Sabda Nabi S.A.W "Sampaikan dari Ku walau pun satu ayat"

Buku Pelawat

Topik Panas

Ahad, Julai 27, 2014

Hukum Takbir Hari Raya Berjemaah

‎HUKUM TAKBIR HARI RAYA BERJAMA’AH
Oleh : Buya Yahya (Pengasuh LPD Al-Bahjah Cirebon)

بسم الله الرحمن الرحيم  
الحمد لله رب العالمين و الصلاة و السلام على رسول الله سيدنا محمد بن عبد الله و على أله و صحبه و من والاه. أما بعد

1. Takbir di Malam Hari Raya

           Bertakbir di malam hari raya adalah merupakan sunnah Nabi Muhammad  yang amat perlu untuk di lestarikan dalam menampakkan dan mengangkat syi’ar Islam.Para ulama dari masa kemasa sudah biasa mengajak ummat untuk melakukan takbir baik setelah sholat (takbir muqoyyad) atau di luar sholat (takbir mursal).

            Lebih lagi takbir dengan mengangkat suara secara kompak yang bisa menjadikan suara semakin bergema dan berwibawa adalah yang biasa dilakukan ulama dan ummat dari masa ke masa.
             Akan tetapi ada sekelompok kecil dari orang yang hidup di akhir zaman ini begitu berani mencaci dan membid’ahkan takbir bersama-sama. Dan sungguh pembid’ahan ini tidak pernah keluar dari mulut para salaf (ulama terdahulu).

Mari kita cermati riwayat-riwayat berikut ini yang menjadi sandaran para ulama dalam mengajak bertakbir secara kompak dan bersama-sama.

A.  Berdasarkan Hadits dalam Shohih Imam Bukhori No 971  yang diriwayatkan oleh Ummi Athiyah, beliau berkata :

كُنَّا نُؤْمَرُ أَنْ نَخْرُجَ يَوْمَ الْعِيدِ، حَتَّى نُخْرِجَ الْبِكْرَ مِنْ خِدْرِهَا، حَتَّى نُخْرِجَ الْحُيّاَضَ، فَيَكُنَّ خَلْفَ النَّاسِ فَيُكَبِّرْنَ بِتَكْبِيرِهِمْ، وَيَدْعُونَ بِدُعَائِهِمْ يَرْجُونَ بَرَكَةَ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَطُهْرَتَهُ.(رواه البخاري
            
  Artinya : “Kami diperintahkan untuk keluar pada hari raya sehingga para wanita-wanita yang masih gadispun diperintah keluar dari rumahnya,    begitu juga wanita-wanita yang sedang haid dan mereka berjalan dibelakang para manusia (kaum pria) kemudian para wanita tersebut mengumandangkan takbir bersama takbirnya manusia (kaum pria)dan berdoa dengan doanya para manusia serta mereka semua mengharap keberkahan dan kesucian hari raya tersebut”.

Di sebutkan dalam hadits tersebut

  فَيُكَبِّرْنَ بِتَكْبِيرِهِمْ 

Para wanita tersebut mengumandangkan takbir bersama takbirnya manusia. Itu menunjukan  takbir  terjadi secara berjamaah atau bersamaan.

Bahkan dalam riwayat imam Muslim dengan kalimat”para wanita bertakbir bersama-sama orang-orang yang bertakbir”

  يُكَبِّرْنَ مَعَ النَّاس

B. Yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari sayyidina Umar bin Khottob  dalam bab takbir saat di mina 

وَكَانَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يُكَبِّرُ فِي قُبَّتِهِ بِمِنًى فَيَسْمَعُهُ أَهْلُ الْمَسْجِدِ فَيُكَبِّرُونَ وَيُكَبِّرُ أَهْلُ الْأَسْوَاقِ حَتَّى تَرْتَجَّ مِنًى تَكْبِيرًا

Artinya : “Sahabat umar bertakbir di qubahnya yang berada di tanah mina lalu penduduk masjid mendengarnya dan kemudian mereka bertakbir  begitu penduduk pasar bertakbir sehingga tanah mina bergema dengan suara takbir”
 .
Ibnu Hajar Al Asqolani (pensyarah besar kitab shohih buhkori) mengomentari kalimat : 

   حَتَّى تَرْتَجَّ مِنًى تَكْبِيرًا 
Dengan

 "أي يَضْطَرِّبُ وَتَتَحَرَّكُ, وَهِيَ مُبَالَغَةٌ فِي اجْتِمَاعِ رَفْعِ الصَّوْتِ"            

Bergoncang dan bergerak, bergetar  yaitu menunjukan kuatnya  suara yang  bersama-sama .
 
C. Berdasarkan apa yang dikatakan oleh Imam Syafi’i ra dalam kitab Al’um  1/264 :

أَحْبَبْتُ أَنْ يَكُبِّرَ النَّاسُ جَمَاعَةً وَفُرَادًى فِي المَسْجِدِ وَالْأَسْوَاقِ وَالْطُرُقِ وَالْمَنَازِلِ والْمُسَافِرِيْنَ والْمُقِيْمِيْنَ فِي كُلِّ حَالٍ وَأَيْنَ كَانُوْا وَأَنَ يَظْهَرُوْا الْتَكْبِيْرَ "

               Artinya : “Aku senang(maksudnya adalah sunnah) orang-orang pada bertakbir secara bersama dan sendiri-sendiri, baik di masjid, pasar, rumah, saat bepergian atau rmukim dan setiap keadaan dan di manapun mereka berada  agar mereka menampakkan(syi’ar)  takbir”. 

D. Tidak pernah ada dari ulama terdahulu yang mengatakan takbir secara berjamaah adalah bid’ah. Bahkan yang ada adalah justru sebaliknya anjuran dan contoh  takbir bersama-sama dari ulama terdahulu .
 
Kesimpulan tentang takbir bersama-sama:
1. Pernah terjadi takbir barsama-sama pada zaman Rasulullah dan para sahabat
2. Anjuran dari Imam Syafi’i ra mewakili  ulama salaf  .
3. Tidak pernah ada larangan takbir bersam-sama dan juga tidak ada perintah takbir harus sendiri-sendiri.Yang ada adalah anjuran  takbir dan dzikir secara mutlaq baik secara  sendirian atau berjamaah.
4. Adanya pembid’ahan dan larangan takbir bersama-sama hanya terjadi pada orang-orang akhir zaman yang sangat bertentangan dengan salaf.

2. Menghidupkan malam hari raya dengan ibadah

Hukum menghidupkan malam hari raya dengan amal ibadah. Sudah disepakati oleh para ulama 4 madzhab bahwa disunnahkan untuk kita menghidupkan malam hari raya dengan memperbanyak ibadah. Imam nawawi dalam kitab majmu’ berkata sudah disepakati oleh ulama bahwa dianjurkan untuk menghidupkan malam hari raya dengan ibadah dan pendapat seperti ini juga yang ada dalam semua kitab fiqh 4 madzhab. Artinya kita dianjurkan untuk menghidupkan malam hari raya dengan sholat, berdzikir, dan membaca Al-Quran khususnya bertakbir.  Karena malam hari raya adalah malam bergembira, banyak sekali hamba-hamba yang lalai pada saat itu maka sungguh sangat mulia yang bisa mengingat Allah di saat hamba-hamba pada lalai.

3. Yang dilakukan Santri dan Jama’ah Al Bahjah 

1. Takbir keliling dalam upaya membesarkan syi’ar takbir.
2. Kunjung dari masjid ke masjid untuk melakukan sholat sunnah.
3. Menyimak tausyiah di beberapa masjid yang dikunjungi.
 
Yang semua itu dalam upaya menjalankan  sunnah yang dijelaskan oleh para ‘ulama tersebut di atas. Wallahu a’lam Bishshowaab.‎

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين و الصلاة و السلام على رسول الله سيدنا محمد بن عبد الله و على أله و صحبه و من والاه. أما بعد

1. Takbir di Malam Hari Raya

Bertakbir di malam hari raya adalah merupakan sunnah Nabi Muhammad yang amat perlu untuk di lestarikan dalam menampakkan dan mengangkat syi’ar Islam.Para ulama dari masa kemasa sudah biasa mengajak ummat untuk melakukan takbir baik setelah sholat (takbir muqoyyad) atau di luar sholat (takbir mursal).

Lebih lagi takbir dengan mengangkat suara secara kompak yang bisa menjadikan suara semakin bergema dan berwibawa adalah yang biasa dilakukan ulama dan ummat dari masa ke masa.

Akan tetapi ada sekelompok kecil dari orang yang hidup di akhir zaman ini begitu berani mencaci dan membid’ahkan takbir bersama-sama. Dan sungguh pembid’ahan ini tidak pernah keluar dari mulut para salaf (ulama terdahulu).

Mari kita cermati riwayat-riwayat berikut ini yang menjadi sandaran para ulama dalam mengajak bertakbir secara kompak dan bersama-sama.

A. Berdasarkan Hadits dalam Shohih Imam Bukhori No 971 yang diriwayatkan oleh Ummi Athiyah, beliau berkata :

كُنَّا نُؤْمَرُ أَنْ نَخْرُجَ يَوْمَ الْعِيدِ، حَتَّى نُخْرِجَ الْبِكْرَ مِنْ خِدْرِهَا، حَتَّى نُخْرِجَ الْحُيّاَضَ، فَيَكُنَّ خَلْفَ النَّاسِ فَيُكَبِّرْنَ بِتَكْبِيرِهِمْ، وَيَدْعُونَ بِدُعَائِهِمْ يَرْجُونَ بَرَكَةَ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَطُهْرَتَهُ.(رواه البخاري

Artinya : “Kami diperintahkan untuk keluar pada hari raya sehingga para wanita-wanita yang masih gadispun diperintah keluar dari rumahnya, begitu juga wanita-wanita yang sedang haid dan mereka berjalan dibelakang para manusia (kaum pria) kemudian para wanita tersebut mengumandangkan takbir bersama takbirnya manusia (kaum pria)dan berdoa dengan doanya para manusia serta mereka semua mengharap keberkahan dan kesucian hari raya tersebut”.

Di sebutkan dalam hadits tersebut

فَيُكَبِّرْنَ بِتَكْبِيرِهِمْ

Para wanita tersebut mengumandangkan takbir bersama takbirnya manusia. Itu menunjukan takbir terjadi secara berjamaah atau bersamaan.

Bahkan dalam riwayat imam Muslim dengan kalimat ”para wanita bertakbir bersama-sama orang-orang yang bertakbir”  يُكَبِّرْنَ مَعَ ال

B. Yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari sayyidina Umar bin Khottob dalam bab takbir saat di mina

وَكَانَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يُكَبِّرُ فِي قُبَّتِهِ بِمِنًى فَيَسْمَعُهُ أَهْلُ الْمَسْجِدِ فَيُكَبِّرُونَ وَيُكَبِّرُ أَهْلُ الْأَسْوَاقِ حَتَّى تَرْتَجَّ مِنًى تَكْبِيرًا

Artinya : “Sahabat umar bertakbir di qubahnya yang berada di tanah mina lalu penduduk masjid mendengarnya dan kemudian mereka bertakbir begitu penduduk pasar bertakbir sehingga tanah mina bergema dengan suara takbir”

.

Ibnu Hajar Al Asqolani (pensyarah besar kitab shohih buhkori) mengomentari kalimat :

حَتَّى تَرْتَجَّ مِنًى تَكْبِيرًا Dengan "أي يَضْطَرِّبُ وَتَتَحَرَّكُ, وَهِيَ مُبَالَغَةٌ فِي اجْتِمَاعِ رَفْعِ الصَّوْتِ"

Bergoncang dan bergerak, bergetar yaitu menunjukan kuatnya suara yang bersama-sama .

C. Berdasarkan apa yang dikatakan oleh Imam Syafi’i ra dalam kitab Al’um 1/264 :

أَحْبَبْتُ أَنْ يَكُبِّرَ النَّاسُ جَمَاعَةً وَفُرَادًى فِي المَسْجِدِ وَالْأَسْوَاقِ وَالْطُرُقِ وَالْمَنَازِلِ والْمُسَافِرِيْنَ والْمُقِيْمِيْنَ فِي كُلِّ حَالٍ وَأَيْنَ كَانُوْا وَأَنَ يَظْهَرُوْا الْتَكْبِيْرَ "

Artinya : “Aku senang(maksudnya adalah sunnah) orang-orang pada bertakbir secara bersama dan sendiri-sendiri, baik di masjid, pasar, rumah, saat bepergian atau rmukim dan setiap keadaan dan di manapun mereka berada agar mereka menampakkan(syi’ar) takbir”.

D. Tidak pernah ada dari ulama terdahulu yang mengatakan takbir secara berjamaah adalah bid’ah. Bahkan yang ada adalah justru sebaliknya anjuran dan contoh takbir bersama-sama dari ulama terdahulu .

Kesimpulan tentang takbir bersama-sama:

1. Pernah terjadi takbir barsama-sama pada zaman Rasulullah dan para sahabat

2. Anjuran dari Imam Syafi’i ra mewakili ulama salaf .

3. Tidak pernah ada larangan takbir bersam-sama dan juga tidak ada perintah takbir harus sendiri-sendiri.Yang ada adalah anjuran takbir dan dzikir secara mutlaq baik secara sendirian atau berjamaah.

