandang negatif kepada mereka.Justeru,dia yang akan binasa.

Kenapa?Sebab Allah Sang Pencipta Manusia Pencipta Makhluk dan Semesta Alam telaj menyatakan dan menjelaskan tentang kedudukan Para Sahabat Baginda Nabi kita itu seperti apa.

Allah telah redha dengan mereka dan mereka juga telah redha dengan Allah ﷻ dan mereka juga telah mendapat jaminan syurga daripada Allah ﷻ dan juga Rasulullah ﷺ.

Kata Tuan Guru Syeikh kalau nak bahas mengenai hadis ini mengambil terlalu banyak masa kerana dilihat daripada pelbagai sudut lagi.Tetapi kesimpulan yang dapat dibuat adalah kalau kita nak selamat termasuk dalam golongan yang tidak dimasukkan ke dalam neraka adalah tetap berpegang teguh dengan ASWJ.

Ikut apa yang Rasulullah ﷺ ajarkan dan tinggalkan dan disambung dengan Para sahabat sehingga ke hari ini yang mana ianya tidak akan sesekali putus dengan rantaian sanad ilmu yang telah dibawa oleh Para Ulama kita InshaAllah kita akan selamat dunia dan akhirat hendaknya.

Jangan sesekali terpengaruh dengan ideologi-ideologi,fahaman-fahaman yang kafir mengkafirkan orang lain,menyebarkan fitnah sana sini tanpa menyelidik mengetahui hujung pangkal sesuatu itu.Adakah benar ataupun tidak.Mengatakan ini tak boleh itu tak boleh,membidaahkan sesuatu amalan kebaikan sehingga berlakunya perpecahan sesama ummat Islam sendiri.

Ingatlah yang hak itu hak dan yang batil itu batil.Jangan sesekali memandang negatif akan apa yang ada di dalam Islam termasuk kedudukan Para Sahabat Baginda Nabi

Sumber: Syeikh Nuruddin marbu Al Banjari

Tawassul kepada Rasulullah SAW

Kenapa ada satu golongan yang sangat benci kepada pihak yang bertawassul kepada Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam yang telah wafat ?

Sebab mereka ingat Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam itu darjatnya sama macam mannusia biasa. Jika wafat, maka tidak ada apa-apa kelebihan pada baginda.

Begitulah mereka yang tidak meletakkan Rasulullah itu sebagai kekasih Allah. Dan kerana itu, larangan Rasulullah agar jangan mensyirikkan umat Islam pun mereka berani langgar.

Nabi sallaLlahu alaihi wasallam di dalam sabdanya :

"Hidupku mengandungi kebaikan bagi kalian, kalian melakukan sesuatu dan diberikan penjelasan bagi kalian (diturunkan wahyu). dan kematianku, mengandung kebaikan bagi kalian. Amal-amal kalian diperlihatkan kepadaku, apabila kebaikan yang aku lihat, akupun mengucapkan puji syukur kepada ALlah subahanahu wa ta'ala. dan apabila keburukan yang aku lihat, aku memohonkan ampunan kepada ALlah subahanahu wa ta'ala untuk kalian.
Hadith riwayat al Bazzar 4-9 vol 5, hlmn 308. Dailami, Musnad Al Firdaus vol 2 hlmn 137, Hariths dengan tambahan-tambahan al Haitsami, Musnad Hariths vol 2 hlmn 884; dan al Haitsami mengemukakannya di dalam Majma' az Zawaid vol 9, hlmn 23, dan mengiringinya dengan perkataan "Para tokoh periwayatnya adalah tokoh-tokoh periwayat sohih (hadith sohih).

RasuluLlah bersabda lagi :

Tidaklah seseorang mengucapkan salam kepadaku kecuali ALlah subahanahu wa ta'ala mengembalikan nyawaku, sehingga aku membalas salamnya"

(Hadith riwayat Ahmad, Musnad Ahmad vol 2, hlmn 527; Abu daud Sunan Abu daud vol 2, hlmn 218, Thobrani, Al Mu'jam al Awsath, vol 3, hlmn 262, Baihaqi, As Sunan al Kubra, vol V hlmn 245, dan Syu'ab Al Iman, vol 2, hlmn 217, Dailami, Musnad al Firdaus vol 4, hlmn 24, dan al Mundziri, Al targhib wa at tarhib, vol 2, hlmn 326, Al Haitsami menyebutkannya di dalam majma' al zawaid vol 10, hlmn 25, dan al Hafiz Ibnu Hajar , Al Fath al Bari vol 6, hlmn 488, memberikan komentar terhadapnya, :"Para periwayatnya adalah tokoh-tokoh thiqah" dan dia juga menjawab berbagai persoalan yang berkenaan dengan sudut logik yang ditujukan kepadanya.

Telah sohih bahawa Nabi beribadah kepada Tuhan di dalam kubur. Diriwayatkan dari Saidina Anas radiyaLlahu 'anhu bahawa Nabi sallaLlahu 'alaihi wasallam bersabda yang bererti :

"Aku melalui Nabi Musa 'alaihissalam pada malam Isra' di sebuah tempat pasir merah bertompok. Baginda Musa 'alaihissalam sedang berdiri melaksanakan solat di dalam kuburnya.

(Hadith riwayat Ahmad, Musnad Ahmad vol 2, hlmn 315; Muslim, Sohih Muslim, vol 4, Hlmn 1845, Nasa'i As Sunan al Kubra, vol 1, hlm 419; Ibn Hibban, Sohih Ibnu Hibban, vol 1, hlm 242,; Ibn Abi Syaibah, Mushannaf Ibn Abi Syaibah, vol 7, hlm 335, dan Thobrani, Al Mu'jam al Ausath, vol 8, hlm 13.

RasuluLLah sallaLlahu 'alaihi wasallam bersabda lagi yang bermaksud :
Para nabi hidup di dalam kubur, mereka (melaksanakan) solat (beribadah)

Hadith riwayat Dailami, Musnad al Firdaus, vol 1, hlm 119; Abu Ya'la, Musnad abu Ya'la, vol 6, hlm 147; Ibnu 'Adi, Al Kamil. vol 2, hlm 327; dan Haithami menyebutkan dalam Majma' az Zawa'id vol 8, hlmn 211, beliau memberikan pandangan dengan perkataan "Dan para periwayat Abu Ya'la adalah orang-orang yang thiqah.

Na'uzubillah. Jangan sampai terkena penyakit anti Ahli Sunnah wal Jamaah.

