Sabda Nabi S.A.W "Sampaikan dari Ku walau pun satu ayat"

Buku Pelawat

Topik Panas

Khamis, Disember 18, 2014

WAHHABI/SYIAH/LIBERAL/PLURALISME MENYERANG, KITA MENJAWAB DENGAN TERANG SUPAYA KEBATILAN TERPADAM.

Alhamdulillah, Sila muat turun pdf Ahlus Sunnah Wal Jama'ah secara PERCUMA menjawab Wahhabi dan Syiah. (Y)

AL BAYAN - terbitan Sekretariat Menangani Isu-isu Akidah dan Syariah Majlis Agama Islam Johor. Menjawab persoalan Aqidah, syariat dan akhlaq. 

1. Maulidul Rasul 
http://mufti.johor.gov.my/images/uploads/dokumen/terbitan/albayan_1_maulidurrasul_.pdf

2. Talqin dan 100 Kitab Menolak Wahhabi
http://mufti.johor.gov.my/images/uploads/dokumen/terbitan/albayan_2_talqin_dan_100_kitab.pdf

3. Doa Qunut, Zikir dan Wirid 

http://mufti.johor.gov.my/images/uploads/dokumen/terbitan/al-bayan_3_qunut_zikir_dan_wirid_bidah.pdf

4. Amalan Sunnah Mengiringi Solat Fardhu
http://mufti.johor.gov.my/images/uploads/dokumen/terbitan/albayan_4_amalan_sunnah_.pdf

5. Kenduri Arwah, Menziarahi Maqam Nabi, Menggerakkan Jari Ketika Tahiyyat
http://mufti.johor.gov.my/images/uploads/dokumen/terbitan/albayan_5_kenduri.pdf

6. Menjawab Persoalan Tawassul

http://mufti.johor.gov.my/images/uploads/dokumen/terbitan/albayan_6_tawassul.pdf

7. Tareqat dan Tasawwuf
http://mufti.johor.gov.my/images/uploads/dokumen/terbitan/albayan_7_tariqah_dan_tasawwuf.pdf

8. Barzanji
http://mufti.johor.gov.my/images/uploads/dokumen/terbitan/albayan_8_berzanji_2009.pdf

9. Menjawab Persoalan Bid'ah

http://mufti.johor.gov.my/images/uploads/dokumen/terbitan/albayan_9_bidah.pdf

10. Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah
http://mufti.johor.gov.my/images/uploads/dokumen/terbitan/albayan_18_akidah_ahli_sunnah_ok.pdf

11. Kepentingan Mazhab

http://mufti.johor.gov.my/images/uploads/dokumen/terbitan/albayan_14_mazhab.pdf

12. Bahaya Islam Liberal

http://mufti.johor.gov.my/images/uploads/dokumen/terbitan/albayan_21_bahaya_Islam_libral_adli_712.pdf

13. Kebatilan Aqidah Syiah

http://mufti.johor.gov.my/images/uploads/dokumen/terbitan/kebatilan_akidah_syiah_22_.pdf

14. Kebatilan Aqidah Syiah 2

http://mufti.johor.gov.my/images/uploads/dokumen/terbitan/akidah_syiah_2_23_.pdf

Sumber : http://mufti.johor.gov.my/terbitan/al-bayan

SILA MUAT TURUN DAN SEBAR-SEBARKAN !.

WAHHABI/SYIAH/LIBERAL MENYERANG, KITA MENJAWAB DENGAN TERANG SUPAYA KEBATILAN TERPADAM.

Alhamdulillah, Sila muat turun pdf Ahlus Sunnah Wal Jama'ah secara PERCUMA menjawab Wahhabi dan Syiah.

AL BAYAN - terbitan Sekretariat Menangani Isu-isu Akidah dan Syariah Majlis Agama Islam Johor. Menjawab persoalan Aqidah, syariat dan akhlaq.

1. Maulidul Rasul
http://mufti.johor.gov.my/…/te…/albayan_1_maulidurrasul_.pdf

2. Talqin dan 100 Kitab Menolak Wahhabi
http://mufti.johor.gov.my/…/albayan_2_talqin_dan_100_kitab.…

3. Doa Qunut, Zikir dan Wirid

http://mufti.johor.gov.my/…/al-bayan_3_qunut_zikir_dan_wiri…

4. Amalan Sunnah Mengiringi Solat Fardhu
http://mufti.johor.gov.my/…/te…/albayan_4_amalan_sunnah_.pdf

5. Kenduri Arwah, Menziarahi Maqam Nabi, Menggerakkan Jari Ketika Tahiyyat
http://mufti.johor.gov.my/…/…/terbitan/albayan_5_kenduri.pdf

6. Menjawab Persoalan Tawassul

http://mufti.johor.gov.my/…/dokumen/…/albayan_6_tawassul.pdf

7. Tareqat dan Tasawwuf
http://mufti.johor.gov.my/…/albayan_7_tariqah_dan_tasawwuf.…

8. Barzanji
http://mufti.johor.gov.my/…/ter…/albayan_8_berzanji_2009.pdf

9. Menjawab Persoalan Bid'ah

http://mufti.johor.gov.my/…/do…/terbitan/albayan_9_bidah.pdf

10. Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah
http://mufti.johor.gov.my/…/albayan_18_akidah_ahli_sunnah_o…

11. Kepentingan Mazhab

http://mufti.johor.gov.my/…/…/terbitan/albayan_14_mazhab.pdf

12. Bahaya Islam Liberal

http://mufti.johor.gov.my/…/albayan_21_bahaya_Islam_libral_…

13. Kebatilan Aqidah Syiah

http://mufti.johor.gov.my/…/…/kebatilan_akidah_syiah_22_.pdf

14. Kebatilan Aqidah Syiah 2

http://mufti.johor.gov.my/…/dokumen/…/akidah_syiah_2_23_.pdf

Sumber : http://mufti.johor.gov.my/terbitan/al-bayan

SILA MUAT TURUN DAN SEBAR-SEBARKAN !.

Rabu, Disember 17, 2014

Hukum Zakat Istri Kepada Suami

 

Ramai masyarakat yang menanyakan hukum seorang istri yang kaya memberikan zakat kepada suaminya yang miskin, apakah zakatnya sah ?  Para ulama dalam masalah ini berbeda pendapat :

Pendapat Pertama : Seorang istri dibolehkan membayar zakat kepada suaminya. Ini adalah pendapat mayoritas ulama.

Dalil-dalil mereka adalah sebagai berikut :

Dalil Pertama : Keumuman ayat-ayat dan hadist-hadist yang menjelaskan bahwa orang miskin berhak mendapatkan zakat dari orang kaya, termasuk di dalamnya suami yang miskin berhak mendapatkan zakat dari istrinya yang kaya.

Dalil Kedua :  Adalah hadist Abu Sa’id al Khudri :

جَاءَتْ زَيْنَبُ امْرَأَةُ ابْنِ مَسْعُودٍ تَسْتَأْذِنُ عَلَيْهِ فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذِهِ زَيْنَبُ فَقَالَ أَيُّ الزَّيَانِبِ فَقِيلَ امْرَأَةُ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ نَعَمْ ائْذَنُوا لَهَا فَأُذِنَ لَهَا قَالَتْ يَا نَبِيَّ اللَّهِ إِنَّكَ أَمَرْتَ الْيَوْمَ بِالصَّدَقَةِ وَكَانَ عِنْدِي حُلِيٌّ لِي فَأَرَدْتُ أَنْ أَتَصَدَّقَ بِهِ فَزَعَمَ ابْنُ مَسْعُودٍ أَنَّهُ وَوَلَدَهُ أَحَقُّ مَنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَلَيْهِمْ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَ ابْنُ مَسْعُودٍ زَوْجُكِ وَوَلَدُكِ أَحَقُّ مَنْ تَصَدَّقْتِ بِهِ عَلَيْهِمْ

“ Datanglah Zainab, isteri Ibnu Mas'ud meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, lalu dikatakan kepada Beliau; "Wahai Rasulullah, ini adalah Zainab". Beliau bertanya: "Zainab siapa?". Dikatakan: "Zainab isteri dari Ibnu Mas'ud". Beliau berkata,: "Oh ya, persilakanlah dia". Maka dia diizinkan kemudian berkata,: "Wahai Nabi Allah, sungguh anda hari ini sudah memerintahkan shadaqah (zakat) sedangkan aku memiliki emas yang aku hendak menzakatkannya namun Ibnu Mas'ud mengatakan bahwa dia dan anaknya lebih berhak terhadap apa yang akan aku sedekahkan ini dibandingkan mereka (mustahiq). Maka Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Ibnu Mas'ud benar, suamimu dan anak-anakmu lebih berhak kamu berikan shadaqah dari pada mereka".  ( HR Bukhari ) 

Berkata Ibnu Hajar ( Fathu al-Bari : 3/ 329 ) : “ Hadist ini menjadi dalil kebolehan seorang istri memberikan zakat kepada suaminya “

Bahkan zakat kepada suaminya lebih utama daripada diberikan kepada orang lain, sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain bahwasanya Rasulullah bersabda :

نَعَمْ ، وَ لَهَا أَجْرَانِ ، أَجْرُ القَرَابَة وَ أَجْرُ الصَدَقَة

Iya, ia mendapatkan dua pahala, pahala kekerabatan dan pahala sedekah (zakat) “ (HR Bukhari dan Muslim)

Pendapat Kedua : Menyatakan bahwa seorang istri tidak boleh memberikan zakat kepada suaminya yang miskin. Ini adalah pendapat Abu Hanifah dan riwayat Imam Ahmad, tetapi kedua murid Abu Hanifah, yaitu Abu Yusuf dan Muhammad al-Hasan tidak setuju dengan pendapat gurunya dan mengikuti pendapat mayoritas ulama.

Dalil pendapat ini, bahwa sebagaimana seorang suami tidak dibolehkan memberikan zakat kepada istrinya, maka istrinyapun demikian tidak boleh memberikan zakatnya kepada suaminya, karena kedua suami istri adalah satu kesatuan. Bahkan sebagian ulama seperti Ibnu Hazm mengatakan jika suami miskin, dan istri kaya, maka istri berkewajiban memberikan nafkah kepada suaminya berdasarkan firman Allah  :

وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذلِكَ

“ Dan bagi ahli waris punya kewajiban serupa “ ( Qs al-Baqarah : 233 )

Selain itu dikhawatirkan uang yang diberikan kepada suaminya tersebut, akan diberikan lagi kepada istrinya sebagai nafkah suami kepada  istri. ( Utsaimin, Syarh Bulughul Maram : 2/570 )

Adapun hadist di atas tidaklah berhubungan dengan zakat, tetapi berhubungan dengan sedekah tidak wajib, karena seorang sahabat ketika mau membayar zakat tidak perlu menunggu dorongan dari Rasulullah terlebih dahulu, karena zakat adalah salah satu rukun Islam. ( Taudhih al-Ahkam : 2/ 492 )

Kesimpulan  

Pendapat yang benar dalam masalah ini adalah pendapat mayoritas ulama yang membolehkan seorang istri memberikan zakatnya kepada suaminya yang miskin.

Adapun alasan pendapat yang menyamakan antara suami istri dalam masalah pembayaran zakat tidaklah benar. Karena suami berkewajiban memberikan nafkah kepada istrinya, sehingga istri bisa tercukupi dengan nafkah tersebut dan tidak membutuhkan zakat, maka suami tidak boleh memberikan zakat kepadanya.

Berkata Ibnu Qudamah di dalam ( al-Mughni : 2/ 279 ) : “ Jika istri miskin, sedangkan suami kaya, dan selalu memberikan nafkah kepadanya, maka tidak dibolehkan baginya memberikan zakat kepada istrinya, karena istri sudah cukup dengan nafkah dari suami.  “  

Tetapi ketika suami miskin dan istri kaya, maka istri tidak ada kewajiban memberikan nafkah kepada suaminya, karena hartanya untuk dirinya sendiri. Oleh karenanya, dibolehkan baginya memberikan zakat kepada suaminya. Wallahu A’lam


Oleh: Dr. Ahmad Zain An Najah, MA

Isnin, Disember 15, 2014

Golongan Liberal kononnya “menuntut hak” dan “tidak ganggu orang lain”…….?

"Saya menuntut hak saya, saya tak ganggu orang lain”. Itu adalah ungkapan yang selalu diucapkan oleh sesetengah orang apabila ditegur melakukan sesuatu yang menyalahi perintah Allah. Mereka rasa, yang salah itu kalau "menganggu orang", kalau "tidak menganggu" tidak mengapa. Contohnya:

“Ini hak saya untuk berjudi, saya tak ganggu orang lain”.

“Ini hak saya untuk berzina, saya tak ganggu orang lain”.