4. Adanya pembid’ahan dan larangan takbir bersama-sama hanya terjadi pada orang-orang akhir zaman yang sangat bertentangan dengan salaf.

2. Menghidupkan malam hari raya dengan ibadah

Hukum menghidupkan malam hari raya dengan amal ibadah. Sudah disepakati oleh para ulama 4 madzhab bahwa disunnahkan untuk kita menghidupkan malam hari raya dengan memperbanyak ibadah. Imam nawawi dalam kitab majmu’ berkata sudah disepakati oleh ulama bahwa dianjurkan untuk menghidupkan malam hari raya dengan ibadah dan pendapat seperti ini juga yang ada dalam semua kitab fiqh 4 madzhab. Artinya kita dianjurkan untuk menghidupkan malam hari raya dengan sholat, berdzikir, dan membaca Al-Quran khususnya bertakbir. Karena malam hari raya adalah malam bergembira, banyak sekali hamba-hamba yang lalai pada saat itu maka sungguh sangat mulia yang bisa mengingat Allah di saat hamba-hamba pada lalai.

3. Yang dilakukan Santri dan Jama’ah Al Bahjah

1. Takbir keliling dalam upaya membesarkan syi’ar takbir.

2. Kunjung dari masjid ke masjid untuk melakukan sholat sunnah.

3. Menyimak tausyiah di beberapa masjid yang dikunjungi.

Yang semua itu dalam upaya menjalankan sunnah yang dijelaskan oleh para ‘ulama tersebut di atas. Wallahu a’lam Bishshowaab.

Oleh : Buya Yahya (Pengasuh LPD Al-Bahjah Cirebon) di petik dari Pondok Habib

Rabu, Julai 23, 2014

15 FAKTA WAHHABI BERDUSTA ATAS NAMA IMAM SYAFI'E

1). Imam Syafie berpegang baca qunut.. lihat kitab al-Umm. Andaian Imam Syafie tak baca Qunut kerana berpegang kpd 'sekiranya hadis sahih, maka ia mazhabku' hanya andaian pihak yg tak setuju, bg mereka hadis tak kuat.. bg Imam Syafie hadis kuat..

2). Kalau mereka melemahkanpun hujah solat sunat 2 rakaat sebelum Jumaat pun, mereka tak pula kata, siapa buat, jd bid'ah dan sesat..

3). Semua ulama setuju, azan Jumaat hanya sekali di zaman Nabi. Namun, Imam Syafie tak menolak amalan dua azan utk solat Jumaat.. lagi laa beliau tidak mengatakan sesat. Yg kata sesat hanya Wahhabi..

4). Imam syafie berpendapat tak sampai amalan pahala kepada mayyit itu dlm qaul qadim beliau, tp dlm qaul jadid beliau berpendapat sampai. Itupun sebenarnya pendapat tersebut byk disalahfahami. Beliau menyatakan tak sampai, jika tidak diniatkan utk sampai kpd si mati.

5). Semua ulama bersetuju, seorang mujtahid tak boleh mengikut mazhab.. lagilah dia mujtahid mutlak.. ratusan ribu hadis di dadanya.. dalam kitabnya Risalah, dia menyuruh org awam ikut mazhab muftinya..

6). Ya, kita berpegang seperti pandangan Imam Syafie tentang pembayaran zakat dgn beras.. cuma fatwa semasa berusaha memudahkan umat..suatu ijtihad baru dan tidak taqlid semata-mata.. pelik pula mereka tak setuju ijtihad..

7). Kalau betul pun Imam Syafie tak tulis Sayyidina dalam selawat2 dalam kitab2nya, tiada pula imam Syafie kata sesat terhadap orang yg tulis atau lafaz 'sayyidina'..

8) Betul Imam Syafie mengatakan afdhal baca surah kahfi, tp tiada pula Imam Syafie kata sesat dan masuk neraka siapa yg baca surah Yasin pd malam Jumaat..

9). Baca balik kitab al-Umm tu.. siapa yg berzikir kuat, Imam al-syafie kata 'hasan' (baik), walau afdhalnya senyap.. dia tak kata sesat pun bahkan 'hasan', maksudnya bid'ah hasanah' lah tu..

10). Ulama mazhab Syafie tak kata melafazkan lafaz niat tu sunnah, tp mereka mengatakan 'mustahab' (dpt pahala), sekiranya membantu menetapkan hati.. kalau dah tetap hati, tak payah baca pun takpa..

11). Jawapan : sama dengan no 4

12). Ulama syafie khilaf hukum mengkapur dan membangun bangunan atas kubur. Bukan hukum yg qat'ie

13). Imam Syafie mengithbat dan tafwidh.. tiada riwayat yg sahih mengatakan Imam Syafie ithbat secara zahir.. berbeza wahhabiah, mengisbatkan secara lahir atau haqiqi, kemudian baru serah pada Allah.. seolah-olah mereka kata, Allah beranggota tp tak macam makhluk.. bg Salaf yang sebenar, mereka ithbat (tanpa mengata itu makna zahir atau tidak), dan serahkan kepada Allah maknanya yg hakiki.

14). Imam Syafie dah memahami sifat-sifat Allah dan nama-nama-Nya..dipermudahkan oleh ulama selepas Imam Syafie menjadi 20.

15). Isu mengusap muka selepas solat bukan isu besar sehingga boleh sesat..

(Wahhabi ni bukanlah golongan yg tak buat itu tak buat ini. Tapi wahhabi ialah golongan yg suka menjatuh hukum bidaah ke atas perkara yg furu' (cabang) serta khilafiyah. Suka menjatuh syirik, kufur dan sesat kpd sesama ummat Islam yg tidak sependapat dgn mereka. Mereka adalah agen musuh Islam dari dalam)

"Jawapan di atas ditulis oleh asatizah SUNNI."

Oleh: Ustaz Zamihan Al-GhariUstaz Zamihan Al-Ghari

Selasa, Julai 22, 2014

Sifat sifat buruk Yahudi yang di sebut dalam Quran dan Kitab Talmut mereka yang diubahsuai

    Al-Quran banyak menceritakan kedegilan bangsa Yahudi seperti bagaimana orang Yahudi mengingkari perintah Allah SWT walaupun sebahagian besar Rasul dan Nabi adalah dari kalangan kaum itu.

    Allah SWT melalui wahyunya dalam Al-Quran telah menggambarkan sifat buruk orang Yahudi yang zalim, membuat kerusakan di muka bumi, dan memusuhi bangsa lain, terutama sekali kaum Muslimin.

    Berikut merupakan 22 sifat buruk bangsa Yahudi seperti yang disebut di dalam Al-Quran:

    1. Keras hati dan zalim (Al-Baqarah:75,91,93,120,145,170; An-Nisa:160; Al-Maidah:41)

    2. Kebanyakan fasik dan sedikit beriman kepada Allah SWT (Ali Imran:110; An-Nisa:55)

    3. Musuh yang paling bahaya bagi orang-orang Islam (Al-Maidah:82)

    4. Amat mengetahui kekuatan dan kelemahan orang-orang Islam seperti mereka mengenal anak mereka sendiri (Al-An’am:20)

    5. Mengubah dan memutarbelitkan kebenaran (Al-Baqarah:75,91,101,140,145,211; Ali Imran:71,78;  An-Nisa:46; Al-Maidah:41)

    6. Menyembunyikan bukti kebenaran (Al-Baqarah:76,101,120,146; Ali Imran:71)

    7. Hanya menerima perkara-perkara atau kebenaran yang dapat memenuhi cita rasa atau nafsu mereka (Al-Baqarah:87,101,120,146; Al-Maidah:41)

    8. Ingkar dan tidak dapat menerima keterangan dan kebenaran Al-Quran (Al-Baqarah:91,99; Ali Imran:70)

    9. Memekakkan telinga kepada seruan kebenaran, membisukan diri untuk mengucapkan perkara yang benar, membutakan mata terhadap bukti kebenaran dan tidak menggunakan akal untuk menimbangkan kebenaran (Al-Baqarah:171)

    10. Mencampur adukkan yang benar dan yang salah, yang hak dan yang batil (Ali Imran:71)

    11. Berpura-pura mendukung orang Islam tetapi apabila ada di belakang orang-orang Islam, mereka mengutuk dengan sekeras-kerasnya (Al-Baqarah:76; Ali Imran:72,119)

    12. Hati mereka sudah tertutup akan Islam kerana dilaknat oleh Allah SWT yang disebabkan oleh kekufuran mereka sendiri (Al-Baqarah:88,120,145,146)

    13. Kuat berpegang pada semangat kebangsaan mereka dan mengatakan bahawa mereka adalah bangsa yang istimewa yang dipilih oleh Tuhan dan meyakini agama yang selain daripada Yahudi adalah salah (Al-Baqarah:94,111,113,120,135,145; Al-Maidah:18)

    14. Tidak akan ada kebaikan untuk seluruh manusia jika mereka memimpin (An-Nisa:53)

    15. Tidak suka, dengki, iri hati terhadap orang-orang Islam (Al-Baqarah:90,105,109,120)

    16. Mencintai kemewahan dan kehidupan dunia, bersifat tamak dan rakus, menginginkan umur yang panjang dan mengejar kesenangan serta takut akan kematian (Al-Baqarah:90,95,96,212)

    17. Berkata bohong, mengingkari janji dan melampaui batas (Al-Baqarah:100,246,249 Ali Imran:183,184; An-Nisa:46)

    18. Berlindung di sebalik mulut yang manis dan perkataan yang baik (Al-Baqarah:204,246; Ali Imran:72; An-Nisa:46)

    19. Mengada adakan perkara-perkara dusta dan suka kepada perkara-perkara dusta (Ali Imran:24,94,183,184; Al-Maidah:41)

    20. Berlaku sombong dan memandang rendah terhadap orang-orang Islam (Al-Baqarah:206,212,247)

    21. Tidak amanah dan memakan hak orang lain dengan cara yang salah (Ali Imran:75,76; At-Taubah:34)

    22. Selalu melakukan kerusakan dan menganjurkan peperangan (Ali Imran:64). [foren]

      Sumber: Berita Palestina


      Berikut merupakan Sifat buruk bangsa Yahudi seperti yang disebut di dalam Kitab Talmut / taurat yg di ubahsuai spt juga injil yg di ubahsuai oleh pendita nasrani:

      “Hanya orang-orang Yahudi yang manusia, sedangkan orang-orang bukan Yahudi bukanlah manusia, melainkan binatang belaka.” (Kerithuth 6b hal.78, Jebhammoth 61a)

      “Orang-orang bukan Yahudi diciptakan sebagai budak/hamba abdi untuk melayani orang-orang Yahudi.”(Midrasch Talpioth 225)

      “Angka kelahiran orang-orang bukan Yahudi harus dikurangkan sekecil mungkin.” (Zohar II, 4b)

      “Orang-orang bukan Yahudi harus dijauhi, bahkan lebih daripada babi yang sakit.” (Orach Chaiim 57, 6a)

      “Tuhan (Yahweh) tidak pernah marah kepada orang-orang Yahudi, melainkan hanya (marah) kepada orang-orang bukan Yahudi.” (Talmud IV/8/4a)

      “Di mana saja mereka (orang-orang Yahudi) datang, mereka akan menjadi pangeran raja-raja.”(Sanhedrin 104a)

      “Terhadap seorang bukan Yahudi tidak menjadikan orang Yahudi berzina. Bisa terkena hukuman bagi orang Yahudi hanya bila berzina dengan Yahudi lainnya, yaitu isteri seorang Yahudi. Isteri bukan Yahudi tidak termasuk.” (Talmud IV/4/52b)

      “Tidak ada isteri bagi bukan Yahudi, mereka sesungguhnya bukan isterinya.” (Talmud IV/4/81 dan 82ab)

      “Orang-orang Yahudi harus selalu berusaha untuk menipudaya orang-orang bukan Yahudi.” (Zohar I, 168a)

      “Jika dua orang Yahudi menipu orang bukan Yahudi, mereka harus membahagi keuntungannya.” (Choschen Ham 183, 7)

      “Tetaplah terus berjual beli dengan orang-orang bukan Yahudi, jika mereka harus membayar uang untuk itu.” (Abhodah Zarah 2a T)

      “Tanah orang bukan Yahudi, kepunyaan orang Yahudi yang pertama kali menggunakannya.”(Babba Bathra 54b)

      “Setiap orang Yahudi boleh menggunakan kebohongan dan sumpah palsu untuk membawa seorang bukan Yahudi kepada kejatuhan.” (Babha Kama 113a)

      “Kepemilikan orang bukan Yahudi seperti padang pasir yang tidak dimiliki; dan semua orang (setiap Yahudi) yang merampasnya, berarti telah memilikinya.” (Talmud IV/3/54b)

      “Orang Yahudi boleh mengeksploitasi kesalahan orang bukan Yahudi dan menipunya.” (Talmud IV/1/113b)

      “Orang Yahudi boleh mempraktikkan riba terhadap orang bukan Yahudi.” (Talmud IV/2/70b)

      “Ketika Messiah (Raja Yahudi Terakhir atau Ratu Adil) datang, semuanya akan menjadi budak-budak orang-orang Yahudi.” (Erubin 43b)

      Sumber: Al Ustadz Achmad Rofi'i Asy Syirbuni



      Rabu, Julai 16, 2014

      Penyakit RIAK

      Perkara yang paling aku takut sekali ketika berjihad ialah penyakit hati iaitu RIAK... RIAK dalam keadaan sedar atau tidak sedar... sengaja atau tidak sengaja...