(Sumber: Kami Tidak Mahu Fahaman Wahhabi Di Malaysia)

Hukum menghukum syirik keatas saudara seislam tanpa hak

Hadith dari Huzaifah bin Yaman di mana RasuluLlah sallaLLahu ‘alaihi wasallam bersabda yang bererti :

Sesungguhnya perkara yang aku khuatirkan ke atas kamu semua adalah seseorang yang telah membaca al Quran sehingga apabila telah nampak kepandaiannya dalam al Quran dan dia telah menjadi pendokong Islam, tiba-tiba sahaja dia merubahnya kepada sesuatu yang dikehendaki oleh ALlah, maka iapun terlepas dari al Quran dan melemparkannya ke belakang serta mengancam tetangganya dengan pedang sambil melemparinya dengan tuduhan syirik. Aku bertanya : Wahai Nabi ALlah mana di antara keduanya yang lebih patut di anggap melakukan kesyirikan? Orang yang dituduh ataukah yang melemparkan tuduhan? Nabi menjawab : Yang melemparkan tuduhan.

(Hadith dikeluarkan oleh Ibnu Hibban pada hadith no 81 dan Ibnu Kathir dalam tafsirnya jilid II/266, dia berkata : Isnad Hadith ini bagus. Begitu juga ditakhrij oleh Al Bazzar dalam Musnadnya dengan pernyataan yang sama, At Thabroni dalam Al Kabir dan As Saghir dengan pernyataan yang sama dan Ibnu Abi Ashim dalam kitab As Sunnah).

عن حُذَيْفَة بْن الْيَمَانِ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : إِنَّمَا أَتَخَوَّفُ عَلَيْكُمْ رَجُلا قَرَأَ الْقُرْآنَ حَتَّى إِذَا رُئِيَ عَلَيْهِ بَهْجَتُهُ ، وَكَانَ رِدْءًا لِلإِسْلامِ اعْتَزَلَ إِلَى مَا شَاءَ اللَّهُ، وَخَرَجَ عَلَى جَارِهِ بِسَيْفِهِ، وَرَمَاهُ بِالشِّرْكِ.

أخرجه البزار (رقم 2793) وقال: إِسْنَادُهُ حَسَنٌ، وقال الهيثمى أيضاً (1/188): إسناده حسن. وابن حبان في صحيحه (رقم 81)، وأبو يعلى، والضياء المقدسي. الردء: العون والناصر. وفي شرح مشكل الآثار للطحاوي (865): …قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ أَيُّهُمَا أَوْلَى بِالشِّرْكِ الْمَرْمِيُّ أَوِ الرَّامِي؟ قَالَ: لَا بَلِ الرَّامِي. وأخرجه الطبراني عن معاذ (20/88 ، رقم 169) بنحوه بلفظ:أخوف ما أخاف على أمتى ثلاث رجل… وذكر هذا أولهم.

Terjemahan: Dari Huzaifah bin al-Yaman RA katanya: Sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya aku takut ke atas kamu sekalian seorang lelaki yang membaca al-Quran sehingga apabila telah terlihat pada dirinya seri al-Quran itu, dan ia sebagai pembantu bagi agama Islam, dia pun mengasingkan diri sehingga masa yang dikehendaki Allah, lalu dia keluar kepada jirannya dengan pedang, serta melontarnya dengan tuduhan syirik”.

(Riwayat al-Bazzar, Ibn Hibban, Abu Ya’la, dan al-Dhiya’. Kata al-Haythami: Isnadnya hasan)

Dalam riwayat al-Tahawi dan al-Tabarani: Aku bertanya: Ya Rasulullah, yang manakah lebih layak dengan tuduhan syirik itu, yang dilontar atau yang melontar? Jawab baginda: “Tidak, bahkan yang melontar”.

Jauhilah golongan yang mudah menghukum SYIRIK kepada ulamak dan umat Islam. Ternyata apabila bermudah-mudah menghukum syirik kepada ungkapan MADAD YA RASULALLAH bermakna juga telah menjatuhkan syirik kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam sendiri, dan salafussoleh yang lainnya.

Na’uzubillahi min zalik.

Oleh: Ustaz Zamihan Al-Ghari

Pencerahan mengenai ungkapan al madad ya Rasulullah

1) Memohon pertolongan kepada Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam hakikatnya kita memohon kepada Allah. Ia tergantung kepada niat si pemohon berkenaan.

Tidak boleh dengan hawa nafsu menghukum syirik kepada sesama saudara seIslam tanpa diselidik. Perlu difahami dalam kehidupan seharian (bukan dalam konteks doa) kita juga memohon pertolongan kerana kelebihan dan kemampuan yang ada pada orang yang kita minta bantuan berkenaan.

Ungkapan 'Ibu dan Ayah mohon tolong doakan untuk berjaya dalam peperiksaan'

'Doktor tolong sembuhkan anak saya'

Orang yang beriman pastinya tahu kesembuhan, terkabulnya doa adalah dengan izin Allah. Dan banyak lagi kita gunakan dalam kehidupan seharian. Adakah dengan sewenang-wenangnya kita boleh jatuhkan permohonan ini sebagai SYIRIK ?

2) ALlah menyebutkan kata wasilah di dalam kitab suciNya yang mulia di dalam 2 ayat. Pada ayat pertama ALlah menunrunkan perintah melakukannya. ALlah berfirman yang bererti :

"Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada ALlah subahanahu wata'ala dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepadaNya (Al Maidah :35)

3) Pada ayat yang kedua, ALlah memuji orang-orang yang bertawasul kepadaNya dalam doa seruan mereka. ALlah subahanahu wa ta'ala berfirman yang bererti :

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan (wasilah) kepada Tuhan mereka, siapakah di antara mereka yang lebih dekat (kepada ALlah) dan mengharapkan rahmatNya dan takut akan azabNya. Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang amat (harus) ditakuti" (Al Isra' : 57)

RASULULLAH MENGAJAR MEMOHON BANTUAN DARIPADA HAMBA ALLAH

4) Hadith "BANTULAH wahai para hamba ALLah subhanahu wa ta'ala" Diriwayatkan dari Saidina Ibnu Abbas radiyaLLahu 'anhu bahawa RasuluLlah sallaLLahu 'alaihi wasallam bersabda :

"sesungguhnya ALLah subahanahu wa ta'ala mempunyai para malaikat di bumi selain para malaikah hafazhah. Mereka menulis setiap apa yang terjatuh dari pangkal pohon. Maka, jika salah seorang kalian tertimpa kesulitan (tersesat jalan) di tengah hutan, hendaklah ia menyeru: "Bantulah, wahai para hamba ALLah subahanahu wa ta'ala...