“Ini hak saya untuk berhias, saya tak ganggu orang lain”.

“Ini hak saya untuk menukar jantina, saya tak ganggu orang lain”.

“Ini hak saya untuk pakai begini, saya tak ganggu orang lain”.

INI ADALAH LOJIK YANG SALAH. Walau pun tidak ganggu orang lain, tetapi sekiranya langgar perintah agama, ia tetap salah. Diri kita bukan milik kita sepenuhnya, ia hanyalah amanah yang kita dituntut untuk menggunakannya berdasarkan kepada peraturan yang Allah tentukan pada kita. Kalau diri kita adalah milik kita sepenuhnya, kenapa kita sakit, kenapa kulit kita kerepot bila sudah tua, kenapa kita lemah bila sudah berusia. Kalau kita miliki sepenuhnya diri kita, nescaya kita akan buat diri kita ikut kehendak kita sepenuhnya.

Pernyataan (“menuntut hak” dan “tidak ganggu orang lain”) merupakan virus liberalism yang mahukan kebebasan dari ikatan mana-mana autoriti termasuk agama atas alasan hak asasi yang sebenarnya bersandarkan kepada lojik dan hawa nafsu. Sungguhpun mereka mendakwa bahawa mereka tidak menuntut kebebasan mutlak, tetapi ungkapan "Saya menuntut hak saya, saya tak ganggu orang lain” membawa maksud saya ingin melempias kemahuan diri biarpun bercanggah dengan perintah agama dan menyalahi adat. Perkara ini tidak salah asalkan tidak ganggu orang lain. Demikianlah, manusia berasa itulah adalah hak mereka, tetapi sebenarnya itu adalah kemahuan nafsunya sendiri.

“Tidak ganggu orang lain” yang dijadikan alasan untuk mengabsahkan tindakan mereka merupakan alasan yang salah di dalam Islam. Sebagai seorang Muslim, ia terikat dengan peraturan dari Allah kerana apa yang dikurniakan kepada kita ini adalah pinjaman dari Allah. Kalaulah manusia yang memiliki sepenuhnya semua anggota badan mereka, nescaya mereka tidakkan akan tua dan sentiasa sihat sahaja. Realitinya manusia tunduk pada kuasa tuhan dan manusia tidak control perjalanan darahnya, degupan jantung dan gerakan nadinya. Justeru, sewajarnya manusia tunduk pada perintah tuhan, bukan ikut kemahuan dirinya dan berasa itu adalah haknya semata-mata tidak mengganggu hak orang lain.

Mereka juga kata:

“Saya tak tutup aurat tapi hati saya baik, tidak mengumpat orang”.

“Saya tak solat tapi hati saya baik, tidak kacau orang”.

Mereka anggap bahawa langgar perintah Allah itu bukan suatu kesalahan dan dosa. Ia merupakan suatu kesalahan yang akan dihisab oleh Allah swt nanti.

Golongan liberal ini juga sebenarnya tidak mahu tunduk pada agama kerana agama bagi mereka adalah dogma dan dakwaan tidak berasas yang tidak berpijak di bumi yang nyata. Hakikatnya mereka tidak mahu sebarang ikatan yang berasaskan kepada agama. Mereka hanya boleh terima alasan yang berasaskan kepada lojik dan rasional (kononnya). Mereka tidak boleh terima peraturan pemisahan antara lelaki dan perempuan atas dasar larangan dari agama tetapi mereka boleh terima peraturan itu atas dasar “gangguan seksual”.

Kesimpulan

Golongan liberal atau mereka yang terkena dengan virus liberal berselindung di sebalik “menuntut hak mereka sahaja” dan “tidak ganggu orang lain”. Sebenarnya mereka mahu bebas dan lolos dari sebarang ikatan yang berasaskan kepada agama dan budaya. Mereka hanya terima sesuatu yang lojik akal, macamlah agama itu sesuatu yang tidak rasional.

Nota:

1. Pemikiran liberal wujud dalam bentuk kumpulan yang memperjuangkan hak asasi dan hak wanita.

2. Pemikiran liberal juga secara tidak sedar turut menghinggapi individu apabila berasa tidak bersalah biarpun langgar perintah tuhan, asalkan tidak ganggu orang lain.

(Oleh: Ust Dr Faisal UKM)

Ahad, Disember 14, 2014

Menjawab Tuduhan Syirik Solat di Kuburan

solat di kubur

Dewasa ini ada sekelompok orang yang mudah menuduh syirik kaum Muslimin karena mengerjakan shalat di kuburan. Bagaimana sebenarnya hukum shalat di kuburan menurut ulama salaf berdasarkan al-Qur’an dan hadits

Ditulis oleh Penyelidik Ahlussunnah Wal Jamaah Research Group (ARG) Ustaz Ibnu Abdillah Al-Katibiy. Semoga bermanfaat dan sebarkan.

Bahagian I

http://www.aswj-rg.com/…/menjawab-tuduhan-syirik-solat-di-k…

Bahagian II

http://www.aswj-rg.com/…/menjawab-tuduhan-syirik-solat-di-k…

Bahagian III

http://www.aswj-rg.com/…/menjawab-tuduhan-syirik-solat-di-k…

Baca Quran

Al Quran and boy

Hendaklah seseorang itu membaca al-quran sekurang-kurangnya setiap kali solat empat halaman iaitu satu juzuk sehari dan sekurang-kurangnya satu bulan khatam sekali.

Hendaklah seseorang itu membaca al-quran dgn taddabbur yakni memahami makna-makna di dalam al-quran kerana mentaddabbur dan menghayati makna-makna dlm al-quran ini adalah penyembuh kepada hati kita dan sebagai makanan kepada roh kita.

Seperti mana ditanyakan kepada Sayyidina Abdullah "Apakah ubat kepada penyakit hati iaitu dgn menghayati maksud-maksud dlm al-quran..dan tidak akan kita faham al-quran dgn kita pelajari bahasa Arab..Mudah-mudahan dgn mempelajari bahasa Arab ini Allah ﷻ memberikan kefahaman kita kepada al-quran.

Hendaklah kita mengajarkan al-quran kepada anak-anak kita dan menjadikan mereka sentiasa mengingati al-quran dan sentiasa membaca al-quran .

Rasulullah SAW berkata: "Ajarkan anak-anak kamu 3 perkara iaitu;

1)Kasih kepada Allah

2)Kasih kepada Nabi

3)Kasih kepada Al-Quran

Hendaklah kita berakhlak dgn akhlak al-quran lalu Saiditina Aisyah apabila ditanya ; "Bagaimanakah akhlak Rasulullah SAW itu,kata Saiditina Aisyah akhlak Rasulullah SAW adalah al-quran yakni apa yg ada didalam al-quran itu adalah akhlak Rasulullah SAW

**Maksud Qalam ini adalah al-quran ini bukan shj dibaca utk mendapatkan pahala tetapi jadikan al-quran ini suatu sistem dlm kehidupan kita yg perlu diamalkan setiap hari.

Sumber: Habib Mahdi Bin Abu Bakar Al-Hamid

Majlis Zikrul Hakim/Masjid Ar-Irsyad,Subang Jaya

Jumaat, Disember 12, 2014

Tidak sedar syirik dalam doa

    pr0062



    ANTARA

    keistimewaan Islam ialah ALLAH Azza wa Jalla menyediakan ruang secara langsung untuk sesiapa sahaja berhubung, memohon, merayu, merintih, meminta dan berdoa mengikut keperluan masing-masing. Sama ada pemimpin atau rakyat biasa, miskin atau kaya, tua atau muda, orang awam atau orang agama, tidak kira latar bangsa dan kedudukannya, di mana sahaja dia berada, kutub selatan atau utara; semua diberikan ruang dan peluang yang sama.

    Berdoa terus kepada ALLAH

    Mintalah kerana ALLAH itu Maha Mendengar. Pohonlah kerana ALLAH itu Maha Memakbulkan. Istighfarlah kerana ALLAH itu Maha Pengampun. Malam atau siang, pagi atau petang, di masjid atau di padang, sambil berdiri atau baring melintang, ALLAH tetap mendengar apa yang kita minta. ALLAH itu sangat dekat dengan hamba-Nya, bahkan lebih dekat daripada apa yang kita sangkakan.

    ALLAH bersedia untuk mendengar, bersedia untuk memberi, bersedia untuk memakbulkan. Bila dan bagaimana? Terserahlah kepada keadilan dan ketentuan-Nya. ALLAH berpesan kepada Baginda SAW: "Dan apabila hamba-Ku bertanya kepadamu mengenai Aku maka (beritahu kepada mereka): sesungguhnya Aku (ALLAH) sentiasa hampir (kepada mereka); Aku perkenankan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka menyahut seruan-ku (dengan mematuhi perintah-Ku), dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku supaya mereka menjadi baik serta betul". (Surah al-Baqarah: 186)

    Dalam ayat lain, ALLAH menyatakan: "Dan demi sesungguhnya, Kami telah mencipta manusia dan Kami sedia mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, sedang (pengetahuan) Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya". (Surah Qaf: 16)

    Justeru, berhubung dan berdoalah secara langsung kepada ALLAH. Selagi mana kita bergelar hamba, selama itulah kita mempunyai hak untuk berdoa. ALLAH tidak pernah mendiskriminasikan hamba-Nya mengikut bangsa, warna kulit, pangkat, jawatan dan harta. Hanya nilai takwa yang membezakan antara manusia.

    Perantaraan dalam doa

    Namun begitu, Islam tetap membenarkan kita untuk mewujudkan perantaraan dalam berdoa. Hal ini disebut sebagai tawasul. Tawassul berasal daripada bahasa Arab wasilah, tawassala-yatawassalu-tawassulan. Tawassul dalam berdoa bermaksud kita menjadikan sesuatu sebagai perantara dalam doa.

    Apakah perkara yang boleh kita tawasul? Ada tawassul yang dibenarkan dan ada tawassul yang diharamkan, bahkan boleh jatuh kepada kesyirikan.

    Tawassul  dibenarkan

    Pertama: Tawassul dengan nama ALLAH. Hal ini berdasarkan firman ALLAH yang bermaksud: "Dan ALLAH mempunyai nama-nama yang baik (yang mulia), maka serulah (dan berdoalah) kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu". (Surah al-A’raf: 180)

    Tawassul dengan nama ALLAH itu contohnya kita berdoa: "Ya Ghaffar, ighfirli" (Wahai Tuhan Yang Maha Pengampun, ampunilah daku). "Ya Rahman Ya Rahim, irhamni" (Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah Maha Pengasih, kasihanilah daku".

    Tawassul dengan nama-nama ALLAH bermaksud kita memilih dan menyebut nama-nama ALLAH yang sesuai dengan hajat dan permintaan kita. Dengan ketinggian dan kemuliaan nama-nama tersebut kita mohon semoga ALLAH perkenankan hajat kita.

    Kedua: Tawassul dengan amalan soleh sendiri. Kita dibolehkan untuk menyebut amal soleh yang pernah kita lakukan kemudian diikuti dengan berdoa hajat kita. Diharapkan dengan keikhlasan dan keberkatan amal soleh tersebut dapat dimakbulkan hajat kita.

    Hal ini berdasarkan kisah di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari berkenaan tiga lelaki yang terperangkap dalam gua. Ada batu besar yang menutupi pintu gua tersebut. Lalu, seorang berdoa dengan mengatakan dia telah taat kepada ibu bapanya, seorang lagi mengatakan dia hampir berzina tetapi dia tinggalkan zina kerana takutkan azab ALLAH, orang yang ketiga pula berdoa dengan menyebut dia orang yang amanah, memegang amanah yang diberikan kepadanya dan mengembalikan kepada pemiliknya.

    Maka dengan amalan soleh itu mereka berdoa kepada ALLAH agar dibukakan pintu gua tersebut.

    Ketika orang pertama berdoa, batu yang menutupi gua itu terbuka sedikit, sehinggalah cukup doa ketiga-tiga mereka, barulah batu itu berbuka sehingga mereka dapat keluar daripadanya. (Rujuk riwayat al-Bukhari, no 2272)

    Ketiga: Tawassul dengan orang soleh yang masih hidup. Kita boleh berjumpa dengan orang soleh yang akidah dan amal ibadatnya bertepatan dengan al-Quran dan sunnah bagi meminta tolong didoakan kepada kita. Diharapkan dengan kesolehan beliau akan menjadikan doa kepada kita tersebut dimakbulkan.

    Tawassul dengan orang soleh ini dibenarkan dengan syarat orang tersebut masih lagi hidup. Jika seorang yang soleh meninggal dunia, kita tidak dibenarkan untuk bertawasul dengan beliau lagi.Sahabat sering meminta agar Rasulullah SAW berdoa kepada mereka.