      Rasulullah SAW sendiri takut akan penyakit ini menimpa umatnya kerana ia boleh berlaku dalam pelbagai keadaan...

      Kerisauan itu dinyatakan Rasulullah SAW dalam sabda bermaksud: "Sesungguhnya yang paling ditakutkan daripada apa yang aku takutkan menimpa kalian adalah asy syirkul ashghar (syirik kecil)....

      Sahabat bertanya: "Apakah dimaksudkan syirik kecil itu? Baginda menjawab: Riak." (Hadis riwayat Imam Ahmad)

      Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolani dalam kitabnya Fathul Baari berkata: "Riak ialah menampakkan ibadah dengan tujuan dilihat manusia... lalu mereka memuji pelaku amalan itu."

      Kerisauan Rasulullah SAW terhadap sifat riak disebabkan penyakit hati ini mudah menyerang setiap insan kerana jiwa manusia memiliki kecenderungan suka menerima puji dan kedudukan tinggi di hadapan orang lain... Al-Muhasibi menjelaskan penyebab riak: "Senang dipuji dan takut dicela, tunduk kepada dunia dan tamak kepada perkara dimiliki orang lain."

      Riak juga berbahaya kerana meresap dalam amalan umat Islam dalam keadaan samar. Mereka yang dihinggapi penyakit riak tidak menyedari ibadah sudah tercemar kerana hilang keikhlasan...

      Riak dianggap Rasulullah SAW sebagai amalan syirik kecil kerana bagi seseorang yang sudah dihinggapi sifat ini ibadahnya tidak lagi ikhlas untuk mendapat keredaan Allah... sebaliknya menempatkan insan lain sebagai tandingan bagi Allah kerana amalnya bertujuan menarik perhatian insan itu...

      Justeru, riak bukan sekadar boleh menyebabkan seorang terjebak dalam dosa... ia sebenarnya boleh menyebabkan amalan tidak diterima Allah... ini yang paling aku takut...

      Imam Ibnu Taymiyyah berkata: "Sesungguhnya bagi seseorang yang bersikap riak dalam ibadah... bukan saja ibadahnya batal... malah dia turut mendapatkan dosa daripada perbuatannya itu yang dianggap syirik kecil..."

      Apabila suatu amalan dilaksanakan dengan ikhlas kerana Allah... ia akan diterima oleh-Nya... Sebaliknya... apabila amalan diniatkan untuk mendapat perhatian... pujian atau meraih keuntungan duniawi... maka ia tidak diterima Allah... contoh terdekat memuat naik gambar atau video didalam facebook sambil berperang atau memegang senjata yang kononnya hebat dan berniat untuk mendapat pujian dan LIKE yang banyak... ini yang aku takut... takut akan perkongsian tersalah tafsir dengan sendirinya...

      Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: "Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya... dan sesungguhnya amalan seseorang dibalas sesuai dengan apa yang dia niatkan." (Hadis riwayat Imam al-Bukhari)

      Allah berfirman bermaksud: "Padahal mereka tidak disuruh kecuali menyembah Allah dengan memurnikan (ikhlas) ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus... dan supaya mereka mendirikan solat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus..." (Surah Al-Bayyinah, ayat 5)

      Imam Ibnu al-Qayyim ketika menafsirkan ayat itu menyatakan: "Seperti Allah adalah satu dan tiada Tuhan selain-Nya begitu pula hendaklah amal ibadah itu layak dipersembahkan hanya untuk-Nya dan tiada sekutu... demikian juga halnya jika hanya dia sebagai sembahan... maka wajiblah mengesakannya dalam perhambaan kerana amal yang salih adalah amal yang bersih daripada riak dan terikat dengan sunah."

      Amal seseorang diterima Allah harus memenuhi dua syarat iaitu niat ikhlas semata-mata demi Allah dan dilakukan sesuai dengan tuntutan syariat (mengikuti sunnah Nabi).

      Rasulullah SAW mengajar umatnya memohon perlindungan dengan membaca doa: "Ya, Allah! Sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu daripada perbuatan syirik yang kami ketahui. Kami memohon ampunan kepada-Mu daripada dosa (syirik) yang kami tidak mengetahuinya." (Hadis riwayat Ahmad)

      Pada akhirat nanti... bagi mereka yang riak akan menerima pembalasan dengan dibongkarkan niatnya yang buruk itu di depan seluruh makhluk seperti sabda Rasulullah SAW bermaksud: "Siapa beramal kerana sumah (ingin didengari manusia) Allah akan membalasnya dengan diperdengarkan kejelekannya... Siapa berbuat riak... maka Allah akan menampakkan sifat riaknya itu (di depan makhluk)." (Hadis riwayat Imam al-Bukhari)

      Ya Allah... aku memohon perlindungan dari penyakit hati yang kotor ... ampunilah dosaku yang sebelumnya moga aku tidak mengulangi segala niat dan perbuatan yang Engkau laknati...

      Wallahualam...

      Oleh: Ahmad Salman Abdul Rahim

      Sabtu, Julai 05, 2014

      Adab berbuka cara Rasulullah SAW



      Antara tujuan berpuasa adalah agar Muslim dapat berasakan kesukaran yang dilalui fakir miskin yang benar-benar kekurangan makanan.

      Jadi puasa sepatutnya bukan setakat berlapar dan dahaga hanya pada siang hari namun sepanjang hari. Ini bermakna jika berbuka puasa, makan sepatutnya secara ala kadar. Bukan selagi boleh muat perut.

      Puasa Ramadan adalah tuntutan syariat di mana turutannya ialah yang ketiga selepas mengucap dua kalimah syahadah dan solat lima waktu.

      Rukun Islam adalah pelengkap kepada Rukun Iman di mana kedua-duanya wajib difahami dan dipraktikkan secara bersungguh-sungguh.

      Sebagai Muslim yang mengaku beriman dan cintakan ALLAH SWT, sewajarnya contohi sunnah Rasulullah SAW.

      ALLAH berfirman yang bermaksud: “Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai ALLAH, ikutilah aku, nescaya ALLAH mengasihi dan mengampuni dosa-dosa mu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Surah Ali Imran: 31)

      Ibnu Katsir (701-704H) mentafsir ayat ini dalam kitab tafsirnya Tafsir Ibnu Katsir dengan menyatakan, “Ayat ini menjadi bukti, “Siapa saja yang mengaku mencintai ALLAH SWT, namun ia tidak berjalan sesuai dengan jalan yang telah ditetapkan oleh Nabi Muhammad SAW, maka orang tersebut hanya berdusta saja. Dirinya diakui benar-benar mencintai ALLAH, tatkala dia mengikuti ajaran yang dibawa Muhammad SAW, baik dalam perkataan, perbuatan, dan persetujuan beliau SAW.”

      Islam utamakan kualiti

      Sesungguhnya Islam mengutamakan kualiti berbanding kuantiti. Ibadah berkualiti hanya boleh didapati dengan menuruti perintah dan larangan ALLAH SWT dan sunnah Rasulullah SAW.

      Muslim yang memiliki akal yang sihat sewajarnya membandingkan sesuatu ibadah yang dipelajari daripada ustaz, tok imam atau buku dengan hadis sahih yang membicarakan ibadah berkaitan sesuatu perkara. Hadis tersebut boleh dipelajari dengan guru berkelayakan dalam bidang berkaitan.

      Kitab Nailul Authar (172 - 250H) susunan Imam Syaukani adalah kitab yang sesuai dijadikan bahan rujukan untuk perkara berkaitan ibadah dari bab air, solat, puasa dan seterusnya kerana ia mengandungi hadis yang secara keseluruhannya berdarjat sahih sungguh pun terdapat beberapa derajat hadis yang diperdebatkan ulama.    

      ALLAH SWT berfirman maksudnya “Dan sesiapa yang taat kepada ALLAH dan Rasul-Nya, akan dimasukkan ALLAH ke dalam syurga yang mengalir dari bawahnya beberapa sungai, mereka kekal di dalamnya, dan itulah kejayaan yang amat besar.” (Surah An-Nisaa' : 13)

      “Sesiapa yang taat kepada Rasulullah, maka sesungguhnya dia telah taat kepada ALLAH, dan sesiapa yang berpaling ingkar, maka maka (janganlah berdukacita wahai Muhammad), kerana kami tidak mengutus mu untuk menjadi pengawal (yang memelihara mereka daripada melakukan kesalahan).” (Surah An-Nisaa' : 80)

      Maksudnya sesiapa yang taat kepada Rasulullah SAW secara automatik mereka taat kepada ALLAH SWT.

      Jadi, seseorang yang mengaku beriman sewajarnya menuruti sunnah Rasulullah SAW, bukan setakat ikut cakap-cakap ustaz itu atau tok imam ini.

      Setiap pelajaran ugama berkaitan ibadah yang diajar mereka yang bukan berstatus rasul ini (dan tidak maksum) sewajarnya dibandingkan dengan perintah atau larangan ALLAH SWT dan sunnah Rasulullah SAW menggunakan hadis sahih sebagai neraca. Jika benar menurut kedua-dua sumber itu ambil dan amalkan.Jika tidak, maka tinggalkan sahaja.

      ALLAH SWT berfirman maksudnya: “Wahai orang yang beriman, taatlah ALLAH dan taatlah Rasul-Nya dan Ulil-Amri (Pemimpin) kalangan kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada ALLAH dan Rasul-Nya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi mu), dan lebih baik akibatnya.” (Surah An-Nisaa : 59)

      ALLAH SWT secara tegas berfirman maksudnya: “Dan apa jua perintah yang dibawa Rasulullah SAW kepada kamu maka terimalah serta amalkan, dan apa jua yang dilarang-Nya kamu melakukannya maka patuhilah larangan-Nya. (Surah al-Haysr: 07)

      Amalan ketika berbuka

      Berikut adalah beberapa adab yang dipraktikkan Rasulullah SAW ketika berbuka puasa yang penulis kaitkan dengan isi artikel ini. Rasulullah SAW menyegerakan berbuka puasa.

      Rasulullah SAW bersabda, “Manusia itu sentiasa dalam kebaikan selagi mereka menyegerakan berbuka puasa.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

      Rasulullah SAW berdoa ketika berbuka, baginda bersabda yang bermaksud:“Sesungguhnya doa orang yang berpuasa itu tidak tertolak ketika dia berbuka.”(Ibnu Majah)

      Menurut hadis sahih, Baginda juga baca bismillah sebelum makan dan membaca doa setelah selesai makan. Baginda berbuka dengan makanan yang mudah dimakan dan mudah dicerna.

      Daripada Anas RA berkata, "Rasulullah SAW berbuka puasa dengan beberapa biji rutab (tamar basah) sebelum solat, jika tiada rutab Baginda berbuka dengan tamar, dan sekiranya tamar tiada baginda akan berbuka dengan air." (Riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi. Kata Tirmidzi ia hadis hasan]

      "Rasulullah SAW menyegerakan solat maghrib berdasarkan apa yang dinyatakan dalam hadis di atas iaitu baginda berbuka puasa dengan beberapa biji rutab sebelum solat.

      Jika makanan telah dihidangkan? Menyentuh hal ini baginda bersabda, “Apabila dihidangkan makanan maka mulailah dengannya (makanan itu) sebelum kamu solat Maghrib dan janganlah kamu tergopoh-gapah ketika makan." (Riwayat Bukhari dan Muslim) 

      Mereka yang berbuka dengan rutab, tamar atau air dan terus solat dan terus solat maghrib sedangkan makanan telah terhidang dikatakan oleh ulama yang mengamalkan sunnah di atas sebagai pengamal bidaah iaitu tidak mengikuti contoh yang ditunjukkan Rasulullah SAW. '

      Mengenai kuantiti makanan memadai seseorang menuruti hadis ini yang menunjukkan adab/akhlak baginda yang tinggi, Baginda bersabda yang bermaksud: "Tidaklah anak Adam itu mengisi satu bekas yang lebih buruk daripada perutnya.

      Sudah cukuplah bagi anak Adam itu dengan beberapa suap (makanan) yang dapat meluruskan tulang belakangnya (sekadar memberi tenaga), jika tidak boleh, maka satu pertiga untuk makanannya, satu pertiga untuk minumannya dan satu pertiga untuk pernafasan." (Riwayat Ibnu Majah dan Tirmizi. Kata al-Tirmizi: hadis hasan sahih)

      Fikir-fikirkanlah setakat mana iman kita kepada Rasulullah SAW. Adakah kita benar-benar menuruti sunnahnya, beribadah secara berlebihan dengan melakukan bidaah atau meremehkan sunnahnya?

      Sumber: Sinar Harian

      Selasa, Julai 01, 2014

      Perkara-perkara sunat ketika puasa di Bulan Ramadhan :

      1) Menyegerakan berbuka jika telah yakin matahari telah terbenam. Berbeza jika dia hanya merasa syak, maka wajib ke atasnya berjaga-jaga dan melewatkan berbuka.


      2) Bersahur walaupun dengan seteguk air, walaupun telah kenyang

      - waktu sahur bermula dari tengah malam

      - hikmahnya adalah untuk menguatkan badan dan menyalahi perbuatan ahli kitab yang tidak bersahur.