(Hadith riwayat Ibnu Abi Syaibah, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, vol 6 hlm 91; Baihaqi, Syu'ab Al Iman, vol I hlm 183; dan disebutkan oleh Al Haithami di dalam kitab Majma' Az Zawaid, vol 1, hlm 132).

Al Hafizh Al Haithami memberikan pendapat (pandangan) terhadap sanadnya. "Hadith ini telah diriwayatkan oleh Thobrani dan para tokoh periwayatnya adalah orang-orang thiqah (terpercaya). (Al Haithami, Majma' az Zawaid, vol 10, 132)

5) HADITH SAHIH MEMOHON PERTOLONGAN KEPADA RASULULLAH

Kisah meminta hujan di sisi maqam Nabi Muhammad sallaLLahu 'alaihi wasallam pada zaman khalifah saidina Umar bin Khattab radiyaLlahu 'anhu. Diriwayatkan dari Malik al Dar radiyaLlahu 'anhu, dia adalah bendahara Saidina Umar radiyaLlahu 'anhu, dia berkata; ..kekeringan (kemarau) teruk telah melanda kehidupan manusia di zaman Saidina Umar radiyaLlahu 'anhu. Lalu seorang lelaki datang ke maqam Nabi sallaLLahu 'alaihi wasallam dan berkata :

"Wahai RasuluLlah (sallaLLahu 'alaihi wasallam) mintakan hujan untuk umatmu kerana mereka sungguh telah binasa (menderita)."

Rupa-rupanya RasuluLlah sallaLLahu 'alaihi wasallam telah menjumpainya dalam mimpi dan bersabda, "Datanglah kepada Saidina Umar radiyaLlahu 'anhu dan sampaikan salamku kepadanya dan beritahukan bahawa mereka akan dilimpahkan hujan. Katakan kepadanya : Maka hendaklah kamu bijaksana, bijaksana (cerdas dan tepat dalam membuat keputusan).' Lelaki itu datang kepada Saidina Umar radiyaLLahu 'anhu dan menyampaikan kepadanya perihal itu. Saidina Umar radiyaLlahu 'anhu berkata, "Ya Tuhanku, aku tidak lalai (iaitu selalu bersungguh-sungguh) kecuali apa yang aku tidak mampu,"

(Hadith riwayat Ibnu Abi Syaibah, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, vol 6, hlm 356; dan Ibnul Abdul Barr, Al Isti'ab, vol 3, hlm 1149)

Hadith ini sohih; dinyatakan sohih oleh Al Hafizh Ibnu Hajar al Asqalani dengan tegas dalam perkataannya, "Dan Ibnu Abi Syaibah radiyaLLahu 'anhu meriwayatkan dengan sanad sohih dari riwayat Saleh Al Samman dari Malik Al Dar radiyaLLahu 'anhu dia berkata;

"Kekeringan (kemarau) teruk telah melanda kehidupan manusia di zaman Saidina Umar radiyaLlahu 'anhu. Lalu ada seorang lelaki datang ke maqam Nabi sallaLLahu 'alaihi wasallam dan berkata: "Wahai RasuluLlah mintakan hujan untuk umatmu kerana mereka sungguh telah binasa (menderita). Rupa-rupanya RasuluLlah sallaLLahu 'alaihi wasallam telah menjumpainya di dalam mimpi dan bersabda, "Datanglah kepada Saidina Umar radiyaLlahu 'anhu...", hadith selengkapnya..."

Daripada Saif radiyaLLahu 'anhu di dalm kitab "Al Futuh" meriwayatkan bahawa orang yang bermimpi tersebut adalah Bilal bin Harits Al mUzani radiyaLLahu 'anhu, salah seorang Sahabat Nabi sallaLlahu 'alaihi wasallam .. - (Al HAfizh Ibnu Hajar, Fathul Bari, vol 2, hlm 495 dan 496)

"Hadith ini Sanadnya Sohih" Hadith ini telah dinyatakan sohih oleh para tokoh penghafal hadith terkemuka (hafizh), sehingga layak menjadi dalil atas bolehnya meminta kepada Nabi Muhammad sallaLlahu 'alaihi wasallam untuk memohonkan hujan dan berdoa setelah perpindahan Baginda sallaLlahu 'alaihi wasallam yang mulia dari kehidupan dunia.

6) Kisah Khalifah Al Mansur dengan Imam Malik radiyaLlahu 'anhu ceritanya begini, suatu hari Abu Ja'far Al Manshur Al Abbasi, Khalifah kedua kekuasaan Abbasiyah, bertanya kepada Imam Malik radiyaLlahu 'anhu,

"Wahai Abu AbdiLlah, apakah aku menghadap RasuluLlah sallaLlahu 'alaihi wasallam dan berdoa atau aku menghadap kiblat dan berdoa?" Imam Malik radiyaLLahu 'anhu menjawab, "Kenapa kamu harus memalingkan wajahmu daripadanya, sedangkan dia adalah wasilahmu dan wasilah ayahmu, Nabi Adam alaihissalam kepada ALlah subahanahu wa ta'ala pada hari qiamat? Oleh itu, menghadaplah kepadanya dan mohonlah syafaat darinya, memang jelas ALlah subahanahu wa ta'ala memberikan (kelebihan) syafaat kepadanya."

(Kisah ini diriwayatkan oleh Abu Hassan Ali bin Fihr di dalam kitabnya "Fahdail Malik" dengan sanad yang tidak mengapa (tidak cacat); diriwayatkan oleh Qadhi 'Iyadh di dalam kitab As Syifa' dari jalur riwayatnya dari beberapa guru di antara guru-gurunya yang thiqah; demikian juga disampaikan ole Imam as Subki di dalam kitab Syifa As Siqam, Al Samhudi di dalam kitab Wafa Al wafa, dan Al Qasthalani di dalam kitab Al Mawahib Al Laduniyyah. Dalam kitab Al Jauhar Al munazzham, Ibnu Hajar berkata, "Ini diriwayatkan dengan sanad sohih," Al Allamah Al Zarqani, di dalam kitab Syarh Al Mawahib berkata, "Sesungguhnya Ali bin Fihr menyampaikan cerita ini dengan sanad yang hasan dan Qadhi 'Iyadh menyampaikan dengan sanad yang sohih.")