    Namun, setelah kewafatan Baginda SAW, sahabat tidak pun pergi ke kubur Rasulullah SAW dan minta untuk didoakan. Contohnya Umar Al-Khatthab  pergi bertemu dengan Abbas bin Abdul Muthalib, bapa saudara Nabi dan Umar berkata: "Dulu ketika Nabi masih hidup, kami bertawassul dengan Nabi SAW. Sekarang apabila Nabi telah tiada, orang yang paling mulia dalam kalangan kami adalah kamu, wahai Abbas. Maka berdoalah kamu untuk kami". (Rujuk riwayat al-Bukhari, no 3710)

    Peristiwa ini terjadi ketika Madinah di landa kemarau panjang. Umar meminta Abbas berdoa dan beliau pun berdoa. Tidak lama setelah itu, ALLAH pun menurunkan hujan kepada mereka.

    Doa yang dilarang

    Tawassul yang dilarang adalah seperti meminta daripada berhala, pokok, binatang, memuja makhluk, keterlaluan dalam meminta kepada makhluk sehingga lupa kepada ALLAH, meminta kepada makhluk dan percaya bahawa makhluk tersebut mengabulkan permintaannya, dan tidak meminta kepada ALLAH.

    Begitu juga bertawassul dengan orang yang telah mati. Diharamkan untuk kita menjadikan orang yang telah mati sebagai perantaraan dalam doa kita, walaupun semasa hidup dia seorang yang soleh. Bahkan kepada Rasulullah SAW sendiri.

    Jika dibolehkan sudah pasti Umar al-Khattab tidak berjumpa dengan Abbas untuk minta didoakan. Umar akan terus ke kubur Baginda Rasulullah SAW untuk minta didoakan. Rasulullah SAW lebih lagi mulia dan soleh.

    Justeru, kata-kata dan tindakan Umar ini menunjukkan tidak disyariatkan untuk bertawassul dengan orang yang sudah mati sama ada dengan menyebut "Madad Ya Rasulallah", "Madad Ya Ali", ‘Madad Ya Husain" dan sebagainya seperti yang dilakukan oleh golongan Syiah.

    Namun, pelik dan hairan ada segolongan manusia yang bertopengkan ajaran Ahli Sunnah wal Jamaah, berjubah dan berserban, bermati-matian ingin mempertahankan boleh untuk bertawassul dengan orang yang sudah mati.

    Sebab itu golongan ini ada yang mengunjungi kubur tok guru dan syekh-syekh mereka untuk minta didoakan. Ada yang mengalunkannya dalam nyanyian dan qasidah.

    Semoga ALLAH selamatkan kita daripada hasutan dan ajaran menyeleweng ini sama ada yang berasal dari negara ini atau yang dibawa dari  luar negara. Berdoalah terus kepada ALLAH kerana ruang itu tidak pernah disekat. Sesiapa sahaja dan di mana pun kita berada.

    Berdoalah dengan penuh keikhlasan, ketulusan dan kejelasan tauhid kepada-Nya. Jangan sampai ada unsur syirik yang tidak kita sedari. Yakinlah ALLAH tidak pernah mungkiri janji. Setiap permintaan akan diberi. Sabar dan terus menanti walaupun sampai akhirat nanti.

    Oleh: USTAZ ABDUL RAZAK ABDUL MUTHALIB
    Sumber: Sinar Harian

Ada ke Tasawwuf dalam Islam?

Perkataan tasawuf dan ahli sufi sering kita dengar dalam masyarakat, akan tetapi bagaimana mengenal ahli taswauf / sufi yang sebenarnya ? Kita tidak tahu. Oleh sebab itu kita lihat ramai orang terjebak dengan ajaran sesat yang berlindung di sebalik nama tasawuf atau ahli sufi.

Ajaran sesat yang berlindung di sebalik nama tasawuf ini telah timbul sebelum Imam Al-Ghazali. Sejak agama Islam tersebar luas keseluruh pelosok dunia dan bukan sahaja disekitar negara arab tapi juga disekitar Rom dan Parsi.

Pelbagai budaya telah diserap masuk ke dalam Islam. Hasilnya banyak juga fahaman yang berasal dari budaya lain telah menyerap masuk kedalam masyarakat Islam. Kesempatan inilah yang telah diambil oleh musuh Islam untuk merosakkan Islam dengan orang Islam sendiri.

Dalam kitab " Tuhfah Al-Raghibin Fi Bayan Haqiqatu Iman Al-Mu'minin " oleh 'Alim Al-Fadhil Muhmammad Arshad telah menyatakan terdapat tiga belas golongan berfahaman sesat yang berlindung di sebalik nama sufi atau ahli tasawuf. Golongan ini layak digelar sebagai kafir atau fasiq. Kerana ajaran-ajaran mereka bertentangan dengan ajaran Islam yang berpandukan Al-Quran dan sunnah Rasulullah S.A.W Golongan tersebut ialah :

1. HABIBIYYAH

Apabila seseorang itu telah sampai kepada martabat kasih kepada Allah, maka mereka terlepas dari taklif syara'. Segala yang haram menjadi halal. Solat fardu, puasa dan sebagainya adalah tidak perlu bagi mereka untuk mengerjakannya.

Golongan mereka tidak perlu menutup aurat.

Apabila mereka sampai ke tahap yang paling tinggi sekali yakni kasih kepada Allah, segala dosa besar seperti zina, minum arak dan sebagainya boleh dilakukan dan tidak mendapat azab daripada Allah.

Segala ibadat zahir tidak perlu dilakukan dan mereka hanya perlu bertafakkur sahaja untuk beribadat.

Harus bagi mereka untuk bersetubuh dengan segala perempuan.

Segala harta didunia ini adalah milik anak Adam. Dan kita semua adalah dari keturunan anak Adam, jadi kita berhak segala harta yang berada di muka bumi ini.

2. AULIYAIYYAH

Apabila seseorang itu sampai kepada darjat wilayah, mereka bebas dari segala perintah dan larangan dan martabat wali lebih mulia dari martabat Nabi.

3. THAMRAKHIYYAH

Golongan ini antara lain, bahawa tidak lagi terikat dengan perintah dan larangan Allah. Golongan ini mengharuskan menyanyi dengan segala alat muzik. Mereka diharuskan untuk berzina dan sebagainya. Golongan ini diasaskan oleh Abdullah Thamrakhiyyah.

4. IBAHIYYAH

Golongan ini tidak perlu melakukan kerja-kerja mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran kerana kita sendiri tidak mampu melakukan kerja-kerja tersebut apa lagi untuk mengajak orang lain.

Golongan ini mengharuskan zina dan tidak berdosa.

5. HALIYAH

Diharuskan menari dan bertepuk tangan sambil menyanyi sehingga pengsan.

Kata mereka bahawa " Syeikh kami berada dalam suatu hal ".

6. HURIYYAH

Iktiqad golongan ini hampir sama dengan iktiqad golongan Haliyah, cuma mereka menambah waktu pengsan ketika menyanyi, ketika itu seolah merasa didatangi oleh bidadari daripada syurga lalu kami jima' dengan mereka dan setelah sedar kami mandi junub.

7. WAQI'IYYAH

Iktiqad golongan ini ialah bahawa kita tidak perlu kenal Allah Taala. Ini kerana kita ini lemah sebagai seorang hamba. Jadi kita tidak perlu mengenal Allah.

8. MUTAJAHILIYYAH / MUTAHALLIYYAH

Golongan ini memakai pakaian-pakaian yang bagus dan melakukan pekerjaan fasiq. Antara kata mereka bahawa: Kami tidak dapat lari dari melakukan zina.

9. MUTAKASILAH

Golongan ini malas bekerja. Kerja mereka hanyalah meminta-minta atas nama zakat atau sedekah.

10 ILHAMIYYAH

Iktiqad golongan ini sama seperti al-Dahriyyah. Golongan ini malas belajar dan membaca Al-Quran. Dalam pandangan mereka, Al-Quran itu hanya merupakan hijab untuk mengenal Allah. Karana itu mereka hanya mempelajari syair-syair dan kata hikmah sahaja sebagai tarekat mereka.

11. HULULIYYAH

Golongan ini beriktiqad bahawa setiap makhluk bersatu dengan Allah Taala.

Golongan ini beriktiqad bahawa harus kita memandang kepada perempuan yang cantik dan boleh menari dan memeluknya. Kerana sifat cantik itu adalah sifat Allah yang dianugerahkan kepada kita semua.

Apabila seseorang itu hilang dari hawa nafsu dan ikhlas kepada Allah, maka gugurlah segala amal syariat. Segala ibadah seperti solat, puasa, zakat dan sebagainya.

12. WUJUDIYYAH

Iktiqad golongan ini berdasarkan kepada tafsir kalimah " La Ilaha Illallah " iaitu tidak wujud melainkan wujud Allah. Dan pandangan mereka bahawa tidak maujud melainkan dalam kandungan wujud segala makhluk. iaitu setiap makhluk terdapat wujud Allah. Allah dan makhluk adalah dari satu jenis dan sebangsa. Golongan ini juga beriktiqad bahawa tuhan mempunyai ruang dan waktu.

13. MUJASSIMAH

Golongan ini beriktiqad bahawa Allah mempunyai anggota seperti tangan, kaki, berdaging dan sebagainya.

Golongan ini beriktiqad bahawa Allah Taala itu berupa tetapi tidak tahu bagaimana rupanya.

Golongan ini beriktiqad bahawa Allah Taala bergerak naik atau turun. Dan tempat kediaman Allah Taala ialah di atas 'Arash.

Itulah di antara fahaman-fahaman yang tersebar dikalangan umat Islam sejak dahulu. Fahaman-fahaman ini tersebar dari satu generasi ke satu generasi sehingga sampai ke hari ini. Fahaman ini mendapat pengaruh umat Islam di seluruh dunia. Oleh itu kita harus benar-benar boleh melihat dan menghindari fahaman-fahaman seperti ini.

Dari : Hamba ALLAH

LIKE:
Jom Dakwah Bersama Ulama

#malaysia, #indonesia #singapore #pattani #brunei #rohingya #turkey #palestine

PLEASE TAG & SHARE . INSYAALLAH

Perkataan tasawuf dan ahli sufi sering kita dengar dalam masyarakat, akan tetapi bagaimana mengenal ahli taswauf / sufi yang sebenarnya ? Kita tidak tahu. Oleh sebab itu kita lihat ramai orang terjebak dengan ajaran sesat yang berlindung di sebalik nama tasawuf atau ahli sufi.

Ajaran sesat yang berlindung di sebalik nama tasawuf ini telah timbul sebelum Imam Al-Ghazali. Sejak agama Islam tersebar luas keseluruh pelosok dunia dan bukan sahaja disekitar negara arab tapi juga disekitar Rom dan Parsi.

Pelbagai budaya telah diserap masuk ke dalam Islam. Hasilnya banyak juga fahaman yang berasal dari budaya lain telah menyerap masuk kedalam masyarakat Islam. Kesempatan inilah yang telah diambil oleh musuh Islam untuk merosakkan Islam dengan orang Islam sendiri.

Dalam kitab " Tuhfah Al-Raghibin Fi Bayan Haqiqatu Iman Al-Mu'minin " oleh 'Alim Al-Fadhil Muhmammad Arshad telah menyatakan terdapat tiga belas golongan berfahaman sesat yang berlindung di sebalik nama sufi atau ahli tasawuf. Golongan ini layak digelar sebagai kafir atau fasiq. Kerana ajaran-ajaran mereka bertentangan dengan ajaran Islam yang berpandukan Al-Quran dan sunnah Rasulullah S.A.W Golongan tersebut ialah :

1. HABIBIYYAH

Apabila seseorang itu telah sampai kepada martabat kasih kepada Allah, maka mereka terlepas dari taklif syara'. Segala yang haram menjadi halal. Solat fardu, puasa dan sebagainya adalah tidak perlu bagi mereka untuk mengerjakannya.

Golongan mereka tidak perlu menutup aurat.

Apabila mereka sampai ke tahap yang paling tinggi sekali yakni kasih kepada Allah, segala dosa besar seperti zina, minum arak dan sebagainya boleh dilakukan dan tidak mendapat azab daripada Allah.

Segala ibadat zahir tidak perlu dilakukan dan mereka hanya perlu bertafakkur sahaja untuk beribadat.

Harus bagi mereka untuk bersetubuh dengan segala perempuan.

Segala harta didunia ini adalah milik anak Adam. Dan kita semua adalah dari keturunan anak Adam, jadi kita berhak segala harta yang berada di muka bumi ini.

2. AULIYAIYYAH

Apabila seseorang itu sampai kepada darjat wilayah, mereka bebas dari segala perintah dan larangan dan martabat wali lebih mulia dari martabat Nabi.