      3) Melambatkan bersahur tetapi tidak terlalu lambat. Dan disunatkan imsak (menahan diri) dari memakan sesuatu sekitar tempoh bacaan 50 ayat (lebih kurang 15 minit) sebelum terbit fajar.

      4) Berbuka dengan rutob (kurma basah) dengan angka ganjil. Jika tiada, maka dengan busr (kurma segar). Jika tiada, maka dengan tamr (kurma kering) . Jika tiada, maka dengan air zam. Jika tiada, maka dengan makanan manis (tidak disentuh api) seperti madu dan kismis . Jika tiada, maka dengan masakan manis (disentuh api) seperti kuih-muih.


      5) Membaca doa berikut :

      (اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ. ذَهَبَ الظَمَأُ، وَابْتَلَّتْ العُرُوْقُ، وَثَبَتَ الْأجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ.

      الْحَمْدُ للهِ الَّذِي أَعَانَنِي فَصُمْتُ وَرَزَقَنِيْ فَأَفْطَرْتُ. اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ أَنْ تَغْفِرَلِيْ)

      Kemudian, berdoa dengan apa sahaja yang dimahukan.

      Ertinya : “Ya Allah! KeranaMu aku berpuasa. DenganMu aku beriman. Dengan rezekiMu aku berbuka. Hilanglah dahaga, basahlah tekak dan tetaplah ganjarannya jika dimahukan Allah. Segala puji bagi Allah yang membantuku hingga aku dapat berpuasa, yang memberiku rezeki hingga aku dapat berbuka. Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon kepadaMu, dengan rahmatMu yang meliputi segala perkara, agar Engkau ampunkanlah aku”.

      [ Doa ini diriwayatkan awalnya oleh Abu Daud dan akhirnya oleh Ibnus Sunni ]

      6) Menjamu orang berbuka puasa, kerana padanya pahala yang besar.

      Sabda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam : ((Barangsiapa yang menjamu orang berbuka puasa, nescaya dia beroleh sama pahala seperti orang yang dijamu itu, tanpa berkurang sedikitpun pahala orang yang berpuasa itu)). Riwayat Tirmidzi (dan beliau mentashihkannya), Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban,

      7) Mandi janabah (jika ada) sebelum fajar, untuk mengelak dari khilaf yang ada dan supaya dia dapat memulakan puasanya dalam keadaan suci.

      8) Mandi setiap malam di Bulan Ramadhan selepas maghrib supaya dia cergas untuk melakukan ibadah qiam.

      9) Berterusan melakukan Solat Tarawih dari malam pertama hingga malam terakhir. Sabda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam : ((Barangsiapa yang berqiam (mendirikan Solat Tarawih) di Bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan menghitung ganjaran, nescaya diampunkan baginya dosanya yang telah lalu)). Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim.

      10) Tuntutan yang kuat untuk berterusan melakukan Solat Witr. Solat Witr di Bulan Ramadhan mempunyai 3 keistimewaan berbanding di bulan lain :

      10.1 disunatkan berjemaah

      10.2 disunatkan untuk menyaringkan bacaan

      10.3 disunatkan padanya bacaan Doa Qunut di sebahagian akhir Bulan Ramadhan mengikut pandangan yang muktamad

      11) Memperbanyakkan bacaan Al-Quran sambil bertadabbur (menghayati) maknanya.

      Disebut di dalam satu athar : “Ramadhan adalah Bulan Al-Quran”.

      12) Memperbanyakkan amalan-amalan sunat, seperti solat rawatib, solat dhuha, solat tasbih dan solat awwabin.

      13) Memperbanyakkan amalan-amalan soleh, seperti bersedekah, menyambung talian persaudaraan, menghadiri majlis ilmu, beri’tikaf, melakukan umrah, sentiasa menyedari kewujudan Allah dengan menjaga hati dan anggota badan serta banyak membaca doa-doa yang ma’thur iaitu yang datang daripada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam.

      14) Lebih bersungguh dalam beribadat di sepuluh malam terakhir disamping mencari Lailatul, lebih-lebih lagi di malam-malam yang ganjil.

      15) Memastikan berbuka puasa dengan santapan yang halal.

      16) Melebihkan layanan kepada anak-anak.

      17) Meninggalkan perkara sia-sia dan perbuatan memaki-hamun. Sekiranya dia dimaki seseorang, maka hendaklah dia mengingati dihatinya bahawa di sedang berpuasa, agar dia mengelak diri dari mencacatkan puasanya. Dan sunat juga untuk melafazkannya dilidah jika dia tidak takut berlaku riya’, sebagai amaran dan jawapan terbaik kepada musuhnya.

      (Kitab Taqrirat Sadidah - m/s 444-446)

      Semoga bermanfaat

      Dari: Lau Laa Murabbi Maa 'Araftu Rabbi

      Yaqazah amalan Ahli Sunnah wal Jamaah

      Yaqazah iaitu bertemu Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam dalam keadaan jaga bukanlah suatu yang mustahil dengan keizinan dari Allah. Namun untuk bertemu dengan baginda sallaLlahu 'alaihi wasallam dalam keadaan jaga bukanlah suatu yang mudah.

      Asas dalil kepada yaqazah adalah

      zahir hadis berikut yang menunjukkan seseorang yang soleh boleh bertemu secara sedar atau jaga (yaqazah) dengan Rasulullah s.a.w., tetapi dengan syarat mestilah pernah bertemu dahulu secara mimpi (ru’ya) dengan baginda s.a.w. Dari Abu Hurairah r.a. katanya: Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

      « من رآني في المنام فسيراني في اليقظة، ولا يتمثل الشيطان بي»

      “Sesiapa yang melihatku di dalam mimpi, maka dia akan melihatku secara yaqazah (di dalam keadaan jaga), kerana syaitan tidak boleh

      menyerupaiku”.

      [Hadis riwayat al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Ahmad. Lafaznya dari al-Bukhari]

      Selain dariapada itu, ramai ulama yang mengatakan atau mengiktiraf kemungkinan boleh bertemu secara sedar atau jaga (yaqazah) dengan Rasulullah s.a.w. antaranya adalah :

      1. Imam Ibn Abi Jamrah al-Maliki dalam Bahjah al-Nufus.

      2. Al-‘Allamah Ahmad al-Nafrawi al-Maliki dalam Syarh Risalah Ibn Abi Zayd.

      3. al-Hafiz Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fathul Bari Syarh Sahih al-Bukhari.

      4. al-Hafiz Jalaluddin al-Suyuti dalam Tanwir al-Halak fi Imkan Ru’yah an-Nabi wa al-Malak.

      5. Imam al-Nawawi dalam Syarah Sahih Muslim.

      6. Imam al-Ghazali dalam al-Munqiz min al-Dhalal.

      7. Imam Syihabuddin al-Qarafi,

      8. Imam ‘Afif al-Din al-Yafi‘i al-Syafi‘i dalam (روض الرياحين).

      9. Al-‘Allamah Ibn al-Haj al-Maliki dalam al-Madkhal.

      10. Al-Qadhi Ibnu al-‘Arabi al-Maliki dalam kitabnya (قانون التأويل).

      11. Imam Ibn ‘Ata’illah al-Sakandari (w. 709H) dalam kitab Lata’if al-Minan.

      12. Al-Qadhi Syaraf al-Din al-Barizi dalam (توثيق عرى الإيمان).

      13. Imam Tajuddin al-Subki.

      14. Imam al-Qurtubi dalam (التذكرة في أحوال الموتى وأمور الآخرة).

      15. Al-‘Allamah Ibn Battal al-Maliki

      16. Al-‘Allamah Ibn al-Tin

      17. Imam ‘Izz al-Din ibn ‘Abd al-Salam dalam al-Qawa'id al-Kubra.

      18. Al-‘Allamah Mulla ‘Ali al-Qari dalam Syarh al-Syama'il.

      19. Al-Qadhi Ibn al-Munayyir.

      20. Imam Ibn Daqiq al-‘Id.

      21. Imam ‘Abd al-Wahhab al-Sya‘rani dalam beberapa kitabnya.

      22. Imam Ibn Hajar al-Haytami al-Makki dalam al-Fatawa al-Hadithiyyah.

      23. Al-‘Allamah ‘Abd al-Ra’uf al-Munawi dalam Faydh al-Qadir.

      24. Syeikh ‘Abdul Qadir bin ‘Abdullah al-‘Idrus (w. 1038H) dalam kitabnya al-Nurus Safir ‘an Akhbaril Qarnil ‘Asyir.

      25. Imam Abu al-‘Abbas al-Qurtubi dalam al-Mufhim.

      26. Imam al-Qastallani dalam al-Mawahib al-Laduniyyah.

      27. Imam al-Baqillani.

      28. Al-‘Allamah Sadruddin al-Qunawi dalam Syarh al-Arba‘in.

      29. Al-‘Allamah Burhanuddin al-Biqa’i dalam al-Hawi.

      30. Al-Qadhi ‘Iyadh al-Maliki.

      31. Al-‘Allamah al-Maziri.

      32. Al-‘Allamah Nuruddin al-Iji.

      33. Al-‘Allamah ‘Abd al-Ghani al-Nabulsi dalam Syarh Salawat al-Jaylani.

      34. Syeikh Ahmad ibn ‘Ajibah al-Hasani (w. 1224H) dalam al-Futuhat al-Ilahiyyah.

      35. Al-‘Allamah Syeikh Ibn ‘Allan al-Siddiqi.

      36. Al-‘Allamah Najmuddin al-Ghazi dalam kitabnya al-Kawakib al-Sa’irah.

      37. Imam Syah Waliy Allah al-Dihlawi dalam al-Durr al-Thamin.

      38. Al-‘Allamah al-Alusi dalam tafsir Ruh al-Ma'ani.

      39. Sayyid ‘Abdul Rahman al-‘Idrus dalam kitab Syarh Salawat al-Badawi.

      40. Syeikh ‘Ali al-Ajhuri al-Maliki dalam al-Nur al-Wahhaj.

      41. Syeikh Muhammad al-Khalili dalam al-Fatawa.

      42. Syeikh ‘Abdullah Sirajuddin al-Halabi dalam al-Solat 'ala al-Nabiy.

      43. Al-‘Allamah Syeikh Yusuf al-Nabhani dalam Sa‘adah al-Darayn, Syawahidul Haq dan Jami‘ Karamatil Auliya’.

      44. Syeikh Badi‘ al-Zaman Sa‘id al-Nursi.

      45. Syeikh Ibrahim al-Bajuri dalam Syarh al-Syama’il.

      46. Syeikh Muhammad Hasanain Makhluf.

      47. Syeikh Abu al-Qasim Muhammad al-Hafnawi dalam Ta'rif al-Khalaf.

      48. Al-‘Allamah Dr. ‘Abdul Halim Mahmud, Syeikhul Azhar.

      49. Al-‘Allamah Sayyid ‘Abdullah al-Siddiq al-Ghumari dalam kitabnya Fadha’ilun Nabi SAW.

      50. Al-‘Allamah Dr. Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki dalam al-Zakha’ir al-Muhammadiyyah.

      51. Al-‘Allamah Dr. Muhammad Sa‘id Ramadan al-Buti.

      52. Al-Allamah Dr. ‘Ali Jum‘ah, Mufti Mesir dalam al-Bayan.

      53. Dr. ‘Umar ‘Abdullah Kamil,

      54. Dr. Mahmud al-Zayn.

      55. Datuk Seri Maharaja Awang Haji Ismail bin Umar Abdul Aziz, Mufti Brunei.

      Ustaz Mohd Khafidz bin Soroni dari Institut Kajian Hadith Selangor telah panjang lebar menerangkan mengenai yaqazah di sini :

      http://sawanih.blogspot.com/2012/07/blog-post.html

      Malahan JAKIM juga memperakui adanya yaqazah berbeza dengan yaqazah yang dipercayai oleh al Arqam :

      http://www.islam.gov.my/sites/default/files/menjawab_dakwaan_yaqazah_sesat_jemaah_al-arqam.pdf

      Wallahua'lam bissowab

      Ahad, Jun 29, 2014

      Penggunaan ubat ketika berpuasa



      Beberapa orang sahabat bertanya saya mengenai penggunaan ubat ketika berpuasa. Sebelum saya menjawab soalan ini, suka saya membawa beberapa ayat al-Quran berkaitan dengan puasa dan rukhsah meninggalkan puasa.

      Firman Allah SWT dalam surah al-Baqarah (183-184) bermaksud:

      183- Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.

      184- Iaitu beberapa hari tertentu. Maka sesiapa di antara kamu sakit atau bermusafir (dalam perjalanan lalu tidak berpuasa), maka (hendaklah) menggantinya pada hari-hari lain (bukan pada bulan Ramadhan). Dan atas orang-orang yang tidak kuat (kerana lemah tua atau penyakit atau hamil) wajib membayar fidyah memberi makan orang miskin. Tetapi barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebaikan , maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu sekiranya kamu mengetahui.

      Kita sudah memahami bahawa setiap muslim aqil, baligh adalah diwajibkan berpuasa. Apabila berpuasa, secara lahirnya kita mengelakkan diri kita dari memasukkan sesuatu melebihi had-had tertentu pada rongga-rongga badan iaitu mulut, hidung, telinga dan dua saluran dubur dan qubul.