7) HUKUM MENGHUKUM SYIRIK KE ATAS SAUDARA SEISLAM TANPA HAK

hadith dari Huzaifah bin Yaman di mana RasuluLlah sallaLLahu 'alaihi wasallam bersabda yang bererti :

Sesungguhnya perkara yang aku khuatirkan ke atas kamu semua adalah seseorang yang telah membaca al Quran sehingga apabila telah nampak kepandaiannya dalam al Quran dan dia telah menjadi pendokong Islam, tiba-tiba sahaja dia merubahnya kepada sesuatu yang dikehendaki oleh ALlah, maka iapun terlepas dari al Quran dan melemparkannya ke belakang serta mengancam tetangganya dengan pedang sambil melemparinya dengan tuduhan syirik. Aku bertanya : Wahai Nabi ALlah mana di antara keduanya yang lebih patut di anggap melakukan kesyirikan? Orang yang dituduh ataukah yang melemparkan tuduhan? Nabi menjawab : Yang melemparkan tuduhan.

(Hadith dikeluarkan oleh Ibnu Hibban pada hadith no 81 dan Ibnu Kathir dalam tafsirnya jilid II/266, dia berkata : Isnad Hadith ini bagus. Begitu juga ditakhrij oleh Al Bazzar dalam Musnadnya dengan pernyataan yang sama, At Thabroni dalam Al Kabir dan As Saghir dengan pernyataan yang sama dan Ibnu Abi Ashim dalam kitab As Sunnah).

عن حُذَيْفَة بْن الْيَمَانِ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : إِنَّمَا أَتَخَوَّفُ عَلَيْكُمْ رَجُلا قَرَأَ الْقُرْآنَ حَتَّى إِذَا رُئِيَ عَلَيْهِ بَهْجَتُهُ ، وَكَانَ رِدْءًا لِلإِسْلامِ اعْتَزَلَ إِلَى مَا شَاءَ اللَّهُ، وَخَرَجَ عَلَى جَارِهِ بِسَيْفِهِ، وَرَمَاهُ بِالشِّرْكِ.

أخرجه البزار (رقم 2793) وقال: إِسْنَادُهُ حَسَنٌ، وقال الهيثمى أيضاً (1/188): إسناده حسن. وابن حبان في صحيحه (رقم 81)، وأبو يعلى، والضياء المقدسي. الردء: العون والناصر. وفي شرح مشكل الآثار للطحاوي (865): ...قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ أَيُّهُمَا أَوْلَى بِالشِّرْكِ الْمَرْمِيُّ أَوِ الرَّامِي؟ قَالَ: لَا بَلِ الرَّامِي. وأخرجه الطبراني عن معاذ (20/88 ، رقم 169) بنحوه بلفظ:أخوف ما أخاف على أمتى ثلاث رجل... وذكر هذا أولهم.

Terjemahan: Dari Huzaifah bin al-Yaman RA katanya: Sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya aku takut ke atas kamu sekalian seorang lelaki yang membaca al-Quran sehingga apabila telah terlihat pada dirinya seri al-Quran itu, dan ia sebagai pembantu bagi agama Islam, dia pun mengasingkan diri sehingga masa yang dikehendaki Allah, lalu dia keluar kepada jirannya dengan pedang, serta melontarnya dengan tuduhan syirik”.

(Riwayat al-Bazzar, Ibn Hibban, Abu Ya’la, dan al-Dhiya’. Kata al-Haythami: Isnadnya hasan)

Dalam riwayat al-Tahawi dan al-Tabarani: Aku bertanya: Ya Rasulullah, yang manakah lebih layak dengan tuduhan syirik itu, yang dilontar atau yang melontar? Jawab baginda: “Tidak, bahkan yang melontar”.

Jauhilah golongan yang mudah menghukum SYIRIK kepada ulamak dan umat Islam. Ternyata apabila bermudah-mudah menghukum syirik kepada ungkapan MADAD YA RASULALLAH bermakna juga telah menjatuhkan syirik kepada Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam sendiri, dan salafussoleh yang lainnya.

Na'uzubillahi min zalik.

Oleh: Ustaz Zamihan Al-Ghari

Ahad, November 09, 2014

Bagaimana Rasulullah Mengubati Penyakit Masyarakat

 

Sudah menjadi fitrah manusia itu ia ingin hidup aman damai. Begitu juga fitrah manusia itu, dia tidak mahu berlakunya krisis, kemungkaran, pemerkosaan dan segala penyakit masyarakat.

Andaikata kalau dia seorang pemimpin, dia mahu orang yang dipimpin itu meletakkan ketaatan kepadanya. Begitu juga kalau dia seorang yang dipimpin, dia mahu pemimpinnya meletakkan keadilan kepadanya. Andaikata kalau dia seorang ayah, dia mahu anak-anaknya memberikan ketaatan dan kepatuhan kepadanya. Begitu juga kalau dia seorang anak, dia mahu ibu dan ayahnya meletakkan kasih sayang kepadanya. Begitu jugalah suami kepada isterinya, dan isteri kepada suami. Andaikata seorang pemimpin, ibu, ayah, guru, suami, isteri dapat meletakkan diri pada tempat masing-masing. Begitu juga seorang rakyat, anak murid, dapat meletakkan diri pada tempat masing-masing, maka tidak akan terjadi pergaduhan, pertengkaran diatas muka bumi ini.

Tapi kalau kita lihat, apa yang terjadi adalah sebaliknya. Firman Allah yang ertinya: "Telah berlaku kerosakan di daratan dan di lautan akibat dari tangan-tangan manusia" [Q.S Ar-Rum : 41]

Hal ini terjadi bila pemimpin tidak dapat memberi keadilan, terhadap orang-orang yang dipimpinnya. Begitu juga orang yang dipimpinnya tidak dapat memberikan ketaatan kepadanya. Ibu ayah juga tidak dapat memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya, begitu juga anak-anak tidak dapat memberikan ketaatan terhadap ibu dan ayahnya. Begitu juga guru terhadap murid dan murid terhadap gurunya, suami terhadap isterinya dan isteri kepada suaminya. Sebab itu dapat kita lihat berbagai-bagai masalah timbul dari sekecil-kecil masalah hinggalah ke sebesar-besar masalah. Dari rumahtangga, hinggalah ke negara-negara yang hebat pemimpinnya.

Telah berbagai cara dan jalan dicari untuk menyelesaikan masalah.