3. THAMRAKHIYYAH

Golongan ini antara lain, bahawa tidak lagi terikat dengan perintah dan larangan Allah. Golongan ini mengharuskan menyanyi dengan segala alat muzik. Mereka diharuskan untuk berzina dan sebagainya. Golongan ini diasaskan oleh Abdullah Thamrakhiyyah.

4. IBAHIYYAH

Golongan ini tidak perlu melakukan kerja-kerja mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran kerana kita sendiri tidak mampu melakukan kerja-kerja tersebut apa lagi untuk mengajak orang lain.

Golongan ini mengharuskan zina dan tidak berdosa.

5. HALIYAH

Diharuskan menari dan bertepuk tangan sambil menyanyi sehingga pengsan.

Kata mereka bahawa " Syeikh kami berada dalam suatu hal ".

6. HURIYYAH

Iktiqad golongan ini hampir sama dengan iktiqad golongan Haliyah, cuma mereka menambah waktu pengsan ketika menyanyi, ketika itu seolah merasa didatangi oleh bidadari daripada syurga lalu kami jima' dengan mereka dan setelah sedar kami mandi junub.

7. WAQI'IYYAH

Iktiqad golongan ini ialah bahawa kita tidak perlu kenal Allah Taala. Ini kerana kita ini lemah sebagai seorang hamba. Jadi kita tidak perlu mengenal Allah.

8. MUTAJAHILIYYAH / MUTAHALLIYYAH

Golongan ini memakai pakaian-pakaian yang bagus dan melakukan pekerjaan fasiq. Antara kata mereka bahawa: Kami tidak dapat lari dari melakukan zina.

9. MUTAKASILAH

Golongan ini malas bekerja. Kerja mereka hanyalah meminta-minta atas nama zakat atau sedekah.

10 ILHAMIYYAH

Iktiqad golongan ini sama seperti al-Dahriyyah. Golongan ini malas belajar dan membaca Al-Quran. Dalam pandangan mereka, Al-Quran itu hanya merupakan hijab untuk mengenal Allah. Karana itu mereka hanya mempelajari syair-syair dan kata hikmah sahaja sebagai tarekat mereka.

11. HULULIYYAH

Golongan ini beriktiqad bahawa setiap makhluk bersatu dengan Allah Taala.

Golongan ini beriktiqad bahawa harus kita memandang kepada perempuan yang cantik dan boleh menari dan memeluknya. Kerana sifat cantik itu adalah sifat Allah yang dianugerahkan kepada kita semua.

Apabila seseorang itu hilang dari hawa nafsu dan ikhlas kepada Allah, maka gugurlah segala amal syariat. Segala ibadah seperti solat, puasa, zakat dan sebagainya.

12. WUJUDIYYAH

Iktiqad golongan ini berdasarkan kepada tafsir kalimah " La Ilaha Illallah " iaitu tidak wujud melainkan wujud Allah. Dan pandangan mereka bahawa tidak maujud melainkan dalam kandungan wujud segala makhluk. iaitu setiap makhluk terdapat wujud Allah. Allah dan makhluk adalah dari satu jenis dan sebangsa. Golongan ini juga beriktiqad bahawa tuhan mempunyai ruang dan waktu.

13. MUJASSIMAH

Golongan ini beriktiqad bahawa Allah mempunyai anggota seperti tangan, kaki, berdaging dan sebagainya.

Golongan ini beriktiqad bahawa Allah Taala itu berupa tetapi tidak tahu bagaimana rupanya.

Golongan ini beriktiqad bahawa Allah Taala bergerak naik atau turun. Dan tempat kediaman Allah Taala ialah di atas 'Arash.

Itulah di antara fahaman-fahaman yang tersebar dikalangan umat Islam sejak dahulu. Fahaman-fahaman ini tersebar dari satu generasi ke satu generasi sehingga sampai ke hari ini. Fahaman ini mendapat pengaruh umat Islam di seluruh dunia. Oleh itu kita harus benar-benar boleh melihat dan menghindari fahaman-fahaman seperti ini.

Dari : Hamba ALLAH

Jom Dakwah Bersama Ulama

‪#‎malaysia‬, ‪#‎indonesia‬ ‪#‎singapore‬ ‪#‎pattani‬ ‪#‎brunei‬ ‪#‎rohingya‬ ‪#‎turkey‬‪#‎palestine‬

Ahad, Disember 07, 2014

TAFSIR MIMPI OLEH AL-MUSNID AL-ALLAMAH AL-HABIB UMAR BIN MUHAMMAD BIN SALIM BIN HAFIDZ dan AL-ALLAMAH AS-SYEIKH MUHAMMAD NURUDDIN MARBU AL-BANJARI AL-MAKKI

"Disebutkan bahawa ada seseorang bermimpi bertemu Nabi ﷺ di suatu tempat yang mana tempat itu semuanya bermazhab Imam Syafie.Kemudian dia berjumpa Rasulullah ﷺ lalu ditanya kepada Baginda Rasulullah.

Ya Rasulullah.Siapakah yang menjadi Wali Allah?Kemudian Rasulullah ﷺ menjawab mereka yang membaca,mempelajari kitab tanbih dan kitab muhadzdzab dan ditempat itu selalu dibaca kitab tanbih dan kitab muhadzdzab Al-Imam Abu Ishaq asy-Syirazi.

Kemudian dia bermimpi buat kali kedua dan ditanya kembali "Ya Rasulullah,siapakah Wali Allah?Maka dijawab Baginda Rasulullah.Mereka yang mempelajari kitab tanbih dan muhadzdzab.Kemudian bermimpi lagi buat ketiga kalinya bertemu Rasulullah ﷺ.Ditanya lagi siapakah Wali Allah Ya Rasulullah.

Maka Baginda Rasulullah ﷺ menjawab mereka yang mempelajari kitab tanbih dan kitab muhadzdzab.Lalu ditanya lagi.Kalau orang-orang yang mempelajari Al-Quran Ya Rasulullah.Maka Baginda ﷺ mengatakan mereka adalah orang-orang yang khusus pilihan daripada Allah سبحانه وتعالى." Mengenai masalah mimpi ini telah ditetapkan oleh Nabi ﷺ dalam hadis sahih Bukhari bahawasanya mimpi-mimpi yang bagus itu adalah bahagian 46 bahagian daripada wahyu Nabawi yang mana kalau mimpi berjumpa Nabi ﷺ di dalam kitab Sahih Bukhari disebutkan "Barangsiapa yang bermimpi berjumpa aku maka pasti mimpinya adalah benar kerana syaitan tidak boleh menyerupai diriku". Maka sungguh salah kalau ada orang yang memilih jalan dan hidup yang berpendapat mimpi ini semuanya salah,tidak benar.Demikian juga salah pula kalau ada orang yang memilih jalan dan hidup yang berpendapat bahawa dengan dasar mimpi akhirnya membolehkan dia meninggalkan syariat disebabkan mimpi kemudian dia meninggalkan hal-hal yang sesuai,diajarkan dengan ajaran Nabi ﷺ.

Maka dua-dua ini tidak benar.Yang benar adalah yang berada di tengah-tengah yang mana meletakkan mimpi sesuai dengan apa yang dilakukan/diajar/dibolehkan di dalam syariat.

‪#‎MutiaraKata‬[AL-MUSNID AL-ALLAMAH AL-HABIB UMAR BIN MUHAMMAD BIN SALIM BIN HAFIDZ]

Mungkin ada di antara kita yang selalu bermimpi ataupun pernah bermimpi bertemu dengan Para Ulama ataupun orang-orang yang soleh.Maka di sini sedikit perkongsian ilmu yang dijawab Al-Allamah As-Syeikh Muhammad Nuruddin Marbu Al-Banjari Al-Makki mengenai tafsiran mimpi.

Bagaimana kalau kira-kira kita bermimpi berjumpa Ulama,bermimpi berjumpa dengan orang-orang yang soleh,mimpi pergi ke Makkah,mimpi tawaf,mimpi sedang saie,mimpi wukuf di padang Arafah,mimpi sedang berada di raudhah.Itu semuanya diantaranya adalah mimpi-mimpi yang elok.

Itu adalah mimpi-mimpi yang mulia.Nabi kita menyebutkan di dalam hadis "Tidak terpisah daripada perkara kenabianku melainkan mubashiroh.Apakah itu mubashiroh Ya Rasulullah.Nabi kita menjawab mimpi yang baik yang dimimpikan oleh seseorang atau yang dilihat oleh orang lain.

Kalau kita bermimpikan perkara yang baik maka kita boleh menceritakannya kepada orang lain tetapi kalau kita bermimpi perkara yang tidak baik jangan kita ceritakan kepada orang lain.

Jadi kata Ulama diantara makna tafsiran mimpi bertemu dengan orang-orang yang soleh maka kebaikan dan kesolehan orang itu sedikit sebanyak akan terimbas kepada kita.Sedikit sebanyak kebaikan orang itu akan kita dapatkan kemuliaan daripada orang yang mulia.

Jadi kira-kiranya kebaikan orang yang kita mimpikan itu InshaAllah ketabahannya,kebijaksanaannya,kemuliaannya,kesopanannya akan terimbas dan menular kepada kita.

Sebagaimana yang kita telah ketahui, segala mimpi-mimpi yang baik itu adalah dari Allah ﷻ manakala mimpi yang buruk itu datangnya dari Syaitan.

#MutiaraKata[AL-ALLAMAH AS-SYEIKH MUHAMMAD NURUDDIN MARBU AL-BANJARI AL-MAKKI]

Via Fb Muhamad shahbudin

‎TAFSIR MIMPI OLEH AL-MUSNID AL-ALLAMAH AL-HABIB UMAR BIN MUHAMMAD BIN SALIM BIN HAFIDZ dan AL-ALLAMAH AS-SYEIKH MUHAMMAD NURUDDIN MARBU AL-BANJARI AL-MAKKI

"Disebutkan bahawa ada seseorang bermimpi bertemu Nabi ﷺ di suatu tempat yang mana tempat itu semuanya bermazhab Imam Syafie.Kemudian dia berjumpa Rasulullah ﷺ lalu ditanya kepada Baginda Rasulullah.
Ya Rasulullah.Siapakah yang menjadi Wali Allah?Kemudian Rasulullah ﷺ menjawab mereka yang membaca,mempelajari kitab tanbih dan kitab muhadzdzab dan ditempat itu selalu dibaca kitab tanbih dan kitab muhadzdzab Al-Imam Abu Ishaq asy-Syirazi.
Kemudian dia bermimpi buat kali kedua dan ditanya kembali "Ya Rasulullah,siapakah Wali Allah?Maka dijawab Baginda Rasulullah.Mereka yang mempelajari kitab tanbih dan muhadzdzab.Kemudian bermimpi lagi buat ketiga kalinya bertemu Rasulullah ﷺ.Ditanya lagi siapakah Wali Allah Ya Rasulullah.
Maka Baginda Rasulullah ﷺ menjawab mereka yang mempelajari kitab tanbih dan kitab muhadzdzab.Lalu ditanya lagi.Kalau orang-orang yang mempelajari Al-Quran Ya Rasulullah.Maka Baginda ﷺ mengatakan mereka adalah orang-orang yang khusus pilihan daripada Allah سبحانه وتعالى." Mengenai masalah mimpi ini telah ditetapkan oleh Nabi ﷺ dalam hadis sahih Bukhari bahawasanya mimpi-mimpi yang bagus itu adalah bahagian 46 bahagian daripada wahyu Nabawi yang mana kalau mimpi berjumpa Nabi ﷺ di dalam kitab Sahih Bukhari disebutkan "Barangsiapa yang bermimpi berjumpa aku maka pasti mimpinya adalah benar kerana syaitan tidak boleh menyerupai diriku". Maka sungguh salah kalau ada orang yang memilih jalan dan hidup yang berpendapat mimpi ini semuanya salah,tidak benar.Demikian juga salah pula kalau ada orang yang memilih jalan dan hidup yang berpendapat bahawa dengan dasar mimpi akhirnya membolehkan dia meninggalkan syariat disebabkan mimpi kemudian dia meninggalkan hal-hal yang sesuai,diajarkan dengan ajaran Nabi ﷺ.
Maka dua-dua ini tidak benar.Yang benar adalah yang berada di tengah-tengah yang mana meletakkan mimpi sesuai dengan apa yang dilakukan/diajar/dibolehkan di dalam syariat.
#MutiaraKata[AL-MUSNID AL-ALLAMAH AL-HABIB UMAR BIN MUHAMMAD BIN SALIM BIN HAFIDZ]