      Apabila saya menyebut 'had-had tertentu' pada rongga-rongga tersebut kerana beberapa amalan memasukkan sesuatu dalam rongga-rongga tersebut masih dibenarkan ketika berpuasa selagi tidak melebehi had yang dibenarkan, contohnya:

      i. Dibenarkan memasukkan air ke hidung (tidak melampau) sekadar membersihkan hidung untuk mendapatkan sunnah dan pahala ber ‘istinsyaq’ ketika mengambil wuduk.

      ii. Dibenarkan mandi wajib selepas azan Subuh dan mandi wajib mewajibkan kita membasuh bahagian dalam lubang telinga yang zahir dan dubur yang zahir.

      Ayat 184 pula menjelaskan bahawa sesiapa yang sakit, dibolehkan seseorang itu berbuka puasa. Sekiranya mereka masih mahu mengerjakan puasa, ia adalah baik untuk mereka selama mana puasa itu tidak memudaratkan diri mereka. Jika memudaratkan, mereka wajib berbuka berdasarkan larangan umum: Jangan kamu campakkan diri kamu dalam kebinasaan (al-Baqarah, ayat 195).

      Masalah yang timbul dari persoalan orang-orang sakit ini ialah:

      1. golongan yang tidak mahu berpuasa atas alasan sakit.

      2. orang sakit yang sedang dalam proses berubat, mahu terus berpuasa dan masih menganggap dirinya sah puasa dan tidak memerlukannya qada’ (mengulang balik) ibadah puasa tersebut.

      Bagi golongan pertama iaitu yang tidak mahu berpuasa berterusan kerana sakit, kita katakan pada mereka, ketetapan yang tidak mewajibkan mereka tidak boleh berpuasa bukan ditetapkan oleh diri mereka. Mereka wajib mendapatkan pandangan doktor perubatan muslim yang adil, warak untuk menentukan ketidakmampuan mereka. Sekiranya disahkan, mereka boleh tidak berpuasa tetapi masih wajib menjaga syiar-syiar puasa iatu tidak memakan ditempat umum.

      Manakala bagi golongan kedua, sekiranya proses perubatan ketika berubat (dalam keadaan berpuasa) melebihi had-had memasukkan sesuatu ke dalam rongga, puasa adalah terbatal namun, mereka masih wajib menahan diri dari makan (imsak) dan puasa tersebut wajib diqada (diulang) berdasarkan dalil-dalil khusus puasa yang melarang memasukkan sesuatu ke dalam rongga-rongga tersebut.

      Dalam banyak keadaan tersebut, saya bersetuju dengan Buku Panduan Berpuasa Pesakit terbitan Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim) yang saya ambil dari Berita Harian, 29 Ogos 2009:

      Perkara berkaitan rawatan yang TIDAK MEMBATALKAN PUASA:

      • Menggunakan ubat titis mata, titis telinga dan cucian telinga (dengan syarat tidak sampai batas gegendang telinga);

      • Pil tablet nitroglycerin (GTN) atau ubat yang menyamainya yang diambil secara meletakkannya di bawah lidah tanpa ditelan bagi merawat kesakitan dada (angina pectoris) bagi pesakit jantung;

      • Melakukan prosedur tampalan gigi, cabutan, pembersihan gigi atau memberus gigi dengan syarat individu yang berpuasa tidak menelan apa-apa bahan ketika prosedur rawatan itu;

      • Semua bentuk suntikan sama ada melalui lapisan kulit, otot, sendi atau salur darah;

      • Pendermaan atau pemindahan darah;

      • Penggunaan ubat-ubatan dalam bentuk sapuan, balutan dan plaster pada permukaan kulit;

      • Pengambilan sampel darah untuk ujian makmal;

      • Memasukkan tiub kecil (catheter) melalui salur darah untuk tujuan pemeriksaan seperti prosedur angiogram untuk pemeriksaan jantung;

      • Pemeriksaan laparoscop, iaitu pemeriksaan dalaman dengan menggunakan alat yang dimasukkan melalui dinding abdomen untuk pemeriksaan bahagian dalaman pesakit;

      • Berkumur-kumur termasuk berkumur-kumur secara gargle (sehingga air hampir ke tekak), dan ubat teraputik semburan ke mulut yang tidak membabitkan proses menelan;

      • Menjalani biopsy iaitu pengambilan spesimen atau cebisan yang diambil daripada hati atau organ lain untuk tujuan analisis makmal;

      • Penggunaan ubat semburan (spray) hidung tanpa disedut;

      • Rawatan dialisis untuk masalah pesakit buah pinggang sama ada hemodialisis atau peritonealdialisis;

      • Menjalani rawatan bius setempat atau separuh (local) dengan semburan atau suntikan setempat; dan

      • Penggunaan ubat buasir dengan memasukkan semula kawasan buasir pada tempatnya tanpa membabitkan kawasan rongga yang dalam.

      Perkara berkaitan dengan rawatan perubatan yang MEMBATALKAN PUASA:

      • Penggunaan alat sedutan (inhaler) untuk rawatan lelah (athma) atau penyakit paru-paru kronik;

      • Memasukkan sebarang tiub kecil (pessary) atau ubat ke dalam faraj (vaginal suppository) termasuk prosedur cucian (wash), pemeriksaan dalaman vaginal (vaginoscope), atau pegawai perubatan memasukkan jari untuk melakukan pemeriksaan dalaman vagina wanita.

      • Memasukkan sebarang tiub catheter, alat pemeriksaan dalam saluran kencing (uretroscope), barium atau ubat pencuci yang dimasukkan sama ada ke dalam saluran kencing bagi lelaki atau wanita (contohnya memasukkan `urinary catheter’ untuk rawatan sumbatan salur kencing);

      • Penggunaan alat seperti enema, tiub suppository, teropong protoscope atau jari pegawai perubatan yang dimasukkan ke dalam dubur atau rectum untuk pemeriksaan;

      • Penggunaan teropong usus (endoscope) atau teropong perut (gasteroscope) untuk tujuan pemeriksaan sistem penghadaman; dan

      • Penggunaan bius menyeluruh yang membabitkan penggunaan gas.

      Wallahu a'lam.

      Oleh: Ustaz Dr Asmadi Mohamed Naim

      Kenapa “ELERGIK PERDANA” dengan ‘SELAWAT PERDANA”?

      Himpunan muslimin di Putra jaya utk berselawat


      Saya melihat semacam suatu 'alergik perdana' kepada mereka yang menegatifkan program-program Selawat Perdana. Mereka yang elergik ini terlajak sehingga menerbitkan kalimah-kalimah takfir, sesat dan bid'ah kepada masyarakat yang mengikuti atau menghadirinya. Saya suka menyorot kembali elergik perdana mereka ini:

      1. Majlis selawat sebegini suatu yang bid'ah sesat masuk neraka sebab Nabi SAW tidak pernah buat. MasyaalLah, mereka masih berpegang secara literal hadis bid'ah walhal telah dijawab oleh banyak ulama mengenai perkara itu. Majlis ini tidak menambah sebarang rukun solat, atau mana-mana ajaran baru di dalam Islam. Bahkan di dalamnya ada peringatan-peringatan dan tausiyyah untuk pesertanya.

      2. Majlis ini syirik kerana mengagungkan Nabi Muhammad SAW? Pengamatan saya, adakah dengan berselawat sebegitu sudah berubah pula penyembahan kepada Nabi SAW? Tidak pula majlis ini menjadikan Nabi SAW kita berubah menjadi orang yang disembah. Tinggal lagi ia memperingatkan kepada kita sepatutnya idola kita ialah manusia yang sempurna ini.

      3. Majlis ini majlis yang sia-sia kerana turut dihadiri oleh mereka-mereka yang juga turut meluluskan konsert-konsert yang mungkar? Pada saya, sepatutnya kita gembira apabila mereka masih melihat majlis-majlis yang baik untuk dihadiri. Sekiranya para habaib itu hanya senyap terhadap perlakuan mungkar pemimpin, adakah dengan senyap menunjukkan mereka bersetuju? Tidak! Sebaliknya mendatangkan program alternatif adalah jawapan kepada program mungkar tersebut. Itu adalah jawapan yang lebih tajam daripada melafazkan kata-kata melarang mereka. Bahkan inilah jalan yang lebih berhikmah.

      4. Program ini membazir kerana jumlah wang yang sedemikian boleh digunakan untuk majlis dakwah yang lain. Pengamatan saya, kenapa saudara tidak melihat ini sebagai sebahagian daripada aktiviti dakwah iaitu memenuhi keperluan hiburan golongan muda. Golongan muda memang sentiasa memerlukan alunan-alunan muzik sebagaimana mereka menjadi pengikut kepada ramai artis yang menerbitkan album secara berterusan. Maka Selawat Perdana yang pelbagai boleh memenuhi keperluan mereka ini. Bahkan perlu diingat, sekiranya Selawat Perdana ini tidak dibuat, kita tidak pasti juga adakah wang ini akan dikhususkan untuk program dakwah yang lain.

      5. Qasidah dan berzanji mengagungkan Nabi Muhammad SAW sehingga syirik? Pengamatan saya, ini suatu konklusi yang buruk. Ungkapan-ungkapan qasidah penuh dengan bunga-bunga bahasa. Maknanya tidak terkeluar daripada makna kemanusiaan dan mengharap syafaat Nabi SAW. Mereka yang tidak tahu seni, memang sukar memahami kelembutan dan alunan bunga-bunga bahasa.

      Semoga kita semua terhindar dengan ketaksuban sesuatu pandangan khususnya aliran yang cepat mengkafirkan dan membid'ahkan umat Islam yang lain.

      Oleh: Us Asmadi Mohamed Naim

      Khamis, Jun 19, 2014

      Mengenali Ideologi Aliran Khawarij

      khawarij (1)


      (Gabungan artikel dari tulisan di blog Insan Berdakwah dan tulisan Dr. Umar Abdullah Kamil)

      Firman Allah سبحانه وتعالى :

      يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًۭا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌۭ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًۭا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌۭ رَّحِيمٌۭ

      “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah dari banyak berprasangka; Sesungguhnya sebahagian dari sangkaan itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan dan keaiban orang, dan janganlah setengah kamu mengumpat setengahnya yang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang mengumpat sebahagian yang lain. Adakah di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. (Oleh itu, patuhilah larangan-larangan yang tersebut) dan bertaqwalah kamu kepada Allah; Sesungguhnya Allah Penerima taubat, lagi Maha Mengasihani.”

      (Surah Al-Hujurat, 49; Ayat 12)

      Kaum Khawarij telah dibuktikan menjadi golongan yang paling mudah berburuk sangka. Dalam catatan sejarah, mereka berburuk sangka terhadap Rasulullah s.a.w dalam pembahagian ghanimah, bahkan sehingga sanggup menuduh Rasulullah s.a.w tidak mencari keredhaan Allah Taala. Mereka tidak sabar-sabar untuk membuat kesimpulan daripada sebab Rasulullah s.a.w melebih-lebihkan pembesar berbanding golongan marhein. Padahal apa yang dilakukan oleh Rasulullah s.a.w adalah dalam rangkai dakwah dan ta’liful qulub. Mereka juga menuduh Syaidina Uthman Affan r.a sebagai pengamal nepotisme dan menuduh Syaidina Ali r.a sebagai pemimpin yang tidak berwawasan.

      Dzul Khuwaishirah si bodoh yang melemparkan tuduhannya yang mengatakan bahawa Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam tidak ikhlas dengan berkata :

      "Ertinya : Demi Allah, sesungguhnya ini adalah suatu pembahagian yang tidak adil dan tidak dikehendaki di dalamnya wajah Allah". [Hadis Riwayat Muslim II/739, No. 1062, Ahmad IV/321].

      Dzul Khuwaishirah ketika melihat Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam membahagi harta kepada orang-orang kaya, bukan kepada orang-orang miskin, dia tidak menerimanya dengan prasangka yang baik atas pembahagian tersebut.

      Ini adalah sesuatu yang menghairankan. Kalaulah tidak ada alasan selain pelaku pembahagian itu adalah Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam cukuplah hal itu mendorong untuk berbaik sangka. Akan tetapi Dzul Kuwaishirah enggan untuk itu, dan berburuk sangka disebabkan jiwanya yang sakit. Lalu dia berusaha menutupi alasan ini dengan keadilan. Yang demikian ini mengundang tertawanya iblis dan terjebak dalam perangkapnya.

      Seharusnya seseorang itu introspeksi, meneliti secara cermat dorongan, tindak tanduk dan maksud tujuan serta waspada terhadap hawa nafsunya. Hendaklah dia berjaga-jaga terhadap 'pendorong-pendorong' iblis, kerana dia banyak menghias-hiasi perbuatan buruk dengan dibungkus secara indah dan rapi, dan membaguskan tingkah laku yang keji dengan nama dasar-dasar kebenaran yang mengundang seseorang untuk menentukan sikap menjaga diri dan menyelamatkan diri dari tipu daya syaitan dan perangkap-perangkapnya.

      Jika Dzul Khuwaishirah mempunyai sedikit saja ilmu atau sekelumit pemahaman, tentu tidak akan terjatuh dalam kumbangan ini.

      Berikut kami paparkan penjelasan dari para ulama mengenai keagungan pembahagian Nabi Sallallahu 'alaihi wa sallam dan hikmahnya yang tinggi dalam menyelesaikan perkara.