Ada yang mengatakan :

  1. Kekayaan dapat menyelesaikan masalah ini. Maka merekapun berusaha bersungguh-sungguh mendapatkannya, tetapi tidak juga dapat menyelesaikan masalah ini.
  2. Ada pula yang mengatakan kepandaian dan ilmu pengetahuan akan dapat menyelesaikan masalah ini. Maka merekapun berusaha bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya, tetapi juga tidak berhasil untuk menyelesaikan masalah ini, bahkan bertambah rumit lagi.
  3. Ada juga yang mengatakan pangkat dan darjat dapat menyelesaikan masalah ini, tetapi ini juga tidak berhasil menyelesaikan masalah yang melanda masyarakat, bahkan bertambah parah dan rumit lagi.
  4. Ada yang mencadangkan hukuman sebagai jalan keluar, tetap tidak berkesan, terbukti semakin ramai yang sedang menunggu hukuman gantung, semakin ramai jadi penghuni penjara dan pusat serenti. Masalah tetap tidak selesai malah makin bertambah.

Jadi jalan yang paling mudah untuk kita selesaikan masalah ini haruslah kita kembalikan kepada Al Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW. Al Qur'an dan Sunnah dapat memberikan jawapan yang tepat, dari manakah akar dari masalah-masalah tersebut.

Firman Allah SWT yang ertinya : "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah sesuatu kaum itu, sehingga mereka mengubah yang ada di dalam diri mereka (hatinya)" [Q.S Ar-Rad : 11]

Hadits Rasulullah SAW yang ertinya : "Di dalam diri manusia itu ada seketul daging. Jika baik daging itu maka baiklah jasadnya. Jika rosak daging itu, maka rosaklah jasadnya. Ketahuilah itu adalah hati." (riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Abu Hurairah melaporkan dalam sebuah hadis "Hati adalah umpama raja dan anggota badan adalah sebagai pengawalnya. Apabila raja memerintah dengan baik, maka pengawalnya tentu bertugas dengan baik. apabila rajanya melakukan sesuatu yang tidak baik, maka sudah tentu pengawalnya pun begitu juga"

Dapat kita lihat dari Al Qur'an dan Hadits tadi setiap penyakit yang timbul pada diri manusia itu, adalah berawal dari hati. Hati yang sakit (jahat) akan mendorong mata, kaki, tangan berbuat jahat. Maka lahirlah masyarakat yang jahat, seperti merompak, membunuh, memfitnah, mengumpat dan sebagainya.

Penyakit masyarakat (rosak aqidah, tak solat, bergaul bebas, dedah aurat, zina, anak luar nikah, buang anak........terlalu panjang senarainya...) boleh diibaratkan sebagai sebatang pokok yang mengeluarkan buah yang beracun. Buah yang beracun itu disebabkan pokok yang beracun. Jadi untuk menghilangkan buah yang beracun itu hendaklah ditebang pokok itu terlebih dahulu. Bukan buang buah atau cantas dahan saja. Sebab kalau yang dibuang buahnya atau cantas dahan saja, sepuluh buah yang kita buang akan tumbuh pula sepuluh pokok/ dahan yang beracun. Begitulah seterusnya.

Oleh itu untuk panduan yang lebih jelas lagi, kita lihat bagaimana Rasulullah dapat mengubat penyakit masyarakat ketika itu hingga menjadikan orang miskin sabar dan redha dalam kemiskinan dan orang kaya pemurah. Seperti Abu Hurairah yang menjadi ketua dari puluhan fakir miskin yang tinggal di Serambi Masjid Madinah. Sayidatina Fatimah, seorang wanita miskin walaupun anak Rasulullah dan menikah pula dengan Sayidina Ali yang begitu miskin lagi pejuang pula. Kemudian perpecahan diantara satu golongan dapat disatukan seperti Muhajirin dan Ansar.

Baginda Rasulullah SAW dapat mendidik masyarakat jahiliah kepada kenal dan cinta kepada Allah SWT. Rasulullah SAW saat itu diutus sebagai Pembawa Rahmat kepada sekalian alam.

Firman Allah yang ertinya : "Dan tidak diutuskan kamu (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat pada sekalian alam" [Q.S. Al Anbiya : 107]

Dengan keberkatan dan ketabahan Rasulullah SAW itu, Baginda dapat mengembalikan masyarakat kepada kebenaran.

Krisis Masyarakat di Zaman sebelum Rasulullah

Sebelum dibahas tentang bagaimanakah Rasulullah mengubati penyakit masyarakat jahiliah di zamannya, terlebih dahulu kita mengetahui akan apakah penyakit masyarakat yang kritikal ketika itu. Sebelum Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Rasul, masyarakat tertimpa berbagai macam krisis dan penyakit jiwa.

Di antara penyakit yang menimpa masyarakat :

  • Sangat memuja berhala. Hati masyarakat begitu melekat kepada berhala.
  • Terlalu ketagihan dengan arak/alkohol.
  • Terlalu suka dengan riba. Bunga tinggi, tak sanggup bayar, jadi hamba.
  • Wujudnya dua empayar besar yaitu Rome dan Parsi yang menindas negara-negara lemah.
  • Pelacuran amat leluasa merebak di tengah masyarakat.
  • Akhlak kaum wanita ketika itu amat rendah.
  • Manusia terlalu bakhil, terlalu gila harta sehingga harta orang hendak dijadikan harta dia.
  • Perpecahan menjadi-jadi. Terjadi peperangan. Kadang peperangan besar hanya disebabkan hal kecil.

Cara Rasulullah Menyelesaikan Krisis

Rasulullah hanya tanamkan 3 pil saja pada diri masyarakat Jahiliah ketika itu.

Pertama, Rasulullah menanam kembali rasa tauhid ke dalam hati masyarakat sehingga manusia terasa akan kebesaran Tuhan, kasih sayang, kehebatan dan keperkasaan Tuhan. Hingga wujud rasa berTuhan dan rasa kehambaan dalam jiwa masyarakat.

Kedua, Rasulullah menanamkan kembali cinta kepada Akhirat. Beliau memperkatakan tentang Syurga dan Neraka.

"Akhirat itu adalah lebih utama, lebih baik daripada dunia." (Q.S. Ad Dhuha : 4)

"Akhirat itu adalah lebih baik dan lebih kekal" (Q.S. Al A'la : 17)

Lahirlah manusia yang jiwanya terpaut dengan Akhirat. Akhirnya bukan saja harta dihabiskan untuk Akhirat bahkan nyawa sendiri dikorbankan. Mereka mahu cepat-cepat kembali ke Akhirat. Mereka mahu mati syahid menjadi para syuhada.