Mungkin ada di antara kita yang selalu bermimpi ataupun pernah bermimpi bertemu dengan Para Ulama ataupun orang-orang yang soleh.Maka di sini sedikit perkongsian ilmu yang dijawab Al-Allamah As-Syeikh Muhammad Nuruddin Marbu Al-Banjari Al-Makki mengenai tafsiran mimpi.
Bagaimana kalau kira-kira kita bermimpi berjumpa Ulama,bermimpi berjumpa dengan orang-orang yang soleh,mimpi pergi ke Makkah,mimpi tawaf,mimpi sedang saie,mimpi wukuf di padang Arafah,mimpi sedang berada di raudhah.Itu semuanya diantaranya adalah mimpi-mimpi yang elok.
Itu adalah mimpi-mimpi yang mulia.Nabi kita menyebutkan di dalam hadis "Tidak terpisah daripada perkara kenabianku melainkan mubashiroh.Apakah itu mubashiroh Ya Rasulullah.Nabi kita menjawab mimpi yang baik yang dimimpikan oleh seseorang atau yang dilihat oleh orang lain.
Kalau kita bermimpikan perkara yang baik maka kita boleh menceritakannya kepada orang lain tetapi kalau kita bermimpi perkara yang tidak baik jangan kita ceritakan kepada orang lain.
Jadi kata Ulama diantara makna tafsiran mimpi bertemu dengan orang-orang yang soleh maka kebaikan dan kesolehan orang itu sedikit sebanyak akan terimbas kepada kita.Sedikit sebanyak kebaikan orang itu akan kita dapatkan kemuliaan daripada orang yang mulia.
Jadi kira-kiranya kebaikan orang yang kita mimpikan itu InshaAllah ketabahannya,kebijaksanaannya,kemuliaannya,kesopanannya akan terimbas dan menular kepada kita.
Sebagaimana yang kita telah ketahui, segala mimpi-mimpi yang baik itu adalah dari Allah ﷻ manakala mimpi yang buruk itu datangnya dari Syaitan.
#MutiaraKata[AL-ALLAMAH AS-SYEIKH MUHAMMAD NURUDDIN MARBU AL-BANJARI AL-MAKKI]

Via Fb Muhamad shahbudin‎

Sabtu, Disember 06, 2014

Potongan zakat bulanan bercanggah sunnah?

Zakat

Soalan: Saya mendengar ada ustaz berceramah, adalah salah tindakan pihak pusat zakat memotong gaji para pekerja setiap bulan sebagai zakat, kerana ia bercanggah dengan sunnah. Bolehkah ustaz perjelaskan isuini? Terima kasih.

Jawapan: Terima kasih atas persoalan yang dikemukakan, semoga Allah SWT memberkati dan merahmati kita semua, amin.

Memang tidak dinafikan, ada pihak tertentu yang beranggapan bahawa kaedah pembayaranzakat pendapatan menerusi potongan gaji bulanan adalah salah. Pihak berkenaan mendakwa, ada tiga sebab mengapa ia tidak boleh dilaksanakan, iaitu:

1. Potongan bulanan itu bertentangan dengan ketetapan hadis yang mensyaratkan wajib mencapai haul ke atas harta zakat,

2. Potongan zakat (diambil secara bulanan) tiada dalam amalan sunnah nabi mahu pun para sahabat terdahulu, dan

3. Potongan zakat ini telah menzalimi mereka yang dipaksakan potongan ke atasnya, kerana pihak pusat zakat tidak mengambil kira pun aspek perbelanjaan sebenar orang berkenaan.

Sebelum menjelaskan lebih lanjut, suka dimakluman bahawa di dalam perlaksanaan zakat pendapatan ini ia memang terbuka kepada kepelbagaian pandangan ulama. Malah, ia boleh jadi berbeza dari satu ke satu masa, boleh jadi berbeza antara satu tempat dengan tempat yang lain, malah boleh jadi berbeza dari segi hukum ke atasnya di antara satu negeri dengan negeri yang lain.

Soalannya, kenapakah wujud perbezaan ke atasnya? Hal ini kerana, hukum ke atas zakat pendapatan ini sifatnya tidak ijmak (tidak ada kesepakatan atau ittifaq dalam kalangan fuqaha), sehingga dengan itu membolehkah wujudnya perbezaan pendapatan (khilaf) dalam perlaksanaannya.

Namun, dalam jawapan ini penulis tidak bermaksud memanjangkan perbahasan mengenai khilaf berkenaan. Malah di Malaysia sendiri, termasuklah di nusantara dan pelbagai belahan dunia Islam, zakat pendapatan sudah mendapat tempat yang sewajarnya. Hal ini kerana, menerima kemasukan zakat pendapatan adalah lebih utama daripada menolaknya, kerana jelas ia telah memberikan natijah yang cukup besar kepada kepentingan ummah secara umum.

Baiklah, apa kaitannya dengan perbincangan di sini, khususnya dalam bab memotong zakat secara bulanan ini? Jawapannya, ini kerana khilaf itulah yang menyebabkan lahirnya idea pemotongan zakat secara bulanan. Sesungguhnya, memang ada dalil di dalam Islam yang mengharuskan perkara tersebut untuk dilakukan. Apatah lagi, dalam perlaksanaan sesuatu ibadah, seperti zakat, maka penentuan dalil sangat penting, demi mengelakkan ibadah itu tertolak atau menyalahi hukum yang sebenar (dan menjadi bid’ah).

Pertama, dakwaan potongan bulanan itu bertentangan dengan ketetapan hadis zakat yang mensyaratkan wajib mencapai haul (genap setahun dimiliki) ke atas harta zakat. Jawapannya, dalam hal ini sebenarnya ada dalil daripada Nabi SAW sendiri yang memberikan keizinan kepada kita untuk mengeluarkan zakat tanpa perlu menunggu haul. Hal ini telah berlaku kepada Abbas bin Abdul Mutalib r.a (bapa saudara nabi) yang bertanya kepada Rasulullah SAW, tentang zakatnya yang mahu dikeluarkan sebelum sampai haulnya dan nabi mengizinkannya (hadis ini dikeluarkan oleh Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan at-Termizi, rujuk Hukum Zakat, Dr. Yusuf al-Qaradhawy, hal. 814 dan Fiqh Islam Jilid 3, Dr. Wahbah az-Zuhaily, hal. 187 juga al-Amwal, Abu Ubaid, hal. 710).

Namun, ada pihak yang mempertikaikan status hadis yang diriwayatkan di atas, dan menganggap ia adalah hadis daif yang tidak boleh dijadikan hujah. Dr. Yusuf al-Qaradhawy sebaliknya menegaskan, masih ada hadis-hadis lain termasuklah hadis sahih riwayat Imam Muslim yang mendokong berkenaan isu mendahului haul zakat ini.

Di dalam sebuah hadis Muslim, ada disebutkan perihal Umar r.a telah diutuskan untuk mengambil zakat daripada Abbas r.a dan berlaku dialog panjang dengan beberapa orang sahabat yang mencegah Umar daripada mengambil zakat ke atasnya. Akhirnya Nabi SAW memberitahu Umar bahawa zakat atas pamannya itu adalah atas tanggungannya, dan (Abu Ubaid menokok) Nabi SAW kemudiannya memberikan pinjaman kepada Abbas r.a untuk zakat bagi dua tahun mendatang (didahulukan haulnya).

Hal ini bolehlah dirujuk langsung ke dalam kitab Hukum Zakat dalam bab ‘Alasan yang membolehkan (mendahului haul zakat)’ pada halaman 814-817.

Perkara kedua, adakah amalan membayar zakat tepat sewaktu ia diperoleh ini tidak ada sandaran dalil? Di sini, ada beberapa dalil atas amalan para sahabat (disebut athar sahabi ataupun hadis Mauquf) yang boleh dijadikan panduan.

Pertama, dinyatakan Abu Ubaid meriwayatkan daripada Habirah bin Yaryam bahawa dia berkata: Sesungguhnya Abdullah bin Mas’ud memberi gaji kepada kami di dalam bekas kecil, kemudian beliau mengambil zakat daripadanya. (rujuk Kitab al-Amwal oleh Abu Ubaid, hal. 504)

Abu Ubaid juga menyatakan di dalam kitabnya: bahawa Umar bin Abdul Aziz apabila memberikan kepada seseorang upahnya ia akan mengambil zakat daripada upah tersebut. Dan apabila ia mengembalikan harta yang dirampas, ia akan mengambil daripadanya zakat. Dan ia juga mengambil zakat daripada gaji yan diberikan kepada pemiliknya. (ibid, hal. 432)

Kenapakah mereka melaksanakan hal tersebut? Hal ini kerana, mereka beranggapan bahawa status haul ke atas zakat pendapatan adalah tidak sama seperti mana harta-harta yang lain. Zakat ke atas harta pendapatan hendaklah dikeluarkan pada saat ia diperoleh, sama seperti memperoleh harta pertanian. Pandangan ini dikongsikan oleh sebahagian fuqaha muktabar, misalnya Ibnu Mas’ud, Muawiyah, Umar bin Abdul Aziz, Hassan dan az-Zuhri (Hukum Zakat, Dr. Yusuf al-Qaradawy, hal. 469)

Di samping itu, jika mahu kita boleh merujuk kepada kitab yang sama mengenai perbahasan status haul ke atas zakat, di mana Dr. Yusuf al-Qaradawy telah membahaskan perihal status hadis yang mensyaratkan haul adalah tidak mencapai darjat sahih (ibid, hal. 463-467).

Ketiga, benarkah potongan ini juga telah menzalimi mereka yang berkenaan?

Jawapannya, bertitik tolak daripada perbincangan di atas, maka kita dapat merumuskan bahawa menunaikan zakat lebih awal dan tanpa perlu menunggu haul, adalah satu keharusan yang diberikan dalam hukum Islam. Ia bukanlah wajib, tetapi harus sahaja. Maka, membuat potongan bulanan tidak wajib, tetapi digalakkan dan tidak patutlah timbul ia satu kezaliman.

Hal ini kerana, semasa proses pemotongan dilakukan, pihak Lembaga Zakat Selangor (LZS) misalnya telah mengambil kira jumlah pendapatan kasar yang bakal diperoleh dalam setahun (didarab 12 bulan) dan ditolak keperluan diri, isteri dan anak-anak (sebagaimana yang ditetapkan dalam kaedah Had al-Kifayah pembayar zakat).

Sekiranya taksiran yang dilakukan oleh pihak LZS itu dirasakan tidak tepat, maka pihak yang berkenaan boleh menaksir sendiri zakat mereka dan mengemukakan amaun zakat bulanan yang baharu kepada LZS untuk dijadikan potongan bulanan. Maknanya, ia bukanlah satu amaun yang sudah ‘mutlak dan putus’ dipatuhi, tetapi masih boleh dikira kembali. Sekiranya pihak muzakki sudah mempunyai amaun yang dikenal pasti, mereka hendaklah menghantarkan maklum balas kepada LZS (dalam tempoh 30 hari) untuk tindakan lanjut (rujuk Keputusan Mesyuarat Majlis Mesyuarat Kerajaan Negeri Selangor (MMK) Ke 27/ 2003, 10 Disember 2003).

Kesimpulannya, potongan zakat pendapatan menerusi gaji bulanan ini sebenarnya hanyalah satu inovasi yang bertitik tolak daripada apa yang pernah dilakukan oleh para sahabat silam, dalam bentuk yang lebih kemas dan teratur. Banyak kelebihan yang boleh diperoleh oleh pembayar, termasuklah melaraskan jumlah potongan zakat bulanan dengan Potongan Cukai Berjadual, dan ia juga boleh meringankan beban kewangan mereka (kerana jika tidak, lebihan cukai hanya boleh dituntut pada tahun hadapan). – (SUMBER: HARAKAHDAILY 20/11/2014)

(Oleh  USTAZ HAMIZUL ABDUL HAMID)

Gambaran Neraka

(PERHATIAN: FOTO FOTO YANG DI MUATKAN DI SINI HANYA GAMBARAN SAHAJA).