      Berkata Syaikh Islam Ibnu Taimiyah :" Pada tahun peperangan Hunain, Baginda Sallallahu 'alaihi wa sallam membahagikan ghanimah (harta rampasan perang) Hunain pada orang-orang yang hatinya lemah (muallafah qulubuhum) dari penduduk Najd dan bekas tawanan Quraisy seperti 'Uyainah bin Hafsh, dan beliau tidak memberi kepada para Muhajirin dan Anshar sedikitpun.

      Maksud Baginda, dengan memberikan harta rampasan perang kepada mereka, secara halusnya sebagai untuk mengikat hati mereka dengan Islam, kerana keterkaitan hati mereka dengannya merupakan maslahat umum bagi kaum muslimin. Sedangkan yang tidak baginda berikan adalah kerana mereka lebih baik di mata Baginda dan mereka adalah wali-wali Allah yang bertaqwa dan seutama-utamanya hamba Allah yang soleh setelah para Nabi dan Rasul.

      Jika pemberian itu tidak dipertimbangkan untuk maslahat umum, maka Nabi Sallallahu 'alaihi wa sallam tidak akan memberi pada aghniya', para pemimpin yang ditaati dalam perundangan dan akan memberikannya kepada Muhajirin dan Anshar yang lebih memerlukan dan lebih perlu diberikan keutamaan.

      Oleh sebab inilah orang-orang Khawarij mencela Nabi Sallallahu 'alaihi wa sallam dan dikatakan kepada baginda oleh pelopornya :" Wahai Muhammad, berbuat adillah. Sesungguhnya engkau tidak berlaku adil ". dan perkataannya :" Sesungguhnya pembahagian ini tidak dimaksudkan untuk wajah Allah .....". Mereka, meskipun banyak shaum (berpuasa), solat, dan bacaan Al-Qur'annya, tetapi keluar dari As-Sunnah dan Al-Jama'ah.

      Memang mereka dikenal sebagai kaum yang suka beribadah, wara' dan zuhud, akan tetapi tidak disertai ilmu, sehingga mereka memutuskan bahawa pemberian itu semestinya tidak diberikan kecuali kepada orang-orang yang berhajat, bukan kepada para pemimpin yang ditaati dan orang-orang kaya itu, jika di dorong untuk mencari keredhaan selain Allah -menurut perasangka mereka-.

      Inilah kebodohan mereka. Kerana sesungguhnya pemberian itu menurut kadar maslahah agama Allah. Jika pemberian itu akan semakin mengundang keta'atan kepada Allah dan semakin bermanfaat bagi agama-Nya, maka pemberian itu jauh lebih utama. Pemberian kepada orang-orang yang memerlukan untuk menegakkan agama, menghinakan musuh-musuhnya, memenangkan dan meninggikannya lebih agung daripada pemberian yang tidak demikian itu, walaupun yang kedua lebih memerlukan". [Lihat Majmu' Fatawa : XXVIII/579-581, dengan sedikit ringkasan].

      Sebenarnya pemberian ini dibuat diatas kepentingan agama Islam. Kerana itu setiap kali sesuatu perbuatan anugerah pemberian yang dilakukan itu mendatangkan ketaatan yang lebih kepada Allah dan kemanfaatan kepada agama maka perbuatan itu adalah lebih aula atau lebih utama. Sesuatu anugerah pemberian itu amatlah berharga nilainya dalam usaha mendirikan ugama Allah, menewaskan musuh, menzahir dan mempropagandakan Islam itu, maka ia  adalah lebih utama daripada memberi kepada golongan yang tidak memberi timbal balik faedah yang banyak. 

      Oleh kerana itu anugerah pemberian kepada golongan yang memberi timbal balik yang lebih besar itu lebih wajar walaupun kedudukan golongan yang kedua dari kalangan orang mukmin itu lebih memerlukan pemberian tersebut. Memang menjadi kewajipan kepada setiap individu agar memiliki sifat kebijaksanaan , memahami ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan fiqh al-dakwah serta memahami maqasid al-syariah agar tidak terumbang ambing di dalam perkara yang samar  dan belum ditentukan tentang kedudukan hukumnya.

      Sekiranya seseorang itu tidak memiliki ciri-ciri tersebut  maka ia akan menghadapi suatu keadaan yang terkebil-kebil tidak menentu lalu ditimpa pula dengan kerosakan dan membawa kepada hilang pedoman hidup. Setelah itu individu tersebut  akan ditimpa oleh sifat buruk sangka, kecelaan dan pada masa yang sama juga ianya telah melakukan pelbagai perkara kebaikan yang wajar diberi pujian dan ucapan terima kasih.

      Fenomena ini sedang berjalan dengan giatnya di negara kita. Sikap buruk sangka sudah menjadi sebahagian daripada rangka dakwah atau pengembangan pengaruh. Sebarang keburukan yang membabitkan kaum yang disokongnya, segera dikatakan sebagai berita palsu atau adu-domba dan fitnah sekalipun dia belum lagi melakukan siasatan yang membenarkan sangkaannya.

      Read more: http://www.penaminang.com/2014/06/ideologi-khawarij-ada-pada-ahli.html#ixzz352qEWcfH

      Isnin, Jun 16, 2014

      Hukum mengambil upah membaca Al Quran





      Soalan :

      Apakah hukum mengambil upah dengan membaca al Quran ? Begitu juga dengan sesetengah tempat selepas kematian tuan rumah akan memanggil sekumpulan Huffaz al Quran untuk membaca al Quran. Setelah itu mereka akan dihidangkan makanan dan diberi sagu hati berupa wang. Tujuannya ialah untuk bersedekah bagi pihak roh simati dengan harapan agar Allah memberi keringanan kepadanya. Apakah hukum perkara tersebut ?

      Jawapan 1 :

      Jawapan diberikan oleh Dr Abd Malik Abd Rahman As Sa'adi (bekas Mufti Iraq) dalam bukunya : Al Bid'ah fi al Mafhum al Islamy ad Daqiq - (Salah faham terhadap Bid'ah) menyebutkan :

      Membaca al Quran adalah ibadah. Para ulama berselisih pendapat, adakah dibolehkan mengambil upah atau imbalan ke atas ibadah yang dilakukan termasuk di antaranya ialah membaca al quran dan mengajarnya. Sebahagian fuqaha' berpendapat mengambil upah hasil pembacaan al Quran adalah tidak harus.

      Ini adalah salah satu pendapat yang dikemukakan oleh Imam Ahmad, para ulama bermazhab Hanafi yang terawal dan Ishaq bin Rahawaih. Manakala para ulama Hanafiyyah yang terkemudian mengharuskan pengambilan upah hasil menjadi imam, mengajar dan muazzin. Alasan mereka ialah sekiranya dipegang pendapat yang melarang pengambilan upah maka ia akan menyebabkan tugas-tugas tersebut terabai kerana mereka yang layak untuk melaksanakan tugas tersebut terpaksa meninggalkannya untuk mencari sara hidup, seterusnya menyebabkan tugas tersebut terabai atau berlaku kepincangan.

      Manakala sebahagian ulama yang lain seperti Imam Malik, Asy Syafie, Ibnu Al Munzir dan Ahmad pada satu riwayat yang lain mengharuskan pengambilan upah hasil membaca al Quran. Mereka berdalilkan dengan sebuah hadith yang diriwayatkan oleh AlBukhari bahawa Rasulullah sallaLlahu 'alaihi wasallam bersabda (yang bererti) :

      Yang paling berhak kamu mengambil upah ke atasnya adalah Kitab Allah (Al Quran)

      kerana Nabi sallaLlahu 'alaihi wasallam tidak membantah ke atas para sahabat yang mengambil upah hasil jampian dengan al Quran. Namun bagi para ulama yang mengharuskannya kesemua mereka bersepakat bahawa sekiranya seorang qari (yang membaca al Quran) membaca dengan niat untuk mendapat upah dan mengaut harta, maka dia tidak akan mendapat pahala dan berkemungkinan dia berdosa kerana dia membaca Al Quran bukan kerana Allah subahanahu wa ta'ala (ikhlas kerana Allah).

      Mereka juga berpendapat sekiranya pembacaan Al Quran dijadikan sebagai kerja untuk mengaut keuntungan dan harta yang banyak maka hukumnya adalah haram yang tidak diakui oleh syarak.

      Jawapan 2 :

      Membaca al Quran adalah sangat dianjurkan. Begitu juga bersedekah. Mengambil upah untuk tugas-tugas keagamaan seperti membaca al Quran , menjadi imam, membaca khutbah jumaat, azan, mengajar ilmu-ilmu syariah, telah menjadi kebiasaan diamalkan umat Islam di negara-negara Islam sejak zaman berzaman. Adapun mengambil upah membaca alQuran ia termasuk dalam keumuman hadith RasuluLlah sallaLlahu 'alaihi wasallan (yang bererti) :

      Yang paling berhak kamu mengambil upah ke atasnya adalah Kitab Allah (Al Quran)

      (Riwayat Bukhari)

      Hadith ini adalah bahagian akhir hadith yang panjang riwayat Al Bukhari dari Ibn Abbas iaitu :

      Bahawasanya satu jama'ah para sahabat Nabi melalui di tempat yang ada air yang ada di sana seseorang bernama Ladigh atau Salim (perawi tidak pasti antara keduanya yang kena sengat binatang ), Datanglah seorang lelaki dari tempat air itu lalu berkata : Adakah di antara kamu yang pandai menjampi kerana sesungguhnya di tempat air itu ada seorang lelaki yang disengat binatang bisa. Lalu ada seorang dari mereka lalu membaca Surah al fatihah dengan pembayaran beberapa ekor kambing. Lalu (selepas menjampi) dia membawa kambing tersebut kepada kawan-kawannya. Kawan-kawannya tidak suka dengan perkara tersebut. Mereka berkata : Apakah kamu mengambil upah dengan membaca kitab Allah? (perkara ini berlarutan) sehinggalah mereka sampai di Madinah, lalu mereka berkata : Ya Rasulullah, dia telah mengambil upah melalui kitab Allah. Rasulullah sallaLlahu 'alaihi wasallam lalu mengatakan : Sesungguhnya yang paling berhak kamu mengambil upah ke atasnya ialah kitab Allah (Al Quran)

      Imam Nawawi berkata dalam Raudhah ath Tholibin : Dari al Qadhi Husain di dalam Al Fatawa, menyebutkan :

      Sesungguhnya mengupah membaca al Quran di atas kubur pada tempoh tertentu adalah dibolehkan sebagaimana (dibolehkan) mengupah orang untuk azan dan mengajar al Quran

      (lihat Fath al Mu'in m/s 84, Lihat Minhaj al Wadhih (Soal Jawab Agama membahaskan Masalah Terkini dalam Feqah)

      Mengikut Bughyah al Mustarsyidin, sah (boleh) upah membaca al Quran di atas kubur dan mendoakannya kerana bacaan itu boleh memberi manfaat dan dihadiahkan pahalanya kepada si mati. Dalil dari hadith dan pendapat-pendapat para ulama' mu'tabar di atas memberi penjelasan bahawa tidak mengapa mengambil upah membaca al Quran kepada si mati.

      Rujukan :

      1. Dr Abd Malik Abd Rahman As Sa'adi, Al Bid'ah fi al Mafhum al Islamy ad Daqiq - Salah faham terhadap Bid'ah

      2. Muhadir bin Hj Joll, Persoalan Khilafiyyah dan Penjelasan Ulama, Inilah Jawapannya, m/s 660-661, Cet Pertama 2011, Mawleed Publishing, Selangor


      Oleh: Ustaz Zamihan Al-Ghari

      Khamis, Jun 05, 2014

      Kaedah Umum al-Balwa Dan Kesannya Kepada Perubahan Hukum Syarak

      Oleh: Dr. Arieff Salleh bin Rosman, Felo Fatwa

      Islam merupakan agama rahmat kepada sekalian alam. Hukum hakam yang ditetapkan dalam Islam adalah bertujuan untuk memenuhi kepentingan hidup manusia dan menjauhkan kemudaratan, termasuk menghilangkan kesulitan dan kesusahan. Firman Allah SWT, surah al-Haj ayat 78, "Dia tidak menjadikan kamu menanggung sesuatu keberatan dan susah payah dalam perkara agama."

      Berdasarkan ayat tersebut, para pakar perundangan Islam menggariskan satu kaedah perundangan iaitu "Apabila berlaku kesulitan, maka perlu diberikan kemudahan atau keringanan". Antara konsep yang berkaitan dengan kaedah tersebut ialah UMUM AL-BALWA.

      Kaedah Umum al-Balwa mempunyai peranan yang besar dalam proses mengeluarkan ijtihad. Ia merupakan salah satu justifikasi dalam menjelaskan sesuatu hukum Syarak berkaitan isu semasa. Kaedah Umum al-Balwa sering digunakan oleh para ulama; sama ada dalam disiplin ilmu usul fiqh atau fiqh. Ia dibincangkan dalam kerangka rukhsah dan keringanan yang dibenarkan dalam hukum Syarak.

      Kebanyakan aplikasi Kaedah Umum al-Balwa dalam kitab fiqh dibincangkan berkaitan jenis-jenis najis yang dimaafkan. Ia biasanya dikaitkan dengan ciri sukar dikawal, sukar diasingkan, sukar dijauhi, kebanyakan orang mukallaf sukar mengelakkannya. Manakala illah (sebab) keringanan diberikan sama ada berkaitan dengan kesulitan, kesusahan, kerumitan dan sebagainya (lihat: Ibn Hazm, al-Muhalla, 1/221, 254; al-Sarakhsi, al-Mabsut, 1/60, 61, 79, 80; Ibn Qudamah, al-Mughni, 1/21, 22, 23, 62; al-Nawawi, al-Majmu', 3/134, 135; al-Dusuqi, Hasyiah al-Dusuqi, 1/71, 73, 75).