Ketiga, Rasulullah menanam semangat dan perasaan cinta akan sesama manusia terutamanya umat Islam untuk mengikis penyakit terlalu cinta diri sendiri, keluarga atau kawan-kawan sendiri. Lahirlah perpaduan dan ukhwah. Hiduplah mereka dalam berkasih sayang, bertolong bantu antara satu sama lain.

"Tidak sempurna iman seseorang dari kamu sehingga dia mencintai diri saudara-saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri" "Sebaik-baik manusia ialah manusia yang banyak berkhidmat kepada manusia yang lain"

"Barang siapa yang menunaikan hajat saudara lain, Tuhan akan tunaikan padanya 70 hajat"

Terjalin perasaan ghairah apabila menolong orang lain. Lahir perasaan kasih sayang pada orang lain. Mereka dapat merasakan nasib orang lain seperti nasib mereka sendiri, kesenangan orang lain seperti kesenangan sendiri, kesusahan orang lain seperti kesusahan sendiri, darah orang lain seperti darah sendiri, nyawa orang lain seperti nyawa sendiri.

Dengan 3 pil inilah Rasulullah dapat mendidik manusia-manusia Jahiliyah ketika itu hinggakan Allah telah memuji Rasulullah dan generasi ketika itu.

Firman Allah yang ertinya : "Kamu adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia yang mengajak kepada Ma'ruf dan mencegah yang mungkar dan beriman kepada Allah" [Q.S. Ali Imran : 110]

Hadits Rasulullah SAW yang ertinya : "Sahabat-sahabatku adalah seperti bintang-bintang di langit. Jika diikuti diantara mereka nescaya kamu akan mendapat petunjuk"

Penyelesaian untuk zaman ini

Contoh telah terbentang di hadapan mata. Jika benar beriman kepada Allah dan Rasul, ikutilah cara Al Qur'an dan Sunnah, yang telah ditunjukkan Baginda Rasulullah SAW. Kita kini terlalu banyak berteori dalam mengatasi gejala sosial dan penyakit masyarakat yang semakin meruncing saban hari.

Dalam Islam, HUKUMAN adalah perkara terakhir, setelah semua perkara-perkara asas dilaksanakan. Maka tidak wajar HUKUMAN didahulukan jika kita belum menempuh disiplin dakwah yang ditunjukkan Nabi SAW.

Hari ini bukan tidak banyak ulama, pendakwah, guru, pakar motivasi dan sewaktu dengannya, tetapi usaha menanamkan iman ke dalam jiwa manusia amat kurang dilaksanakan. Yang amat diperlukan ialah membawa manusia kembali merasa kehambaan dan rasa berTuhan, menerima Allah sebagai tuhannya, lantas mahu menyembahnya.

Menanam iman tidak semudah menanam pokok. Sedangkan menanam pokok perlu dijaga, dibaja, dipagar, diracun musuh-musuhnya, inikan pula iman. Tetapi jika memandang pada payahnya, tanpa memulakan usaha, pasti tidak berjaya. Kena lihat kembali bagaimana Rasululllah SAW membaiki masyarakat di zamannya dengan iman, hingga lahir masyarakat yang agung akhlaknya.

Sumber: https://www.facebook.com/notes/457367031718/

Rabu, November 05, 2014

Kesesatan Islam Liberal

Dr Riduan Mohamad Nor – Aliran Liberalisme lahir di Barat adalah lanjutan daripada zaman Renaisans (kebangkitan) yang berlaku di Eropah. Ia adalah hasil daripada tindak balas kaum intelek Eropah terhadap penindasan gereja terhadap ilmu sains dan juga teori-teori palsu ciptaan cendekiawan Yahudi untuk memusnahkan agama Kristian. Aliran pemikiran ini bertujuan untuk meningkatkan kebebasan yang diberi kepada individu.

Sebagaimana Ideologi Liberal atau Liberalisme di Barat yang terbina di atas kebebasan individu (dari cengkaman agama) dan perasaan syak atau ragu terhadap agama, maka begitu juga dengan fahaman Islam Liberal. Fahaman Islam Liberal berakar pada kebebasan akal tanpa batasan ditambah pula dengan perasaan syak dan ragu terhadap Islam. Bagi pendukung fahaman Islam Liberal, tidak ada di dalam agama suatu yang dianggap kudus dan suci yang tidak boleh dikritik atau dipertikai. Sepertimana Muktazilah, golongan Islam meletakkan akal lebih tinggi dari wahyu. Kerana itu mereka layak digelar Muktazilah moden atau Neo-Muktazilah.

Bagi mereka, penerimaan terhadap wahyu hendaklah berasaskan kepada penilaian akal dan rasional. Tidak ada yang dapat dikategorikan sebagai Qat’iyyat atau Musallamat iaitu ajaran-ajaran agama mesti diterima kebenarannya tanpa merujuk kepada akal terlebih dahulu (yakni diterima atas dasar iman dan keyakinan kepada Allah dan Rasul) sebagaimana yang menjadi pegangan umat Islam selama ini. Semua ajaran dalam agama bagi mereka adalah Dzanniyat (tidak pasti) dan Muhtamalat (mengandungi pelbagai kemungkinan). Oleh demikian, ia tertakluk kepada penerimaan akal dan rasional.

Golongan Islam Liberal tidak menzahirkan diri mereka sebagai orang yang menolak agama, tetapi berselindung di sebalik gagasan mengkaji semula agama, mentafsir semula al-Quran, menilai semula as-Sunnah dan menapis semula hukum-hakam Syari’at dan Fiqh. Mereka menolak segala tafsiran yang dianggap lama dan kolot mengenai agama termasuklah dalam hal-hal yang telah menjadi Ijmak ulama termasuklah tafsiran dari Rasulullah SAW, para sahabat dan ulama-ulama mujtahid. Bagi mereka, agama hendaklah ditundukkan kepada waqi’ (realiti) semasa sekalipun terpaksa menafikan hukum-hakam dan peraturan agama yang telah sabit dengan nas-nas Syarak secara qat’ie (putus). Jika terdapat hukum yang difikirkan tidak menepati zaman dan kemodenan maka hukum itu hendaklah ditakwilkan atau sebolehnya digugurkan.

Menurut Syeikh Abdullah Khatib dalam bukunya (Islam adalah penyelesaian; jawapan kepada pendakyah-pendakyah free thinker);

Golongan pemikiran bebas mempunyai agenda-agenda tersendiri yang menjadi matlamat mereka, iaitu;

1. Untuk menggugurkan agama secara sepenuhnya dari masyarakat iaitu memisahkan agama dari pendidikan, menjauhkan Syariat Islam dari kedudukannya sebagai sumber perundangan dan mengasaskan di atas dasar riba.