Pintu Neraka Jahannam

An Naar (Neraka) memiliki 7 pintu yang akan dilewati dari pintu-pintu tersebut oleh para penghuni neraka sesuai dengan kadar dosa dan maksiat yang mereka lakukan di dunia. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya): “Dan Sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengekor-pengekor setan) semuanya. Jahannam itu mempunyai tujuh pintu, tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka.” (Al Hijr: 43-44)

Gambaran Neraka dalam Al-Qur'an dan Sunnah

Panas An Naar / Neraka

Para pembaca yang semoga Allah subhanahu wata’ala tetap melimpahkan rahmat-Nya kepada kita, bahwa An Naar (neraka) itu adalah suatu tempat tinggal yang memiliki daya panas yang dahsyat. Kadar terpanas yang ada di dunia itu belum seberapa dibanding dengan panasnya api neraka. Allah berfirman (artinya):

“Maka, Kami akan memperingatkan kamu dengan An Naar yang menyala-nyala.” (Al Lail : 14)

Bagaimana gambaran dahsyatnya api neraka yang telah Allah subhanahu wata’ala sediakan itu? Hal itu telah digambarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadist yang diriwayatkan shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:

“(Panasnya) api yang kalian (Bani Adam) nyalakan di dunia ini merupakan sebagian dari tujuh puluh bagian panasnya api neraka Jahannam.” Para sahabat bertanya: “Demi Allah, apakah itu sudah cukup wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam” Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “(Belum), sesungguhnya panasnya sebagian yang satu melebihi sebagian yang lainnya sebanyak enam puluh kali lipat.” (HR. Muslim no. 2843)

Api neraka itu juga melontarkan bunga-bunga api. Seberapa besar dan bagaimana warna bunga api tersebut? Allah subhanahu wata’ala telah gambarkan hal tersebut dalam surat Al Mursalat: 32-33 (artinya): “Sesungguhnya neraka itu melontarkan bunga api sebesar dan setinggi istana. Seolah-olah seperti iringan unta yang kuning.”

Berkata Asy Syaikh As Sa’di dalam tafsir ayat ini: “Sesungguhnya api neraka itu hitam mengerikan dan sangat panas.” (Lihat Taisirul Karimir Rahman)

Bagaimana dengan suara api neraka itu? Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):

“Apabila An Naar melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara yang menyala-nyala.” (Al Furqon : 12)

Berkata As Sa’di dalam tafsirnya: “Sebelum orang-orang penghuni sampai ke An Naar, dari jauh mereka sudah mendengar kengerian suaranya yang menggoncangkan dan menyempitkan hati, hampir-hampir seorang dari mereka mati karena ketakutan dengan suaranya. Sungguh api neraka itu murka kepada mereka karena kemurkaan Allah. Dan semakin bertambah murkanya disebabkan semakin besar kekufuran dan kedurhakaan mereka kepada Allah. (Lihat Taisirul Karimir Rahman)

Lalu dari bahan bakar apakah yang dengannya Allah subhanahu wata’ala menjadikan api neraka itu dahsyat dan bersuara yang mengerikan? Ketahuilah, untuk menunjukkan semakin ngerinya dan pedihnya siksaan di neraka, maka Allah subhanahu wata’ala jadikan bahan bakar api neraka itu dari manusia dan batu. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya): “Jagalah dirimu dari (lahapan api) neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (Al Baqarah: 24)

Gambaran Neraka dalam Al-Qur'an dan Sunnah

Pakaian Penghuni An Naar / Neraka

Mereka juga akan dikenakan pakaian. Tentu pakaian itu tidak dibuat untuk kenyamanan. Justru pakaian itu sengaja disiapkan untuk menambah kesengsaraan bagi para penghuni nereka. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):

“Pakaian mereka adalah dari pelangkin (ter) dan muka mereka ditutup oleh api neraka.” (Ibrahim : 50)

“Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka…,” (Al Haj : 19)

Tempat Tidur Penghuni An Naar / Neraka

Demikian juga mereka telah disiapkan tempat tidur dan selimut. Yang sengaja dibuat untuk menambah kepedihan adzab bagi mereka. Allah subhanahu wata’ala berfirman: “Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang zhalim.” (Al A’raf: 41)

Gambaran Neraka dalam Al-Qur'an dan Sunnah

Penjaga An Naar / Neraka

Allah subhanahu wata’ala juga telah menyiapkan algojo yang siap mengawasi dan menyiksa para penghuni An Naar. Allah memilih algojo (penjaga) itu dari kalangan malaikat. Allah berfirman (artinya):

“Dan tiada Kami jadikan penjaga An Naar melainkan dari malaikat.” (Al Mudatstsir: 31)

Gambaran Neraka dalam Al-Qur'an dan Sunnah

Gambaran Neraka dalam Al-Qur'an dan Sunnah

Makanan Dan Minuman Penghui An Naar / Neraka

Makanan Yang Berduri

Allah berfirman (artinya):

“Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan rasa lapar.” (Al Ghasiyah: 6-7)

“Dan makanan yang menyumbat di kerongkongan dan azab yang pedih.” Al Muzammil: 13

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma menjelaskan tentang ayat diatas: Bahwa “makanan yang menyumbat di kerongkongan” itu adalah duri yang nyangkut di kerongkongan yang tidak bisa masuk dan tidak pula keluar. Sehingga makanan itu hanya akan menambah kepedihan dan kesengsaraan.

Tatkala para penghuni neraka haus karena terbakar. Maka Allah subhanahu wata’ala sudah siapkan hidangan minuman bagi mereka yang akan menambah pedih siksaan mereka. Minuman berupa nanah dan air panas yang dapat memotong usus-usus mereka. Allah berfirman (artinya): “Kemudian sesudah makan buah pohon zaqqum itu pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas..” (Ash Shaffat: 67-68)

“… dan mereka diberi minuman air yang mendidih sehingga memotong usus-usus mereka.” (Muhammad: 15)

“Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah.” An Naba’ : 24-25

Berikut adalah Foto Foto gambaran neraka dari sudut pemikiran manusia.

Neraka sebenar adalah amat dahsyat dan tidak sampai untuk digambarkan oleh manusia

Gambar Neraka, Gambaran Neraka, Gambar-Gambar Neraka

Gambar Neraka, Gambaran Neraka, Gambar-Gambar Neraka

Gambar Neraka, Gambaran Neraka, Gambar-Gambar Neraka

Gambar Neraka, Gambaran Neraka, Gambar-Gambar Neraka

Gambar Neraka, Gambaran Neraka, Gambar-Gambar Neraka

Gambar Neraka, Gambaran Neraka, Gambar-Gambar Neraka

Gambar Neraka, Gambaran Neraka, Gambar-Gambar Neraka

Nah, sekarang kita sudah tahu bagai mana gambaran neraka. Siksaan yang akan kita hadapi nanti sangatlah menyakitkan. Marilah, mulai sekarang kita berusaha sedaya upaya untuk melakukan maksiat dan perbuatan-perbuatan yang melanggar perintah Allah dan kita melakukan apa yang diperintahkan Allah dan kita harus senantiasa berdoa dan bertaubat kepada Allah, karena kita hanyalah manusia yang penuh dengan dosa dan kesalahan.

Sumber: http://www.disukai.com/2013/04/gambaran-neraka-dalam-al-quran-dan-sunnah.html

Rabu, Disember 03, 2014

Mereka adalah Ulama Salafus Soleh

1) Imam Hanafi lahir:80 hijrah
2) Imam Maliki lahir: 93 hijrah
3) Imam Syafie lahir:150 hijrah
4) Imam Hanbali lahir:164 hijrah
5) Imam Asy'ari lahir: 240 hijrah

Mereka ini semua ulama Salafus Soleh atau dikenali dengan nama ulama SALAF...Apa itu salaf?
Salaf ialah nama "zaman" iaitu merujuk kepada golongan ulama yang hidup antara kurun zaman kerasulan Nabi Muhammad hingga 300 HIJRAH.

1) golongan generasi pertama dari 300 tahun hijrah tu disebut "Sahabat Nabi" kerana mereka pernah bertemu Nabi
2) golongan generasi kedua pula disebut "Tabi'in" iaitu golongan yang pernah bertemu Sahabat nabi tapi tak pernah bertemu Nabi
3) golongan generasi ketiga disebut sebagai "Tabi' tabi'in" iaitu golongan yang tak pernah bertemu nabi dan sahabat tapi bertemu dengan tabi'in.

Jadi Imam Abu hanifah(pengasas mazhab hanafi) merupakan murid Sahabat nabi maka beliau seorang TABI'IN.Imam Malik,Imam Syafie,Imam Hanbali,Imam Asy'ari pula berguru dengan tabi'in maka mereka adalah golongan TABI' TABI'IN.

Jadi kesemua imam-imam yang mulia ini merupakan golongan SALAF YANG SEBENAR dan pengikut mazhab mereka lah yang paling layak digelar sebagai "Salafi" kerana "salafi" bermaksud "pengikut golongan SALAF".

Jadi beruntung lah kita di Malaysia yang masih berpegang kepada mazhab Syafie yang merupakan mazhab SALAF yang SEBENAR dan tidak lari dari kefahaman NABI DAN SAHABAT...


Selasa, Disember 02, 2014

BERSERBANLAH! JANGAN MALU...

Syeikh ‘Ali Nasif dalam kitabnya “At-Tajul-Jami’ Lil-Usul Fi Ahadith ar-Rasul” di bawah tajuk al-‘Imamah (Serban) membuat ulasan; “Terdapat segolongan orang Islam meninggalkan serban dengan hujjah bahawa ia hanyalah adat atau kebiasaan sama seperti makan, minum dan sebagainya dan bukan dari agama. Selalunya yang mendorong mereka berpandangan demikian adalah sikap suka meniru bangsa lain.

Walhal jika kita meletakkan berserban itu sebagai adat sekalipun, ia merupakan semulia-mulia adat kerana ia adalah adat Nabi s.a.w. di mana baginda adalah semulia-mulia makhluk pada pandangan sekelian kaum muslimin.

Pepatah Arab ada menyebutkan; “Adat orang-orang besar adalah setinggi-tinggi adat”. Namun apa yang sebenarnya ialah; berserban adalah tergolong dalam agama melihat kepada nas-nas. Ia adalah sunnah para Nabi dan Rasul.

Memadai (untuk menunjukkan kemuliaannya kepada kita) dengan Malaikat Jibril sendiri berserban ketika turun berjumpa Nabi s.a.w.. Begitu juga, Nabi s.a.w. telah bersabda kepada Abdur-Rahman tatkala memakaikannya serban;

“Beginilah memakai serban. Sesungguhnya ia lebih kemas dan lebih cantik”.

GAMBAR: Maulana Shaykh Hisham Kabbani Al-Husaini

‎BERSERBANLAH! JANGAN MALU...

Syeikh ‘Ali Nasif dalam kitabnya “At-Tajul-Jami’ Lil-Usul Fi Ahadith ar-Rasul” di bawah tajuk al-‘Imamah (Serban) membuat ulasan; “Terdapat segolongan orang Islam meninggalkan serban dengan hujjah bahawa ia hanyalah adat atau kebiasaan sama seperti makan, minum dan sebagainya dan bukan dari agama. Selalunya yang mendorong mereka berpandangan demikian adalah sikap suka meniru bangsa lain.

 Walhal jika kita meletakkan berserban itu sebagai adat sekalipun, ia merupakan semulia-mulia adat kerana ia adalah adat Nabi s.a.w. di mana baginda adalah semulia-mulia makhluk pada pandangan sekelian kaum muslimin.

 Pepatah Arab ada menyebutkan; “Adat orang-orang besar adalah setinggi-tinggi adat”. Namun apa yang sebenarnya ialah; berserban adalah tergolong dalam agama melihat kepada nas-nas. Ia adalah sunnah para Nabi dan Rasul. 

Memadai (untuk menunjukkan kemuliaannya kepada kita) dengan Malaikat Jibril sendiri berserban ketika turun berjumpa Nabi s.a.w.. Begitu juga, Nabi s.a.w. telah bersabda kepada Abdur-Rahman tatkala memakaikannya serban;

هكذا فاعتم فإنه أعرب وأحسن

“Beginilah memakai serban. Sesungguhnya ia lebih kemas dan lebih cantik”.

GAMBAR: Maulana Shaykh Hisham Kabbani Al-Husaini

DARI: Ustaz Ahmad Rizam

LIKE: 
Jom Dakwah Bersama Ulama
Shaykh Hisham Kabbani
Naqshbandi Haqqani Sufi Order
Naqshbandi Sufi Order of Malaysia
Shaykh Dr. Abdalqadir as-Sufi
Shaykh Dr. Muhammad bin Yahya al-Husayni al-Ninowy الشيخ د. محمد النينوي
Shaykh-ul-Islam Prof.Dr. Muhammad Tahir-ul-Qadri
Shaykh ul Alam Hazrat Pir Muhammad Alauddin Siddiqui Sahib (DBA)
Shaykh Monawwar Ateeq
Shaykh Ahmad Kabeer Sabahudin Al-Rifâi
Shaykh Mohammed Aslam

#malaysia, #indonesia #singapore #pattani #brunei #rohingya #turkey #palestine

PLEASE TAG & SHARE . INSYAALLAH‎

DARI: Ustaz Ahmad Rizam

Amalan amalan “bidaah” para salafusoleh yang tidak pernah dibuat Raulullah SAW.