      Namun begitu, dalam bahagian fiqh yang lain juga dibincangkan Kaedah Umum al-Balwa (al-Suyuti, al-Ashbah wa al-naza'ir, 164-167). Kaedah Umum al-Balwa sangat berkait rapat dengan perkembangan semasa pada sesuatu zaman dan tempat. Kepentingan memahami konsep umum al-balwa dan aplikasinya dalam kehidupan seharian menjadi semakin penting dalam dunia sains dan teknologi serba canggih dewasa ini. Oleh itu, kaedah ini perlu difahami dengan sebaiknya, kerana perubahan hukum sesuatu boleh berlaku kesan daripada wujudnya Umum al-Balwa.

      Menurut Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili, Umum al-Balwa bermaksud,"Berleluasanya sesuatu sehingga seseorang itu sukar untuk menyelamatkan diri daripadanya atau menjauhinya."(Nazariyah al-darurah al-Syar'iyah, 123). Dr. 'Amir al-Zibari turut mengemukakan definisi yang sama (al-Tahrir fi qa'idah al-masyaqqah tajlib al-taysir, 82).

      Manakala menurut Salih Yusuf, Umum al-Balwa bermaksud, "Apa-apa yang diperlukan pada keadaan yang umum, di mana berlakunya perkara tersebut sehingga sukar untuk dielakkan serta susah untuk dikawal dan jika dihalang ia akan menimbulkan kesulitan yang lebih."(al-Masyaqqah tajlib al-taysir, 232).

      Dr. Salih bin 'Abd Allah bin Humayd menjelaskan, "Umum al-Balwa itu merujuk kepada dua ciri:

      1) Keperluan untuk sesuatu itu diberikan keringanan dalam keadaan umum, iaitu sukar untuk mengelakkannya dan jika tidak diberi keringanan akan menimbulkan kesulitan yang lebih besar.

      2) Sesuatu itu sudah tersebar, iaitu seseorang mukallaf sukar untuk mengelakkan diri daripadanya, atau menghilangkannya, serta jika tidak diberi keringanan akan menimbulkan kesulitan yang lebih besar.

      Bagi ciri pertama, keringanan perlu diberikan kerana untuk memenuhi keperluan orang mukallaf dan bagi ciri kedua, keringanan perlu diberikan kerana ia sukar untuk dihilangkan." (Raf' al-haraj, 262).

      Menurut Muslim bin Muhammad bin Majid al-Dusari, Umum al-Balwa bermaksud, "Isu yang berlaku secara menyeluruh ke atas orang mukallaf atau keadaan orang mukallaf yang berkaitan dengan pertanggungjawaban tertentu berkenaan isu tersebut, serta wujud kesukaran menghindarinya atau tidak mampu menghilangkannya melainkan dengan bertambah kesulitan yang memerlukan kemudahan dan keringanan." (Umum al-balwa: Dirasah nazariyah tatbiqiyah, 61)

      Ciri umum al-balwa (al-Dusari, Umum al-balwa: Dirasah nazariyah tatbiqiyah, 62-64):

      1) Isu yang berlaku secara menyeluruh, sama ada isu berkaitan dengan perbuatan mukallaf seperti kencing, atau berkaitan dengan keadaan mukallaf seperti umur tua dan seumpamanya, atau berkaitan dengan keadaan tertentu yang tidak berkaitan dengan mana-mana tingkahlaku mukallaf seperti debu jalan yang bercampur najis binatang terkena baju kerana bawaan angin.

      2) Isu itu berlaku ke atas setiap individu mukallaf atau kebanyakan mereka, sama ada melibatkan keadaan yang bersifat umum atau khusus untuk keadaan tertentu sahaja. Manakala jika isu tersebut hanya melibatkan keadaan khusus untuk seorang individu sahaja atau sebilangan kecil, maka kaedah Umum al-Balwa tidak boleh diterima pakai untuk isu tersebut.

      3) Isu tersebut berkaitan dengan pertanggungjawaban (taklif), contohnya asal darah kutu itu najis, tetapi atas alasan Umum al-Balwa, ia menjadi najis yang dimaafkan.

      4) Isu tersebut sukar untuk dihindari atau ia hanya boleh dihilangkan dengan bertambahnya kesulitan.

      Sebab umum yang mempengaruhi hukum kerana Umum al-Balwa (al-Dusari, Umum al-balwa: Dirasah nazariyah tatbiqiyah, 69):

      1) Isu tersebut sukar dikawal atau wujud halangan untuk mengawalnya yang pada kebanyakan keadaannya seseorang mukallaf tidak mempunyai pilihan. Contohnya, seseorang pejalan kaki sukar untuk mengelakkan daripada debu jalan yang berkemungkinan besar bercampur debu najis daripada terkena pada pakaiannya. Debu tersebut termasuk dalam najis yang dimaafkan, maka sah solat jika pejalan kaki itu bersolat menggunakan pakaian tersebut (al-Suyuti, al-Ashbah wa al-naza'ir, 164).

      2) Isu tersebut sukar dielakkan atau wujud halangan ketika hendak mengelakkan ia daripada berlaku yang pada kebanyakan keadaannya seseorang mukallaf mempunyai pilihan untuk melakukannya atau tidak. Tetapi jika tidak dilakukan perkara tersebut akan bertambah kesulitan. Contohnya kesilapan seseorang mujtahid ketika berijtihad, pada asalnya kesilapan itu adalah dosa kerana salah menjelaskan hukum Syarak, namun ia tidak dianggap dosa kerana terdapat Umum al-Balwa dalam kalangan mujtahid iaitu sukar mengelak kesilapan (rujuk hadis Nabi yang direkod oleh Imam al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, 5/340 hadis no. 2680).

      Contoh berubah hukum kerana Umum al-Balwa:

      1) Air liur kucing hukum asalnya ia adalah najis kerana kucing berkemungkinan makan benda najis. Namun, atas dasar umum balwa, iaitu kucing adalah binatang peliharaan yang hidup di persekitaran hidup manusia, jika dihukumkan bekas jilatan kucing pada bekas air dihukumkan najis, maka ia akan menimbulkan kesulitan kepada hidup masyarakat.

      Maka hukum air daripada bekas jilatan kucing tidak menjadi najis (al-Suyuti, al-Ashbah wa al-naza'ir, 164)

      2) Hukum asal menerima upah daripada amal soleh adalah haram. Contohnya, haram guru yang mengajar al-Quran daripada menerima gaji, juga gaji imam, bilal, dan sebagainya.

      Namun atas alasan umum balwa, iaitu jika hukum itu kekal ia akan menjadikan tugas tersebut diabaikan serta guru al-Quran, imam, bilal dan seumpamanya akan terjejas keperluan hidup mereka, maka berubah hukum kepada harus menerima upah atau gaji (Ibnu Qudamah, al-Mughni, 8/136)

      3) Isu wanita menjadi orang gaji di rumah. Menurut hukum asal, seorang wanita diharamkan keluar rumah melainkan ditemani oleh mahramnya. Begitu juga seorang wanita diharamkan tinggal di rumah yang tiada mahramnya.

      Namun, pada zaman kini, atas dasar Umum al-Balwa, maka diharuskan seorang wanita menjadi orang gaji di rumah orang lain tanpa ditemani oleh mahramnya, dengan syarat terhindar daripada fitnah (al-Dusari, Umum al-balwa: Dirasah nazariyah tatbiqiyah, 446)

      Wallahu A'lam.

      Sumber: Fatwa Malaysia

      Rabu, Jun 04, 2014

      Jangan kamu berkahwin dengan perempuan yang bersifat dengan 6 sifat ini.

      Imam Al-Ghazali di dalam kitabnya Ihya' Ulumuddin (kitab Tassawuf yang terkenal) ada mengatakan ungkapan arab yang

      bermaksud: "Janganlah kamu menikahi 6 jenis perempuan iaitu:

      1. Al-Annanah (suka mengeluh) ialah : perempuan yang banyak mengeluh dan mengadu, selalu membalut kepalanya sebagai tanda sakit. (menandakan dia rasa terbeban dengan tugasan hariannya, kerana malas atau memang sifat semulajadinya suka mengeluh walaupun disebabkan perkara kecil. Perempuan tersebut berpura-pura sakit supaya suaminya tidak membebaninya dengan tugasan harian). Menikahi perempuan yang sengaja buat-buat sakit tidak ada faedah padanya.

      2. Al-Mananah: perempuan yang memberikan sesuatu kepada suaminya (suka mengungkit-ngungkit). Sampai satu masa dia akan mengatakan : saya telah melakukan untuk kamu itu ini.

      3. Al-Hananah : perempuan yang suka merindui dan mengingati bekas suami atau anak daripada bekas suami. (Perempuan seperti ini tidak akan menghargai suaminya walaupun suaminya berusaha memuaskan segala kemahuannya)

      4. Al-Haddaqah : menginginkan setiap perkara dalam perbelanjaannya (boros) dan suka membeli belah sehingga membebankan suaminya untuk membayar pembeliaannya.

      5. Al-Barraqah : terdapat dua makna yang pertama, suka berhias sepanjang masa (melampau dalam berhias) supaya wajahnya nampak lebih anggun dan mempersona, kat suami xbuat pun! Makna kedua ialah : perempuan yang tidak mahu makan, maka dia tidak akan makan kecuali bila bersendirian dan dia akan menyimpan bahagian tertentu untuk dirinya sendiri.

      6. Al-Syaddaqah : perempuan yang banyak cakap

      Sumber: PONDOK HABIB

      Syarat aurat wanita dalam solat tanpa telekung

      Wanita solat tanpa telekung

      6 SYARAT AURAT SOLAT TANPA TELEKUNG

      Terdapat segelintir wanita mengabaikan solat ketika leka membeli belah di Shopping Kompleks. Alasannya tak bawa telekung atau telekung yang disediakan di surau kat shopping kompleks kotor dan tak menyenangkan. Yang agak beragama pula memberikan jawapan yang terlalu menyimpang dari landasan agama, iaitu nak qada solat kat rumah nanti. Entah kitab mana yang dirujuk dan entah ulama mana yang dijadikan sandaran.

      Sebenarnya, Qada solat adalah untuk orang yang meninggalkan solat tanpa sengaja seperti tertidur dan terlupa. Bagi yang meninggalkan solat secara sengaja,termasuk dengan alasan tidak bawa telekung hukumnya berdosa besar( malah sesetengah ulama menghukumnya sebagai kafir). Pelakunya mesti bertaubat dengan sebenar-benar taubat dan menqada solat yang ditinggalkan itu sesegera mungkin. Jadi dalam situasi sebegini, jika wanita tersebut telah memakai pakaian yang memenuhi kriteria menutup aurat sebagaimana yang telah dijelaskan, maka wanita tersebut boleh langsung bersolat dengan pakaian tersebut.


      Wanita solat tanpa tudung


      SYARAT 1 : Mestilah Menutup Dagu.

      Ramai orang solat tanpa telekung tak bertutup lohong dagu dia. Kalau pakai tudung bawal, boleh pin kan bahagian tepi. Kalau pakai tudung sarung, kena la pakai dua lapis untuk tutup dagu tu. Gunalah style apapun, yang penting mesti tutup. Jangan lupa pin kan belakang tudung dengan baju! Nanti time sujud, boleh terselak tudung. Nanti nampak leher, batal pulak. Jangan lupa bab tu.

      Isu dagu ni terdapat khilaf, canggah pendapat. Jadi, ikutlah mana yang rasa betul.


      Wanita solat tutup lengan


      SYARAT 2 : SEELOK-ELOKNYA PAKAI HANDSOCKS!

      Yes, sebab time melakukan pergerakan solat, ada kemungkinan baju lengan kita boleh tersingkap dan nampak aurat. Memang kita boleh cepat-cepat betulkan, tapi solat kita akan jadi sangat tak selesa dan kita tak sedar kalau terbukak aurat So, kenalah pakai ok. Handsocks ni memang digalakkan.


      Wanita solat tanpa telekung tutup lengan


      SYARAT 3 : Memakai Baju Lengan Pendek Dengan Handsocks.

      Ingat, syaratnya MENUTUP AURAT, bukan MEMBALUT AURAT. Kalau handsocks nya ketat, maka tak dikira menutup aurat sebab ketat. Paling selamat kalau pakai baju lengan pendek ni dipakai 3 lapis. Baju luar lengan pendek, baju lagi kat dalam lengan panjang, dan handsocks. Sanggup?

      Jadi, tak boleh. Baju kenalah longgar semuanya. Tak boleh ada yang ketat, walaupun lengan tangan.


      Wanita solat tanpa telekung ada kain di dalam


      SYARAT 4 : Kain Tak Jarang Dan Nampak Dalam.