2. Untuk menjauhkan fikrah atau pemikiran manusia dari setiap yang mempunyai kaitan dengan roh, wahyu dan alam ghaib dan dari segala ikatan dengan akhlak, aqidah dan keimanan kepada Allah.

3. Untuk memartabatkan ketuanan akal, kebendaan (materialis) dan ilhad (ketidakpercayaan kepada agama dan wahyu) dalam setiap urusan kehidupan dan menjadikan Islam hanya sebagai agama rohani semata-mata dan menolak agama sebagai penentu dan pencorak perjalanan politik.

Golongan Islam Liberal mempunyai kecenderungan yang kuat untuk menghidupkan kembali pemikiran Muktazilah yang menurut mereka mewakili kumpulan Islam Rasional dalam sejarah peradaban Islam. Kerana itu, tokoh-tokoh Islam Liberal di Timur Tengah seperti Ahmad Amin, Thaha Husain dan sebagainya amat menyanjung Muktazilah dan memusuhi golongan Ahlus-Sunnah Wal Jamaah khususnya Asya’irah yang dituduh jumud, beku dan anti-rasional. Ahmad Amin pernah menulis; “Kaum Muslimin lemah dan mundur kerana mereka tidak menggunakan cara berfikir Muktazilah…..”. (Lihat; al-Muamarat ‘Ala al-Islam, oleh Anuar al-Jundi, hlm 19).

Tidak terkecuali dari kecenderungan sedemikian tokoh-tokoh Islam Liberal Indonesia dan Malaysia. Sebagai contohnya, Kassim Ahmad dalam bukunya ” Hadis; Jawapan kepada Pengkritik”, telah menegaskan; “Untuk mengetahui di mana umat Islam telah tersilap bila mereka mendapati diri mereka terjebak dalam kemerosotan berpanjangan, kita harus mengesan langkah-langkah kita kembali ke dalam sejarah. Sebelum kaum teologi Assy’ariyyah menang mengatasi kaum rasional Muktazilah dalam abad-abad kesepuluh, kesebelas dan kedua belas, aliran saintifik dan rasional kuat dalam sains Islam, yang sememangnya telah menyebabkan terbina sains dan tamadun saintifik Islam yang agung. Di antara masalah-masalah yang hangat diperdebatkan di kalangan mereka ialah kebebasan dan tanggungjawab manusia di atas perbuatannya dan keadilan dan keesaan Ilahi. Dalam perbahasan ini, kaum Muktazilah mewakili aliran saintifik dan rasional. Malangnya, keadaan di Timur pada masa itu tidak memihak kepada mereka, berbeza dengan keadaan di Barat. Kaum Muktazilah tewas. Peristiwa bersejarah ini memberi laluan kepada kaum Assy’ariyyah berkuasa di seluruh Timur”.(Halaman 80)

Aliran Islam Liberal wujud hampir di setiap negara umat Islam hari ini. Nama mereka mungkin berbeza-beza dan mungkin tidak dikenali dengan nama tertentu, akan tetapi manhaj dan gaya mereka tetap sama iaitu meragui Syariat dan hukum-hakam agama, berprasangka buruk terhadap ulama dan mentafsir agama dan al-Quran melalui akal secara bebas. Apabila menyebut tentang tokoh-tokoh Islam Liberal, terdapat satu kesamaan antara mereka semua iaitu mereka pernah mendapat didikan di negara Barat atau pernah berkhidmat di mana-mana institusi Barat. Pengalaman ini menyebabkan mereka cenderung kepada apa sahaja yang berasal dari Barat tanpa memisahkan antara yang baik dan yang salah.

Manakala di rantau Asia Pasifik pula, negara Indonesia yang merupakan negara yang mempunyai penduduk Islam paling ramai dalam dunia telah menerima serangan yang sangat hebat daripada jalur pemikiran liberal dan pluralisme teologi. Negara ini semenjak zaman penjajahan kuasa Belanda telah diterjah dengan pelbagai serangan pemikiran malah kini menjadi markas rantau Asia Pasifik bagi gerakan Kristianisasi.

Menurut Adian Husaini (2002), di Indonesia untuk menyebar dan menyemarakkan fahaman ini tokoh Islam Liberal yang terdiri daripada kalangan tempatan atau luar negara sentiasa dimunculkan di dalam wacana berkaitan dengan fahaman ini.

Kelompok ini menerima dana yang besar daripada pendana luar negara seperti Asia Foundation, dan sebagainya. Mereka aktif dalam pelbagai wacana awam dan kelihatan berprestij dengan program yang diadakan di hotel, saluran radio tv dan pelbagai medium yang lain. Di Malaysia kelompok Islam liberal mewujudkan jaringan tersendiri , antaranya forum Islam liberal (FIL) yang secara konsisten menebarkan fahaman sesat ini. Penulis teringat pertemuan dengan almarhum Ustaz Hussein Umar, ketua Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia pada awal 2005 di Jakarta yang mengingatkan penulis dan anak muda Islam untuk mengawasi penularan Islam Liberal di Malaysia. Almarhum mengingatkan tentang NGO yang bernama SIS yang gencar menyebarkan fahaman sesat ini, malah dengan kunjungan -kunjungan tokoh Islam liberal Malaysia yang kerap ke Utan Kayu Jakarta iaitu markas besar JIL. Hari ini ingatan Ustaz Husein Umar menjadi realiti apabila arus Islam Liberal dan pluralisme agama makin mendapat tempat dihati umat Islam yang jahil dan lingkungan sosial yang semakin jauh daripada Islam.

(Penulis ialah AJK PAS Pusat, juga Timbalan Pengerusi Lujnah Dakwah PAS)

Sumber: Nov 05,2014 - by AIDC0

Sabtu, November 01, 2014

Asalkan bukan Ulama

PM Najib telah dituduh lemah kerana tidak memberi keputusan muktamad dalam isu-isu penting negara. Najib diam diri banyak isu dan menyerah kepada kebijaksanaan NGO-NGO dan rakyat untuk membentuk arus.

Pakatan Rakyat sedang menghadapi krisis politik yang akan mengubah landskap politik negara. Tetapi Pas yang dipimpin oleh ulama juga memilih untuk berdiam diri dan menyerah keputusan politik kepada Sultan. Permainan ini digelar ‘passing the buck’.

Mungkin ada yang akan kata bahawa ini adalah strategi politik Pas tetapi adakah ini bermakna Sultan sendiri pun dijadikan alat politik Pas?