Banyak amalan salafussoleh yang tak pernah dibuat Rasulullah.

1. Solat terawih berjemaah 20 rakaat selama sebulan - ijtihad saidina Umar

2. Idea Pengumpulan Al Quran dan seterusnya pembukuan Al Quran - ijtihad saidina Umar dan Saidina Uthman

3. Solat sunat selepas ambik wudhuk - ijtihad Bilal bin Rabah

4. Merekacipta selawat - Saidina Ali, AbduLlah bin Umar, Abdullah bin Abbas, AbduLlah bin Mas'ud, Imam ASy Syafie radiyallahu 'anhum

5. Azan dua kali sebelum solat Jumaat - Saidina Uthman

6. Imam Malik berpendapat, diharuskan melewatkan solat bagi mereka yang ketiadaan air diqiyaskan dengan seorang perempuan yang kedatangan haid yang diharuskan melewatkan solatnya (al Mughni: 1/250)

7. Imam Abu Hanifah dan Imam asy Syafie berpendapat, sah tayammum bagi seorang yang berhadas besar dengan niat mengangkat hadas kecil diqiyaskan dengan sahnya wudhuk selepas membuang air kecil atau besar (walaupun tanpa niat untuk mengerjakan solat). (Al Mughni: 1/267)

8. Imam Malik membolehkan qadha' solat malam yang terluput, iaitu dikerjakannya selepas terbit fajar sebelum solat Subuh diqiyaskan dengan solat witir. Tetapi ini adalah salah satu pendapat Imam Malik berhubung dengan masalah ini. (al Mughni:2/120)

9. Solat Sunat Dhuha - Ibnu Umar radiyallahu 'anhu

Banyak lagi.

Yang penting yang berijtihad berkenaan memang ada disiplin ilmu yang kuat untuk berijtihad. Dan mereka tahu apa kehendak dalil al Quran dan hadith samada berbentuk am, khas, nasikh, mansukh dsb.

Datang makhluk penyesat zaman sekarang ni kata, apa yang tidak dibuat oleh Rasulullah adalah dilarang, diharamkan, bid'ah sesat masuk neraka dan ditinggalkan terus ?

Jumaat, November 28, 2014

YAASIN MALAM JUMAAT ADA DALIL YANG KUAT

Imam al-Baihaqi dalam kitab asy-Syu'ab telah mentakhrijkan daripada Sayyidina Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, katanya : "Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Sesiapa yang membaca pada malam Jumaat 'Ha Mim ad-Dukhan' dan 'Yasin', jadilah dia pada pagi harinya dalam keadaan diampuni."

Al-Ishbihani meriwayatkan dengan lafaz :

"Sesiapa yang membaca 'Yasin' pada malam Jumaat dia diberi keampunan." - [Hadith ini disebutkan oleh Imam al-Munziri di dalam kitab al-Targhib dengan katanya; "Hadith ini diriwayatkan oleh al-Ishbihani."

Inilah antara dalilnya bagi pengamalan bacaan surah Yasin pada malam Jumaat sebagaimana diamalkan sekian lama oleh umat Islam di Alam Melayu-Nusantara, walau pun terdapat hadith-hadith lain yang menyarankan pada malam Jumaat juga dianjurkan membaca surah ad-Dukhan, al-Baqarah, Ali-'Imran, dan al-Kahfi dengan kelebihannya yang tersendiri.

Pemilihan surah Yasin yang dijadikan amalan membacanya secara beramai-ramai pada malam Jumaat adalah kerana surahnya tidak terlalu panjang dan bersesuaian pula dibacakan pada waktu ruang antara selesai solat Maghrib dan sebelum waktu solat Isya. Manakala, surah-surah lain itu pula boleh dibuat secara bersendiri mengikut kemampuan masing-masing.

Sementara itu, surah al-Kahfi pula boleh diamalkan pembacaannya secara beramai-ramai selepas selesai solat Subuh berjemaah, iaitu sejurus selepas berwirid dan berdoa, kerana ruang itu memadai bagi menghabiskan surah al-Kahfi sebelum menunaikan solat sunat Dhuha. Ia juga boleh dibaca sebelum sampai waktu solat Jumaat.

Pembacaan surah al-Kahfi pada siang hari Jumaat ini berdasarkan beberapa hadith, sebagaimana disarankan oleh Baginda Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam, antaranya :

Al-Hakim dan al-Baihaqi telah mentakhrijkan daripada Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu, daripada Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam, sabda Baginda :

"Sesiapa yang membaca surah al-Kahfi pada hari Jumaat, dia akan mendapat cahaya di sepanjang masa di antara dua Jumaat." - [Al-Hakim berkata : "Hadith ini sahih." Ibnu Hajar berkata : "Hadith ini adalah hadith hasan dan ia hadith yang terkuat mengenai surah al-Kahfi."

Sa'id bin Mansur telah mentakhrijkan hadith mauquf daripada Abu Sa'id al-Khudri dengan lafaz :

"Dia akan mendapat cahaya di antara tempatnya dengan Kaabah."

Sa'id bin Mansur juga mentakhrijkan daripada Khalid bin Ma'dan katanya : "Sesiapa yang membaca surah al-Kahfi sebelum munculnya imam [pada hari Jumaat], dia akan mendapat kaffarah dosanya di antaranya dengan Jumaat itu dan cahayanya sampai ke Kaabah."

Ibnu Mardaweih telah mentakhrijkan daripada Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, katanya : "Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Sesiapa yang membaca surah al-Kahfi pada hari Jumaat, maka terbitlah cahaya dari bawah kakinya mencecah sehingga ke langit tinggi meneranginya pada Hari Kiamat dan dia diberi keampunan [terhadap dosanya] di antara dua Jumaat."

Berdasarkan pada huraian serba ringkas ini, diharapkan tidak akan ada lagi perbalahan antara sesama umat Islam mengenai isu ini sekali gus mempertikaikan pula pengamalan bacaan surah Yasin pada malam Jumaat sebagaimana dilakukan oleh sebahagian besar umat Islam di Alam Melayu-Nusantara ini secara istiqamah.

Moga bermanfaat. Apa yang penting ialah kita teruskan beramal demi mencapai keredhaan Allah 'Azza wa Jalla, kerana perbalahan dalam perkara yang kecil dan khilafiyah sifatnya ini tidak membawa sebarang manfaat, melainkan umat ini hanya tergelincir dalam perkara sia-sia. Wallahu a'lam.

Fastabiqul Khairat.

اللهم صل وسلم على البشير النذير السراج المنير سيدنا محمد حبيب رب العالمين

~  Hafiz Fandani/140414-998.

Kisah penentang manhaj salafussoleh dan ulama yang ikut salafussoleh

Bagaimana seseorang atau sekumpulan orang tertentu boleh mengaku diri mereka salafi sedangkan bermusuh dengan manhaj salafussoleh, serta ulamak dan umat Islam yang mengikut salafussoleh ?

Contohnya :

1. Imam Asy Syafie tidak pernah menyatakan tahlilan itu sebagai bid'ah sesat atau haram. Tetapi Wahhabi mengatakannya sebagai haram dan bid'ah sesat masuk neraka serta mengatakan ia berasal dari ajaran hindu.

2. Imam Asy Syafie berpendapat zikir secara jahr boleh dilakukan oleh Imam kepada makmum selepas solat dengan tujuan untuk mengajar. Dan beliau MEMILIH untuk membaca zikir secara sirr kepada imam tanpa membid'ahkan mahupun melarang zikr secara jahr secara berjemaah selepas solat. Namun Wahhabi pula menyatakan perbuatan ini bid'ah sesat dan menyatakan Imam Asy Syafie melarang zikir secara berjemaah selepas solat.

3. Imam Asy Syafie menyatakan doa qunut dalam Solat Subuh adalah sunat berdasarkan hadith sahih. Namun ada wahhabi yang MELARANG dan menyatakannya tiada nas dari al Quran dan hadith. Jika berlapang dada, maka pengaku salafi pastinya membenarkan umat Islam untuk membaca doa qunut semasa solat subuh BUKAN MELARANGnya.

4. Imam Ahmad bin Hanbal membolehkan tawassul kepada Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam yang telah wafat. Namun wahhabi pula menyatakan ia sebagai SYIRIK/KAFIR.

5. Imam Asy Syafie, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Malik, Imam Abu Hanifah memuji dan mengiktiraf tasawwuf dan ahli sufi yang benar. Wahhabi pula menghina, melekehkan, menolak, bahkan mengkafir dan mensyirikkan ahli sufi dengan gelaran penyembah kubur.

6. Majoriti ulamak dan umat Islam mengikut manhaj salafussoleh dengan mengikut mazhab mereka. Namun wahhabi mengajak umat Islam terus secara langsung merujuk kepada al Quran dan As Sunnah walaupun jahil. Sedangkan para ulamak yang bertaraf mufti mustaqil, mujtahid mazhab, mujtahid fatwa pun mengikut manhaj salafussoleh.

7. Penduduk di Dubai dan Abu Dhabi yang bermazhab Maliki dan dalam aqidah mengikut Asy'ari dihukum kafir oleh pengaku salafi ini disebutkan oleh Dr Muhammad Adil Azizah Al Kayali Ketua Lembaga Pengawasan Da'wah di Dubai dalam kitabnya : Al Firqah An Najiah Hia Al Ummatul Islamiyyah Kulluha. Kitab yang sudah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia ini mendedahkan tentang tulisan-tulisan ulamak wahhabi yang menyesatkan majoriti ulamak dan umat Islam.

8. Jumhur ulamak (Syafi'eyyah, Hanafi dan Hanbali) kecuali mazhab Maliki menyatakan sunat membaca lafaz niat sebelum solat. Namun ulamak dalam mazhab Maliki mensunatkan orang yang was-was untuk melafazkan niat solat untuk membantu dari kesamaran. Namun wahhabi menyatakan melafazkan niat adalah kurang akal dan agama.

Ada banyak lagi bukti yang membezakan antara pengaku salafi dengan manhaj salafussoleh. Ini contoh yang sangat sedikit sahaja.

Sumber: - POS KOMEN PEJUANG SUNNI

Jual beli pada hari Jumaat


‎JUAL BELI PADA HARI JUMAAT

Sudah menjadi kebiasaan, disebabkan hari Jumaat adalah hari kerja di Malaysia, lelaki yang bekerjaya terpaksa terkejar-kejar mengambil waktu rehat tengahari untuk makan tengahari dan juga menunaikan solat fardhu Jumaat secara berjemaah. Namun, dalam ketika itu, ramai yang tidak sedar setiap minggu, mereka mungkin membeli makanan yang berulamkan dosa.

Sebelum ini, saya pernah mengulas berkenaan hal ini melalui siaran ‘Tanyalah Ustaz TV9' dan juga wawancara bersama Utusan Malaysia. Namun melihat kepada kekerapan dan kurang sensitiviti kalangan umat Islam di Malaysia khususnya. Satu penulisan ringkas yang khusus berkenaan hal ini adalah perlu.

Persoalan jual beli yang terus berlangsung di kalangan peniaga dan pembeli lelaki selepas azan pada hari Jumaat perlu dipandang serius atau ia akan berterusan. Lebih kurang menyenangkan, apabila melihat peniaga-peniaga ini berkhemah di luar masjid, mengambil untung atas perkumpulan umat Islam yang ingin menunaikan solat Jumaat, sedang mereka menjadi penyebab kepada dosa.

PENGHARAMAN JUAL BELI SELEPAS AZAN DI HARI JUMAAT

Solat Jumaat adalah wajib hanya ke atas lelaki baligh dan bukan wanita. Justeru setiap urusniaga di antara wanita dengan wanita selepas azan pertama atau kedua dikumandangkan pada hari Jumaat adalah sah dan harus. Justeru, ia tidak termasuk di dalam perbincangan para ulama dan bukan pula fokus artikel ini. Ia adalah satu keharusan yang disepakati oleh keempat-empat mazhab terbesar dalam Fiqh Islam.

Demikian juga halnya bagi mereka yang tidak wajib solat jumaat kerana sebab lain seperti sakit, musafir dan sebagainya.

Perbincangan hukum hanya berkisar kepada para lelaki, sama ada peniaga lelaki, pembeli lelaki atau kedua-duanya sekali yang sihat, baligh dan tidak bermusafir.

Asas hukum adalah dari surah al-Jumaat ayat 9 yang maksud-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Ertinya :Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

AZAN PERTAMA ATAU KEDUA?

Walaupun telah ijma'[1] di kalangan ulama akan pengharaman jual beli berdasarkan ayat di atas, mereka berbeza ijtihad dalam menentukan pengharaman itu jatuh selepas azan pertama atau kedua.