      Seeloknya solat tanpa telekung biarlah pakai kain. Jadi bentuk kaki semua lagi yakin tertutup. Cuma, pakailah seluar kat dalam kain. Nanti time solat tersingkap kain tu, susah jugak. Baju rasanya tak perlu risau. Cuma perlu labuh dan longgar. Kalau pakai tudung labuh, lagi mudah. Dan tudung bawal ni kadang-kadang boleh nampak bayang-bayang leher kita, jadi pastikan takde bayang-bayang semua sebelum solat, ok. Nanti terbatal solat, sayang je kita solat.


      Wanita solat longgarkan stoking


      SYARAT 5 : Pakai Stokin Yang Tebal.

      Pastikan stokin yang dipakai kenalah longgar dan tak nampak warna kulit kaki kita. Dan tak nampak bentuk jari antara kaki. Jadi, kita kena kasi longgar-longgar sikit stokin tu. Apapun, nampak jari kat stokin tu pun ada khilaf jugak, bercanggah pandangan. Ada yang kata nampak bentuk dimaafkan pada syarak. Allahhua'lam..Sebab tu la tak digalakkan pakai stokin terlalu pendek dan nipis. Nanti susah nak solat.


      Wanita solat tanpa telekung pakai seluar longgar dan labuh


      SYARAT 6 : Pakai Seluar?

      Seeloknya, pakailah kain. Sebab khuatir seluar ketat dan time buat pergerakan solat akan tertimbul bahagian-bahagian yang tidak diingini. Kita boleh pakai seluar. Tapi seluar tu mestilah longgar dan baju yang kita pakai mestilah labuh hingga menutup punggung dan peha.

      Banyak benda perlu berhati-hati kalau nak solat tanpa telekung, terutama bila lakukan pergerakan solat. Sebab tu pakaian semua perlu longgar dan tudung seeloknya labuh.



      Sumber: http://www.inikalilah.org/2014/05/6-syarat-aurat-solat-tanpa-telekung.html

      Sabtu, Mei 31, 2014

      Jalan kita bukan jalan melaknat, menuduh dan mencaci maki

      “Taushiyyah Al-Habib Umar bin Hafidz yang Meruntuhkan Penyakit Hati”

      Di hadapan kita ada qudwah (teladan), Rasulullah Saw. bersabda: “Seorang mukmin tidak melaknat, menuduh dan berkata keji.” “Aku tidak diutus sebagai pelaknat ataupun berteriak-teriak di pasar.”

      Baginda Saw. bukan pencaci, bukan pula pelaknat. Begitu juga dengan pengikut baginda dari kalangan ulama, tidak ada diantara mereka pelaknat yang suka melaknat orang. Bukan juga pencaci, yang mencaci bahkan terhadap orang awam. Apatah lagi terhadap para ulama, terlebih lagi para sahabat Nabi Saw. dan tabi’in. Mereka (para sahabat dan tabi’in) adalah sumurnya penghargaan, asas kehormatan.

      Metode (dakwah) yang baik dan benar tidak ada caci maki sama sekali. Nabi Saw. tidak diutus untuk mencaci dan memaki. Tidak pula seorang wali Allah bertugas untuk mencaci atau memaki. Tidak pula berdiri hakikat ilmu dengan caci maki sama sekali!

      Tidaklah berdiri suatu madzhab dengan caci maki kecuali madzhab iblis dan madzhab pengikut iblis, pada setiap waktu dan masa. Merekalah yang terbiasa meneruskan tradisi caci maki terhadap manusia, melaknat manusia, memancing emosi dan menanam kebencian di antara umat Islam.

      Adapun para Nabi, para ulama dan para wali, mereka menebar kasih, menyebar persaudaraan, menyebarkan akhlaq, menyebarkan kesucian hati, menyebarkan sikap menghargai, selalu menetapkan batasan, mengekang hawa nafsu, bersifat sabar dan menahan amarah. Inilah jalan yang ditempuh para nabi, para wali, para ulama dan orang-orang shaleh.


      Sumber: Pondok Habib

      Jumaat, Mei 30, 2014

      Konsep Umum Al-Balwa [ Musibah Yg Umum]

        "Umum al Balwa" bukan lah jalan menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Ia adalah satu kekelonggaran yang bila mana sesuatu perkara itu susah dielakkan, maka kita mengambil pendirian paling memudahkan.

        Kita  lihat,  bagaimana  beberapa  perkara  yg  dimaafkan,  kerana  sukar untuk  menghindarinya;

        Contoh

        1. Percikan air kencing yang terlalu sedikit yang tidak dapat dilihat, oleh mata yang sihat penglihatannya (apabila ia mengenai pakaian atau badan), sama ada najis tersebut mughallazah, mukhaffafah atau mutawassitah.

        2. Darah, nanah, darah kutu anjing dan najis yang sedikit yang dibawa oleh lalat, selagi ia bukan perbuatan manusia dan bukan dengan sengaja.

        3. Darah atau nana luka walaupun banyak dengan syarat ia terjadi pada diri manusia itu sendiri, bukan hasil daripada perbuatannya dan bukan dengan sengaja. Disyaratkan supaya darah atau nanah tersebut tidak mengalir ke tempat lain.

        4. Tahi binatang yang mengenai biji-bijian ketika ia memijaknya. Begitu juga tahi binatang ternakan yang mengenai susu ketika diperah dengan syarat najis tersbut tudak banyak hingga mengubah keadaan susu tersebut.

        5. Tahi ikan di dalam air selagi air tersebut tidak berubah. Begitu juga tahi burung pada tempat-tempat yang selalu ia berluang alik padanya seperti kawasan tanah suci Makkah, kawasan tanah suci Madinah dan Jamek Umawi. Ini adalah disebabkab 'umum al-balwa (musibah yang umun) dan sukar untuk dipelihara daripadanya.

        6. Darah yang mengenai baju tukang daging sekiranya tidak banyak.

        7. Darah yang ada pada daging.

        8. Mulut kanak-kanak yang terdapat najis muntah padanya apabila ia menghisap susu ibunya.

        9. Tanah jalan yang mengenai manusia.

        10. Bangkai yang tidak mengalir darahnya atau yang tidak berdarah apabila terjatuh ke dalam sesuatu cecair (air minuman) seperti lalat, lebah dan semut dengan syarat ia terjatuh dengan sendirinya (bukan dicampak) dan ia tidak mengubah keadaan cecair tersebut.

          Rujukan : Kitab Fikah Mazhab Syafie Jilid 1

          http://ahmadraje.blogspot.com/2012_04_01_archive.html

          Ahad, Mei 25, 2014

          Majlis Ilmu


          Kelas Agama UKE
          Suatu hari Nabi Muhammad s.a.w. bertemu dua kumpulan muslimin . Satu kumpulan sedang beribadah sambil bermohon dan berdoa kepada Allah s.w.t. , manakala satu kumpulan lagi sedang mengadakan majlis ilmu . Kedua-duanya baik , tetapi Nabi memilih yang terlebih baik .

          Nabi s.a.w. memilih majlis ilmu yang sedang berlangsung . Baginda duduk bersama-sama kumpulan kaum Muslimin yang hadir dalam majlis tersebut . Walaupun Baginda seorang Nabi dan orang yang alim serta paling berilmu di kalangan sekalian manusia , Nabi tetap cinta kepada ilmu pengetahuan .

          Malah pada bulan Ramadan , Nabi s.a.w. akan bertadarus al-Quran dengan Malaikat Jibril a.s. Nabi membaca dan Malaikat Jibril a.s. mendengar sambil menyemak bacaan Nabi . Ia juga termasuk dalam proses belajar .

          Nabi s.a.w. bersabda , " Ilmu itu merupakan khazanah (perbendaharaan) anak kuncinya ialah bertanya . Kerana itu bertanyalah kamu, kerana dengan bertanya itu akan diberikan ganjaran empat golongan . ( Iaitu ) orang yang bertanya , orang yang mengajar , orang yang mendengar dan orang yang mencintainya ." ( Riwayat Abu Na'im daripada Sayidina Ali )

          Hadith : Rasulullah s.a.w bersabda yang maksudnya:”Jadikanlah dirimu orang alim (berilmu) atau orang yang menuntut ilmu atau orang yang selalu mendengar pengajaran atau orang yang mencintai (tiga golongan yang tersebut) dan janganlah engkau menjadi dari golongan yang kelima, yang dengan sebabnya engkau akan binasa.”

          (Riwayat al-Bazzar).

          Pengajaran hadis:

          i) Ilmu menduduki darjat yang tinggi di sisi manusia dan juga di sisi Allah S.W.T. Orang yang berilmu akan dimuliakan oleh penduduk langit dan bumi sebaliknya bagi orang yang tidak berilmu. Oleh itu setiap mukmin hendaklah berusaha mempertingkatkan kemajuan dirinya sama ada :

          a) Menjadikan dirinya orang alim (berilmu) yang mengajarkan ilmunya kepada orang lain

          b) Menjadi orang yang belajar (menuntut ilmu)

          c) Mendengar atau mengikuti majlis-majlis ilmu.

          d) Menghormati atau mencintai salah satu atau ketiga-tiga golongan di atas dengan menurut jejak langkah mereka.

          ii) Dengan adanya sifat-sifat yang disebutkan di atas maka kehidupan seseorang itu akan sentiasa terjamin untuk mendapat keselamatan dan kebahagiaan jasmani atau rohani kerana ia sentiasa berada dalam jagaan ilmu pengetahuan yang memimpinnya ke jalan yang benar dan memberinya kesedaran untuk memilih antara yang baik dan yang buruk.

          iii) Manakala mereka yang tidak termasuk dalam golongan tersebut atau yang dipanggil masyarakat sebagai ‘bodoh sombong’ maka mereka adalah golongan yang bakal mendapat kebinasaan kerana mereka tidak ada pimpinan yang dengannya dapat memandu kepada kebaikan melainkan hidup terumbang ambing dan tenggelam dalam kesesatan.

          Wassalam

          Sumber: Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim)

          Sabtu, Mei 24, 2014

          Mujahadah- Pahit yang Awal, Manis di Penghujung

          Mujahadah itu amat payah kerana Syurga Allah itu sangat indah. Mujahadah itu pahit pada permulaannya sahaja. Kemanisannya akan dirasai saat kaki sudah bertapak di Syurga Ilahi nanti. (Allahumma Ameen!).

          Pernahkah kita merasai gula-gula yang pahit pada mula kita menggigitnya, namun, manis bila kita sudah mengunyahnya? Begitulah mujahadah. Hanya pada permulaannya saja, mungkin, kita akan rasa keperitan dan kepahitan. Kerana, Allah mahu menguji, apa benar mujahadah kita kerana-Nya? Sebab itu, Dia datangkan ujian dan cubaan untuk kita, yang bergelar hamba-Nya.

          “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (Surah al-Ankabuut : 2)

          Bagaimana mungkin kita hanya bergoyang kaki saja di dunia ini, kemudian, mati dan terus boleh masuk Syurga? Andai begitu, senangnya mahu masuk Syurga! Tidak perlu kepada mujahadah dan sebagainya. Namun, hakikatnya adalah sebaliknya. Syurga Allah itu terlalu mahal dan untuk mendapatkan sesuatu yang mahal, perlu kepada pengorbanan yang bersungguh-sungguh. Iaitu, mujahadah!

          Andai kita selak kisah cinta dalam lipatan sejarah, pasti kita akan bertemu dengan nama insan-insan hebat yang mana, Syurga menunggu kehadirannya. Bagaimana mereka bertemu dengan kebenaran setelah menentang Islam itu sendiri? Bagaimana hati mereka diketuk dengan sapaan hidayah-Nya, setelah mereka membunuh ramai insan yang tidak berdosa?

          Kita ini sering leka dengan maksiat. Kita ini sering terlupa dengan nikmat yang dibuai dunia. Kita ini sering alpa dengan dosa-dosa yang pernah kita lakukan. Hingga semua itu, menutup mata hati kita untuk melihat dan mengenal cinta Allah yang sebenar.

          “Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (Surah al-Israa’ : 72)

          Biarlah permulaan penghijrahan hidup kita dihiasi dengan ujian, dugaan dan cubaan sepanjang kita menuju ke arah mujahadah kerana-Nya. Asalkan di akhir natijah hidup kita nanti, Syurga Allah yang bakal kita kecapi. InsyaAllah.

          Jika kita yakin dan percaya dengan rahmat dan kasih sayang Allah, maka, kita akan dihinggapi rasa ketenangan sentiasa. Tidak ada gundah yang tidak berpenghujung. Tidak ada rasa sedih dan resah yang tidak akan berakhir. Ujian dan dugaan akan terus datang untuk menguji kita. Semua itu hanya akan berakhir bilamana nafas kita di dunia ini juga berakhir.

          “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Surah al-Mulk : 2)

          Imam Hambali pernah ditanya oleh anaknya, “Ayah, bila kita boleh berehat?”

          Maka, jawab Imam Hambali, “Kita hanya akan berehat bila kita benar-benar sudah menjejak ke Syurga”.

          MasyaAllah! Jadi, dunia ini adalah tempat untuk kita berpenat! Kerana Syurga adalah tempat rehat kita yang sebenar-benarnya!

          Imam al-Ghazali pernah mengatakan bahawa seseorang tidak akan dapat menjadi hamba Allah dengan sebenarnya jika masih mencintai dunia.

          Allah s.w.t. mengingatkan kita “dan tidak (dinamakan) kehidupan dunia melainkan permainan yang sia-sia dan hiburan yang melalaikan.” (Surah Al-An’am, 6:32)

          Wassalam

          Sumber: JAKIM

          Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...