Kita setuju bahawa Sultan patut memilih siapa MB tetapi ini tidak bermakna Pas tidak boleh memberi kata putusnya. Bahkan pendirian Pas berubah-ubah dalam sekelip mata.

Lebih dua minggu lalu, Dewan Ulama memutuskan untuk memihak pada Khalid tetapi sekarang tidak memihak kepada siapa-siapa pula.

Setahun yang lalu semasa kempen pilihan raya, pelbagai dalil agama diberi untuk menyokong tahaaluf siyaasi dengan DAP sehingga Guan Eng digelar ‘Amirul Mukminin’.

Sekarang? Bagaimana pandangan rakyat terhadap mereka yang bergelar ‘ulama’ yang begitu cepat berubah pendirian? Bolehkah kita percaya kepada mereka lagi?

Bahkan, pasangan yang separuh bogel di Ipoh dan grup sepenuh bogel di Pulau Pinang lebih tegas membuat keputusan untuk melucutkan pakaian di khalayak ramai! Mereka lebih tegas daripada ulama.

Adakah kemerdekaan kali ini membawa arus bidaah yang baharu iaitu “Berani kerana salah, takut kerana benar”?

Yang pasti merisaukan para pendakwah ialah bukan pandangan rakyat terhadap mereka yang mengangkat diri sendiri sebagai ulama tetapi pandangan mereka terhadap agama Islam. Kita risau bukan sekadar ulama disalahkan, tetapi juga agama Islam disalahkan juga kerana mengangkat martabat ulama begitu tinggi sehingga menggelar mereka sebagai ‘pewaris Nabi’.

Sekarang ulama dilihat sebagai pengkhianat, opportunis dan touch n go! Kalau ada peluang politik, touch and go jelah! Ini pasti mengelirukan rakyat.

Kalau umat Islam sendiri begitu mudah keliru tentang apa Islam kata tentang hakikat ALLAH SWT sehingga penganut Kristian tidak boleh menggunakan kalimah ALLAH dalam tulisan mereka, sudah tentu rakyat lagi mudah keliru tentang apa Islam kata tentang ulama. Jelas, ulama tidak mampu memimpin dan adakah Islam tidak nampak ini dari awal lagi?

Kalau satu dua ulama yang tidak menunjukkan contoh baik, kekeliruan masih boleh dihindari. Tiada agama yang mempunyai para agamawan yang sempurna semuanya. Tetapi sekarang seolah-olah sudah menjadi arus perdana di mana ulama berperangai seperti Raja Lawak.

Maka, akan mudah terlintas di minda rakyat bahawa ini adalah hasil produk agama Islam sendiri! Ini persoalan yang saya selalu terima daripada rakyat yang tidak faham perbezaan antara agama dan yang bergelar ‘ulama’.

Menjadi seorang ‘ulama’ bukan membayar yuran tahun untuk menyertai persatuan-persatuan ulama. Ulama adalah orang yang mencintai ALLAH SWT lebih daripada misinya sendiri, apatah lagi misi partinya.

Ulama yang menangkan posisi politik dalam partinya yang menjadi fitnah dan mereka ini sebenarnya ialah ‘ulama politicking’. Politik menjadi ‘king’ atau raja yang menguasai hidupnya dan matinya.

Ini menjadi sebab mengapa ulama dulu seperti Imam al-Ghazali menulis tentang pembersihan rohani dengan menjauhkan diri dari kemewahan dan pengaruh politik khalifah-khalifah.

Sebenarnya ramai ulama yang tidak politicking di Malaysia tetapi ulama-ulama yang hebat ini tidak mendapat perhatian media.

Media lebih beri perhatian kepada ulama-ulama politicking dan pasangan separuh bogel kerana kedua-dua ini mempunyai nilai komersial!

Ulama-ulama dan hero-hero yang nama tidak pernah disebut oleh media mempunyai jasa yang tidak terhingga kepada negara dan saya memohon rakyat Malaysia supaya jangan menilai agama Islam berdasarkan akhlak ulama-ulama politicking.

(Oleh: Abdul Naser Abdul Rahman ialah tokoh pendakwah Perak - Di petik dari Sinar Harian)

Jumaat, Oktober 31, 2014

Mereka tidak pernah berjuang merebut kerusi

Umat Terbaik

Sifu Ku pernah menyebut:


Cara hidup salafus soleh walau dalam bidang apa sekalipun tetap dihiasi dengan akhlak yang mulia.Orang orang bukan Islam pun sangat mengkagumi mereka.Sebab itu ramai yang memeluk Islam hanya kerana melihat kebaikan akhlak mereka.Ini lah rahsia atau anak kunci kejayaan Rasulullah SAW dan para Sahabat untuk dapat menawan hati manusia.
Mereka tidak pernah berjuang merebut kerusi (jawatan atau kuasa) tetapi manusia memberi mereka kerusi kedudukan yang mulia.

Rasulullah SAW memberi petunjuk dan pengajaran bahawa untuk melaksanakan kebaikan, cara dan kaedahnya juga mesti baik.Tidak ada dalam Islam itu matlamatnya baik tetapi cara melaksanakannya kotor.Seseorang yang nak dakwah orang kepada kebaikan cara nya mesti baik.Bukan dengan sombong, mengungkit,memaki hamun dan mengaibkan orang yang kita nak dakwah.Seseorang yang hendak menegakkan kebenaran melalui politik kotor dan cara yang batil,yang di buat itu tidak lagi di anggap kebenaran.Bahkan ia di anggap kebatilan yang di sadur dengan kebenaran.

Orang yang mahukan matlamatnya saja baik tanpa menempuh cara cara atau perlaksanaan yang baik, yakni orang yang menggunakan matlamat untuk menghalalkan cara, mereka ini termasuk dalam apa yang di firman kan Allah mahfumnya:

"Jangan kamu mencampurkan yang hak dan yang batil." ( Al Baqarah: 42)

Yang hak itu agama Allah, yang batil itu ialah segala ideologi seperti demokrasi, liberalisme, pluralisme, LGBT,hak asasi ciptaan manusia dan sebagainya.Golongan ini seperti orang mahu ke destinasi dengan kereta,highway yang selamat (agama) sudah di sedia kan, tetapi tidak mahu ikut jalan itu, dia lebih percaya ikut melalui sawah padi.Betulkah dia dan selamatkah dia? Begitu lah tamsilannya orang orang yang menghalalkan cara.Apa saja bagi dia halal kerana dia kata matlamatnya baik..........

Wallahu a"alam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...