Perlu difahami bahawa azan Jumaat di zaman Nabi s.a.w, Abu Bakar as-Siddiq r.a dan Umar r.a hanyalah sekali sahaja, iaitu di ketika khatib (imam) naik ke atas mimbar untuk memulakan khutbah. Di zaman pemerintahan khalifah Uthman r.a, bilangan umat Islam bertambah lalu diperkenalkan azan kedua dan seterusnya ketiga (berfungsi sebagai iqamah).

Namun, hasil daripada kewujudan lebih dari satu azan selepas zaman Uthman, para ulama sekali lagi perlu berijtihad dalam menentukan azan manakah yang mesti tiada lagi jual beli selepasnya. Mazhab Maliki dan Hanbali jelas dan tegas bahawa pengharaman adalah selepas azan kedua iaitu di ketika khatib sudah naik ke atas mimbar, ia juga bertepatan dengan suasana di ketika turunnya ayat Al-Quran, para masa hayat baginda Nabi s.a.w.[2]

Imam At-Tohawi Al-Hanafi menegaskan :-

المعتبر الأذان عند المنبر بعد خروج الإمام ، فإنه هو الأصل الذي كان للجمعة على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم

Ertinya : Azan yang terpakai (dalam hal ini) adalah yang ketika keluar imam di atas mimbar, maka itulah yang asal sebagaimana Jumaat di zaman baginda Nabi s.a.w (Mukhtasar at-Tohawi, hlm 24)

Namun demikian, ulama mazhab Hanafi kelihatan mempunyai berbilang pandangan dengan majoriti di antara mereka berijtihad azan kedua adalah ‘pasti haram', cuma terdapat sebahagian besar mereka yang juga berpendapat pengharaman bermula sejak dari azan pertama (azan masuk waktu) lagi atau selepas tergelincirnya matahari pada hari tersebut.[3] Ini bermakna, mazhab Hanafi lebih tegas dalam hal ini dan disepakati oleh keempat-empat mazhab, berjual beli selepas azan kedua adalah haram.

Imam Ibn Kathir Al-Syafie menyebut :

اتفق العلماء على تحريم البيع بعد النداء الثاني

Ertinya : Para ulama bersepakat berkenaan pengharaman jualbeli selepas azan kedua ( Tafsir Ibn Kathir, 4/367)

BERDOSA SAHAJA ATAU AQAD JUGA BATAL?

Walaupun berjualbeli di waktu itu adalah haram yang beerti berdosa atas si penjual dan pembeli, namun adakah aqad jual beli mereka terbatal?

Jika kesalahan ini dilakukan, dosa yang ditanggung adalah satu peringkat, manakala sah batal transaksi itu pula adalah satu peringkat yang lain. Jika aqad tidak sah, beerti pemilikan harga yang diperolehi oleh penjual adalah batal dan demikian juga pemilikan pembeli ke atas barangan beliannya. Jika itu berlaku, beerti kedua-dua mereka menggunakan harta milik orang lain dan berterusan keadaan itu sehingga akhir hayat mereka dalam keadaan penuh syubhat dan bermasalah.

Dalam hal ini, para ulama tidak sepakat dalam menanggapi kesahihan atau terbatalnya aqad. Para Ulama terbahagi kepada dua kumpulan :

Pertama : Aqad adalah sah dan hanya dosa ditanggung oleh penjual dan pembeli. Ia adalah ijtihad dari mazhab Hanafi, Syafie dan sebahagian Maliki.

Kedua : Aqad batal dan berdosa ; Ia adalah pendapat mazhab Hanbali dan majoriti Maliki.

Namun, berdasarkan penelitian, pendapat pertama adalah lebih kukuh, khususnya adalah rukun dan syarat jual beli telah semuanya dipenuhi, kecuali ia melanggar waktu jualan yang diharamkan sahaja, atas kesalahn itu dosa sahaja ditanggung tanpa pembatalan aqad.  

Apapun, amat perlu umat Islam di Malaysia dan dimana sahaja untuk lebih berhati-hati dalam hal ini. Justeru, amat digalakkan agar dapat dinasihatkan kepada para peniaga dan semua warga Muslim yang wajib ke atas solat Jumaat untuk menghindari kesalahan ini. Kita bimbang,akibat kejahilan, ramai yang melanggarnya secara berulang kali.

KESIMPULAN

Kesimpulan, jual beli itu akan jatuh haram hanya apabila:

a) Dilakukan selepas azan kedua sewaktu imam berada di atas mimbar.

b) Dilakukan oleh lelaki (sama ada sebagai peniaga atau penjual) yang wajib solat Jumaat.

c) Mengetahui berkenaan hukum haram ini, dan wajiblah ke atas individu mukallaf untuk mempelajarinya. Wajib pula untuk menyampaikannya bagi yang mengetahui.

Saya amat berharap agar para khatib dapat mengingatkan perkara ini setiap kali mereka berada di atas mimbar, juga diingatkan oleh para bilal sebelum mereka melaungkan azan kedua. Digalakkan pula bagi orang ramai untuk mengedarkan tulisan ini di masjid-masjid bagi menyedarkan orang ramai.

Sekian,

 Nukilan : Ustaz Dr. Zaharuddin Abd Rahman‎

Sudah menjadi kebiasaan, disebabkan hari Jumaat adalah hari kerja di Malaysia, lelaki yang bekerjaya terpaksa terkejar-kejar mengambil waktu rehat tengahari untuk makan tengahari dan juga menunaikan solat fardhu Jumaat secara berjemaah. Namun, dalam ketika itu, ramai yang tidak sedar setiap minggu, mereka mungkin membeli makanan yang berulamkan dosa.

Sebelum ini, saya pernah mengulas berkenaan hal ini melalui siaran ‘Tanyalah Ustaz TV9' dan juga wawancara bersama Utusan Malaysia. Namun melihat kepada kekerapan dan kurang sensitiviti kalangan umat Islam di Malaysia khususnya. Satu penulisan ringkas yang khusus berkenaan hal ini adalah perlu.

Persoalan jual beli yang terus berlangsung di kalangan peniaga dan pembeli lelaki selepas azan pada hari Jumaat perlu dipandang serius atau ia akan berterusan. Lebih kurang menyenangkan, apabila melihat peniaga-peniaga ini berkhemah di luar masjid, mengambil untung atas perkumpulan umat Islam yang ingin menunaikan solat Jumaat, sedang mereka menjadi penyebab kepada dosa.

PENGHARAMAN JUAL BELI SELEPAS AZAN DI HARI JUMAAT

Solat Jumaat adalah wajib hanya ke atas lelaki baligh dan bukan wanita. Justeru setiap urusniaga di antara wanita dengan wanita selepas azan pertama atau kedua dikumandangkan pada hari Jumaat adalah sah dan harus. Justeru, ia tidak termasuk di dalam perbincangan para ulama dan bukan pula fokus artikel ini. Ia adalah satu keharusan yang disepakati oleh keempat-empat mazhab terbesar dalam Fiqh Islam.

Demikian juga halnya bagi mereka yang tidak wajib solat jumaat kerana sebab lain seperti sakit, musafir dan sebagainya.

Perbincangan hukum hanya berkisar kepada para lelaki, sama ada peniaga lelaki, pembeli lelaki atau kedua-duanya sekali yang sihat, baligh dan tidak bermusafir.

Asas hukum adalah dari surah al-Jumaat ayat 9 yang maksud-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Ertinya :Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

AZAN PERTAMA ATAU KEDUA?

Walaupun telah ijma'[1] di kalangan ulama akan pengharaman jual beli berdasarkan ayat di atas, mereka berbeza ijtihad dalam menentukan pengharaman itu jatuh selepas azan pertama atau kedua.

Perlu difahami bahawa azan Jumaat di zaman Nabi s.a.w, Abu Bakar as-Siddiq r.a dan Umar r.a hanyalah sekali sahaja, iaitu di ketika khatib (imam) naik ke atas mimbar untuk memulakan khutbah. Di zaman pemerintahan khalifah Uthman r.a, bilangan umat Islam bertambah lalu diperkenalkan azan kedua dan seterusnya ketiga (berfungsi sebagai iqamah).

Namun, hasil daripada kewujudan lebih dari satu azan selepas zaman Uthman, para ulama sekali lagi perlu berijtihad dalam menentukan azan manakah yang mesti tiada lagi jual beli selepasnya. Mazhab Maliki dan Hanbali jelas dan tegas bahawa pengharaman adalah selepas azan kedua iaitu di ketika khatib sudah naik ke atas mimbar, ia juga bertepatan dengan suasana di ketika turunnya ayat Al-Quran, para masa hayat baginda Nabi s.a.w.[2]

Imam At-Tohawi Al-Hanafi menegaskan :-

المعتبر الأذان عند المنبر بعد خروج الإمام ، فإنه هو الأصل الذي كان للجمعة على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم

Ertinya : Azan yang terpakai (dalam hal ini) adalah yang ketika keluar imam di atas mimbar, maka itulah yang asal sebagaimana Jumaat di zaman baginda Nabi s.a.w (Mukhtasar at-Tohawi, hlm 24)

Namun demikian, ulama mazhab Hanafi kelihatan mempunyai berbilang pandangan dengan majoriti di antara mereka berijtihad azan kedua adalah ‘pasti haram', cuma terdapat sebahagian besar mereka yang juga berpendapat pengharaman bermula sejak dari azan pertama (azan masuk waktu) lagi atau selepas tergelincirnya matahari pada hari tersebut.[3] Ini bermakna, mazhab Hanafi lebih tegas dalam hal ini dan disepakati oleh keempat-empat mazhab, berjual beli selepas azan kedua adalah haram.

Imam Ibn Kathir Al-Syafie menyebut :

اتفق العلماء على تحريم البيع بعد النداء الثاني

Ertinya : Para ulama bersepakat berkenaan pengharaman jualbeli selepas azan kedua ( Tafsir Ibn Kathir, 4/367)

BERDOSA SAHAJA ATAU AQAD JUGA BATAL?

Walaupun berjualbeli di waktu itu adalah haram yang beerti berdosa atas si penjual dan pembeli, namun adakah aqad jual beli mereka terbatal?

Jika kesalahan ini dilakukan, dosa yang ditanggung adalah satu peringkat, manakala sah batal transaksi itu pula adalah satu peringkat yang lain. Jika aqad tidak sah, beerti pemilikan harga yang diperolehi oleh penjual adalah batal dan demikian juga pemilikan pembeli ke atas barangan beliannya. Jika itu berlaku, beerti kedua-dua mereka menggunakan harta milik orang lain dan berterusan keadaan itu sehingga akhir hayat mereka dalam keadaan penuh syubhat dan bermasalah.

Dalam hal ini, para ulama tidak sepakat dalam menanggapi kesahihan atau terbatalnya aqad. Para Ulama terbahagi kepada dua kumpulan :

Pertama : Aqad adalah sah dan hanya dosa ditanggung oleh penjual dan pembeli. Ia adalah ijtihad dari mazhab Hanafi, Syafie dan sebahagian Maliki.

Kedua : Aqad batal dan berdosa ; Ia adalah pendapat mazhab Hanbali dan majoriti Maliki.

Namun, berdasarkan penelitian, pendapat pertama adalah lebih kukuh, khususnya adalah rukun dan syarat jual beli telah semuanya dipenuhi, kecuali ia melanggar waktu jualan yang diharamkan sahaja, atas kesalahn itu dosa sahaja ditanggung tanpa pembatalan aqad.

Apapun, amat perlu umat Islam di Malaysia dan dimana sahaja untuk lebih berhati-hati dalam hal ini. Justeru, amat digalakkan agar dapat dinasihatkan kepada para peniaga dan semua warga Muslim yang wajib ke atas solat Jumaat untuk menghindari kesalahan ini. Kita bimbang,akibat kejahilan, ramai yang melanggarnya secara berulang kali.

KESIMPULAN

Kesimpulan, jual beli itu akan jatuh haram hanya apabila:

a) Dilakukan selepas azan kedua sewaktu imam berada di atas mimbar.

b) Dilakukan oleh lelaki (sama ada sebagai peniaga atau penjual) yang wajib solat Jumaat.

c) Mengetahui berkenaan hukum haram ini, dan wajiblah ke atas individu mukallaf untuk mempelajarinya. Wajib pula untuk menyampaikannya bagi yang mengetahui.

Saya amat berharap agar para khatib dapat mengingatkan perkara ini setiap kali mereka berada di atas mimbar, juga diingatkan oleh para bilal sebelum mereka melaungkan azan kedua. Digalakkan pula bagi orang ramai untuk mengedarkan tulisan ini di masjid-masjid bagi menyedarkan orang ramai.

Sekian,

Oleh: Ustaz Dr.Mohd Izhar Ariff

Nukilan : Ustaz Dr. Zaharuddin Abd Rahman

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...